Ketergantungan Utang Luar Negeri Yang Korosif - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, August 21, 2020

Ketergantungan Utang Luar Negeri Yang Korosif


Lukman Noerochim (stafsus FORKEI)

Utang Indonesia terus bertambah. Sejumlah ahli khawatir akan ketergantungan utang Indonesia. Berdasarkan informadi yang penulis terima, Bank Dunia kucurkan lagi pinjaman Rp3,6 triliun ke RI untuk tangani corona. Karena pertambahan utang baru ini, Bank Indonesia mencatat total utang luar negeri  Indonesia hingga kuartal I 2020 mencapai US$389,3 miliar atau sekitar Rp6.371 triliun (asumsi kurs Rp16.367 per dolar AS). Pada periode ini, utang negeri kita terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$183,8 miliar dolar. Kemudian, utang sektor swasta, termasuk di dalamnya BUMN sebesar US$205,5 miliar.

Kita pahami, pada realitasnya utang luar negeri tidak dapat dilepaskan dari bunga (riba). Padahal Islam dengan tegas telah mengharamkan riba itu. Riba adalah dosa besar yang wajib dijauhi oleh kaum muslimin dengan sejauh-jauihnya. Allah SWT berfirman :

وأحل الله البيع وحرم الربا

Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba..." (Qs. al-Baqarah [2]: 275).

Utang luar negeri sebenarnya sangat melemahkan dan membahayakan sektor keuangan (moneter) negara pengutang. Utang jangka pendek, berbahaya karena akan dapat memukul mata uang domestik dan akhirnya akan dapat memicu kekacauan ekonomi dan keresahan sosial. Sebab bila utang jangka pendek ini jatuh tempo, dengan pembayarannya menggunakan mata uang Dollar yang merupakan hard currency. Maka dari itu, negara penghutang akan kedulitan untuk melunasi hutangnya dengan dolar AS karena mengharuskan penyediaaan mata uang US tersebut, (untuk pembayaran utang Swasta, ini akan berdampak pada keterpaksaan pembelian dolar, dimana dolar akan dibeli dengan harga yang sangat tinggi terhadap mata uang lokal, sehingga akhirnya akan membawa kemerosotan nilai mata uang lokal). Untuk utang jangka panjang, juga berbahaya karena makin lama jumlahnya semakin mencengkram, yang akhirnya akan dapat melemahkan anggaran belanja negara dan membuatnya makin kesulitan dan terpuruk atas utang-utangnya. Disitulah negara-negara Donor makin memaksakan kehendak dan kebijakannya yang sangat merugikan kepada negara.

Jika dianalisis, utang luar negeri sebenarnya sangat melemahkan dan membahayakan sektor keuangan (moneter) negara pengutang. Utang jangka pendek, berbahaya karena akan dapat memukul mata uang domestik dan akhirnya akan dapat memicu kekacauan ekonomi dan keresahan sosial. Sebab bila utang jangka pendek ini jatuh tempo, dengan pembayarannya menggunakan mata uang Dollar yang merupakan hard currency. 

Maka dari itu, negara penghutang akan kedulitan untuk melunasi hutangnya dengan dolar AS karena mengharuskan penyediaaan mata uang US tersebut, (untuk pembayaran utang Swasta, ini akan berdampak pada keterpaksaan pembelian dolar, dimana dolar akan dibeli dengan harga yang sangat tinggi terhadap mata uang lokal, sehingga akhirnya akan membawa kemerosotan nilai mata uang lokal). Untuk utang jangka panjang, juga berbahaya karena makin lama jumlahnya semakin mencengkram, yang akhirnya akan dapat melemahkan anggaran belanja negara dan membuatnya makin kesulitan dan terpuruk atas utang-utangnya. Disitulah negara-negara Donor makin memaksakan kehendak dan kebijakannya yang sangat merugikan kepada negara.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here