Manifesto untuk Indonesia: Jalan Keluar Terbebas dari Oligarki Ekonomi dan Politik - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, August 18, 2020

Manifesto untuk Indonesia: Jalan Keluar Terbebas dari Oligarki Ekonomi dan Politik


[09:23, 8/17/2020] Ust Umar: PKAD— Nampaknya bumi pertiwi yang gemah ripah loh jinawi sedang menanggung beban berat anak negeri. Akibat ulah para pemimpin yang jumawa pongah penuh arogansi. Menggunakan pembenaran berbagai kebijakan menyimpang atas nama regulasi. Keprihatinan inilah yang menjadikan Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) menggelar diskusi online via Zoom dan Live Streaming Youtube, Ahad (16/8/2020) pukul 08.00-11.30 WIB.

Tama yang menarik, “Merdeka dari Cengkraman Oligarki Berbaju Demokrasi”. Hal ini mendandakan bahwa oligarki telah bercokol dan menjadi pandemi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dr. Ahmad Yani (Politisi dan Advokat) mengungkapkan gambaran jelas bahwa perubahan politik di negeri in…
[09:23, 8/17/2020] Ust Umar: Manifesto untuk Indonesia: Jalan Keluar Terbebas dari Oligarki Ekonomi dan Politik

PKAD— Tak bisa dipungkiri ketidakberdayaan semua bidang ipoleksosbudhankam telah menjadi-jadi. Kondisi ekonomi telah nyata menghadapi bahkan masuk ke dalam resesi. Pelemahan ekonomi berpotensi memunculkan potensi kerawanan sosial bukan mustahil terjadi. Dibutuhkan sebuah keseriusan dan keterbukaan mewujudkan solusi tuntas dan komprehensif. Untuk itula Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) menggelar diskusi online via Zoom dan Live Streaming Youtube, “Merdeka dari Cengkraman Oligarki Berbaju Demokrasi”, Ahad (16/8/2020) pukul 08.00-11.30 WIB.

Pemaparan mendalam berkaitan cengkraman oligarki di bidang ekonomi yang akhirnya masuk ke ranah politik disampaikan Muhammad Hatta, SE, M.Si (Peneliti Ekonomi Syariah). Banyak fakta moneter, suku bungan, dan gambaran berkaitan kemunculan oligarki. Biang dari oligarki ini muncul tatkala kepetingan pemilik modal lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat.

“Para pemilik modal ingin memberi suku bunga terbesar. Makanya BI rate tidak berani menurunkan meski sektor riil menginginkan suku bunga rendah,”ungkapnya dalam presentasi.

Muhammad Hatta menambahkan bahwa pendapatan dalam negeri Indonesia didominasi sektor penerimaan pajak. Pajak yang tinggi dari pajak penghasilan dan pertambahan nilai. Ujung dari itu semua karena ketidaktersediaan dana yang cukup yaitu utang.

Hatta pun mengurai solusi fundamental dengan tawaran dari ekonomi Islam. Hal ini dikarenakan ekonomi Islam memiliki instrumen yang baik dengan melarang segala bentuk spekulatif dan ribawi.

“Larangan menimbun harta kekayaan, sehingga tidak ada ketimpangan sebagaimana dalam kapitalisme. Satu persen orang kaya menguasai mayoritas. Pun didukung dengan instrumen mata uang dinar dan dirham,”tandasnya.

Pesan peting yang disampaiakan Hatta ialah ketika ekonomi syariah diterapakan tidak akan ada oligarki dalam konteks politik dan ekonomi. Sehingga ekonomi menjadi berkah, berkembang, dan berkelanjutan.

Farid Wajdi (Pimred Media Umat) pun mengetengahkan hal yang sama, bahwa sistem politik yang diadopsi negeri ini tidak bisa dilepaskan dari sistem politik global.

“Penindasan kelompok kuat terhadap yang lemah. Oligarki muncul dengan memanfaatkan pilar-pilar demokrasi sendiri. Mereka juga mengauasai media,”ujarnya.

Farid menyanyangkan sikap partai polirik yang diharapkan mampu melakukan kritik malah lumpuh. Hal itu dikarenakan dikendalikan pemilik modal. 

“Termasuk intelektual, cendekiawan, dan agamawan juga dikuasai oligarki. Faktanya oligarki melumpuhkan sistem demokrasi sendiri,”tambahnya.

Poin pentingnya, kapitalisme memberikan kewenangan kepada pemilik modal mengendalikan politik, ekonomi, dan hukum.

Acara berlangsung lancar. Banyak dialog konstruktif antara pembicara dan peserta. Tujuan acara ini bisa menjadi manifesto jalan keluar bagi Indonesia untuk merdeka dan bebas dari cengkaraman oligarki. Satu hal yang dijadikan solusi ialah syariah Islam dalam bingkai Khilafah.[hn]

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here