Kekalahan Menghadapi Film Jejak Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, August 21, 2020

Kekalahan Menghadapi Film Jejak Khilafah


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Tanggal 1 Muharram 1442 H, tentunya menjadi momen paling bersejarah bagi kaum muslimin. Betapa tidak! Selain peristiwa hijrah Nabi Saw dari Mekah ke Madinah, ada peristiwa penayangan sebuah film dokumenter yang istimewa. Yakni film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). 

Memang sih, banyak bertebaran film - film dokumenter yang bernuansa Islam. Hanya saja yang betul - betul mengulas detail hubungan nusantara dengan Khilafah Islam, bahkan disertai data - data akurat, ya hanya ada di film ini, Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Melalui film tersebut telah ditemukan mata rantai sejarah yang hilang dari hadirnya Islam di nusantara. 

Tentunya benak kita bertanya - tanya, apakah para mubaligh Islam di nusantara ujug - ujug datang menyebarkan Islam lantas tiba - tiba muncul sekian banyak Kesultanan di nusantara?  Sejarah Islam hadir di nusantara selama ini didistorsi. 

Tiba - tiba tatkala umat Islam antusias melihat film JKDN ini, terjadi pemblokiran. Tertera keterangan bahwa ada keluhan hukum dari pemerintah atas film JKDN. Ibrah yang bisa diambil adalah bahwa suatu kebenaran betapapun dihadang justru semakin muncul ke permukaan. Umat Islam di negeri ini semakin melek bahwa kapitalisme di tengah - tengah mereka saat ini adalah berbenturan dengan Islam. Justru umat Islam akan semakin menjauh dari sistem sekuler-kapitalis ini. Umat Islam semakin mendekat kepada perjuangan Khilafah. Fenomena demikian justru adalah kemenangan bagi dakwah Islam. Ini yang pertama. 

Yang kedua, pemblokiran film JKDN ini menunjukkan ambiguitas dan kekalahan intelektual rejim. Rejim melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah melaunching revisi buku - buku pelajaran Agama Islam dari konten yang dianggap radikal, yakni konten Khilafah dan Jihad. Bahkan Kemenag berani menghilangkan materi Khilafah dari fiqih dan cukup ada di pelajaran sejarah. Eh... ketika ada film sejarah JKDN, kok malah ada pihak-pihak yang kebakaran jenggot. Mestinya kan pada woles saja, wong katanya Khilafah dalam kotak sejarah masa lalu. Justru pihak-pihak tertentu sibuk memblokirnya. Apakah ada yang takut "singgasana" akan goyah? Agak ironi juga, masak kekuasaan takut dengan film. Betapa rapuh. 

Benar, dulu Sultan Abdul Hamid II menjadi berang terhadap rencana pemutaran film penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw karya Voltaire oleh Inggris dan Perancis. Sultan Abdul Hamid II mengobarkan jihad melawan Inggris dan Perancis. Akhirnya Inggris dan Perancis ketakutan dan mengurungkan niatnya. Pertanyaannya, apakah Khilafah Utsmaniyah waktu itu takut pada film?

Sesungguhnya film Voltaire tersebut berisi penghinaan kepada Nabi Saw. Artinya film tersebut berisi kebencian dan penistaan terhadap ajaran Islam. Tentu saja Khilafah sebagai negara penerap dan penjaga Islam punya kewajiban untuk membela kemuliaan Islam. Justru jika Sultan Abdul Hamid II diam saja, tentu akan disangsikan apakah kekuasaannya itu masih berbentuk Khilafah. Di sisi yang lain, penistaan Islam akan terus menjadi. Bangsa - bangsa kafir semakin berani terhadap Islam dan kaum muslimin. Hal tersebut terbukti, ketika Khilafah berhasil diabolish, penjajahan dan penistaan terhadap Islam terus berlangsung hingga mereka berhasil menjadikan kaum muslimin mengikuti jalan hidup mereka.

Film JKDN itu film intelektual. Memaparkan sejarah apa adanya berdasarkan data. Mestinya rejim menghadapinya juga dengan data sejarah yang dipunyainya. 

Umat Islam pada soal film JKDN ini, semakin bisa melihat ambiguitas kekuasaan yang ada saat ini. Pemutaran film JKDN yang mencerdaskan dan mencerahkan ini tampak sulit diakses, sedangkan film - film dan ada banyak konten - konten yang negatif seperti pornografi dan pornoaksi justru tetap bebas bertengger di youtube. 

# 21 Agustus 2020

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here