Ketika Sekulerisme - Kapitalisme Bergerak Sistematis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, August 6, 2020

Ketika Sekulerisme - Kapitalisme Bergerak Sistematis


Agung Wisnuwardana [Strategic And Military Power Watch]Pemikiran Barat yang berbasis sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan, tumbuh dan mekar menjadi sumber kebangkitan negara-negara Eropa. Melalui penjajahan, mereka kemudian menyebarkan pemikiran mereka ke negeri-negeri Muslim. Pemikiran yang berkaitan dengan pemerintahan dan ekonomi merupakan dua pemikiran utama yang paling agresif ditanamkan oleh penjajah.Pemikiran politik dalam bentuk sistem demokrasi dipropagandakan bahwa ia tidak bertentangan dengan Islam, agar dapat diterima oleh umat Islam. Tujuannya tidak lain agar penjajahan mereka terhadap negeri-negeri Islam tetap lestari.Pemikiran dan sistem ekonomi yang telah berpengaruh kuat pada umat Islam juga diserang secara masif. Pasalnya, sistem tersebut menghambat mereka untuk mencengkeram kekayaan umat Islam. Sebagai contoh, sebagaimana yang dijelaskan Pamuk:Lembaga kredit dan keuangan pada [Kekhilafahan] Usmani tetap mempertahankan prinsip Islam mereka dan sebagian besar tidak terpengaruh oleh perkembangan di Eropa sampai akhir Abad Ketujuh Belas. Jaringan kredit yang padat berkembang di pusat-pusat Kota Usmani dan sekitarnya meskipun saat itu riba tetap dilarang. Pengusaha Muslim terus menggunakan berbagai bentuk kemitraan bisnis yang berkembang di sebagian besar Dunia Islam. Namun, dengan meningkatnya integrasi ekonomi wilayah Usmani dengan Eropa, lembaga-lembaga keuangan Eropa baik pemerintah ataupun swasta mulai memberikan pengaruh selama abad ke-18. Karena itu, selain mempromosikan sistem demokrasi secara intensif, mereka juga aktif mempromosikan sistem ekonomi kapitalisme baik berbagai level melalui kaki tangan mereka, dan orang-orang yang telah terpesona dengan pemikiran-pemikiran tersebut. Celakanya, di tengah kemunduran taraf berpikir mereka, umat Islam malah menyambut pemikiran-pemikiran tersebut dengan gegap gempita. Jadilah, pemikiran-pemikiran tersebut diadopsi dan diterapkan secara berkelanjutan hingga saat ini.Negara-negara Barat juga mendirikan berbagai lembaga internasional untuk mengontrol kegiatan ekonomi pada hampir seluruh negara di dunia. Pada konferensi Bretton Woods, di New Hampshire, tahun 1944, sejumlah negara maju sepakat mendirikan International Moneter Internasional (IMF). Secara spesifik IMF bertujuan untuk mempromosikan kerjasama moneter internasional, memfasilitasi pertumbuhan perdagangan, mempromosikan stabilitas nilai tukar, membangun sistem pembayaran multilateral dan menciptakan cadangan moneter global.Pada saat yang bersamaan, mereka juga membentuk World Bank. Tujuannya untuk memberikan pinjaman khususnya kepada negara-negara berkembang. Bentuk pinjamannya mencakup berbagai bidang seperti proyek infrastruktur, penanggulangan kemiskinan, pendidikan serta penguatan kelembagaan pemerintah dan swasta. Joseph Stiglitz menyebutkan bahwa Bank Dunia dan IMF merupakan dua lembaga yang aktif mempromosikan "Konsensus Washington," yakni serangkaian kebijakan yang mendorong deregulasi ekonomi melalui stabilisasi, liberalisasi dan privatisasi.Dalam sistem perbankan, negara-negara Barat juga mendirikan Bank for International Settlements (BIS) yang berpusat di Basel, Swiss pada tahun 1930. BIS berfungsi sebagai bank untuk bank sentral di seluruh dunia. Setiap negara dapat menyimpan sebagian dari cadangan mereka pada lembaga itu. BIS juga beroperasi sebagai wali umum dan fasilitator penyelesaian keuangan antar negara.Regulasi perbankan di dunia, termasuk yang diadopsi oleh Indonesia, mengacu pada standar yang dibuat oleh BIS, seperti Basel III yang diadopsi oleh bank-bank di Indonesia.Negara-negara Barat juga membentuk perjanjian untuk mengontrol kegiatan perdagangan internasional. Perjanjian itu disebut dengan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Pada prinsipnya perjanjian tersebut mendorong liberalisasi perdagangan bagi negara-negara anggotanya, dan menyelesaikan konflik perdagangan di antara mereka. Perjanjian tersebut juga membuat standar untuk mengatur perdagangan internasional.Pada tahun 1995, Word Trade Organisation (WTO) kemudian menggantikan peran GATT sebagai organisasi internasional yang bertanggung jawab untuk menjalankan perjanjian perdagangan internasional. WTO juga bertanggung jawab untuk menetapkan aturan baru untuk perdagangan barang dan jasa, investasi internasional dan perlindungan hak kekayaan intelektual pada negara-negara anggotanya.Dengan demikian hampir seluruh kegiatan ekonomi di dunia, termasuk di negeri-negeri Muslim telah berkiblat pada sistem ekonomi kapitalisme. Kemudian, perangkat-perangkat system—mulai dari regulasi, sumberdaya manusia, institusi pendukung hingga kurikulum pendidikan—tunduk pada sistem tersebut.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here