Memuliakan Dan Mengagungkan Rasulullah Secara Totalitas - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, August 29, 2020

Memuliakan Dan Mengagungkan Rasulullah Secara Totalitas



Eko Susanto

Sungguh layak kita selalu merenungkan kembali makna keteladanan Rasulullah saw. baik sebagai seorang pribadi paripurna maupun sebagai pemimpin keluarga dan pemimpin negara.

Untuk itu, kita sangat perlu memahami hakikat meneladani Nabi saw. dalam segala aspeknya, termasuk dalam hal kepemimpinan politik/negara, dan tidak berhenti hanya pada tataran moral/akhlak belaka. Sekadar mengajak masyarakat untuk mengikuti akhlak Nabi saw. secara pribadi, sembari mengabaikan sebagian besar aspek syariah lainnya yang juga dicontohkan beliau (seperti menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam ruang bernegara), adalah bentuk kelalaian, bukan totalitas mengagungkan pribadi beliau. Tentu, ini bertolak belakang dengan cara mencintai Rasulullah SAW, yakni memuliakan dan mengagungkan (takrim[an] wa ta'zhim[an]) Baginda Rasulullah saw.

Dari aspek kemanusian, Rasulullah saw Muhammad saw adalah seorang manusia biasa yang tidak berbeda dengan manusia lainnya. Akan tetapi ada perkara amat pentig yang membedakan beliau dengan manusia lainnya. Yakni, beliau telah dipilih Allah SWT sebagai nabi dan rasul terakhir, yang kepadanya diwahyukan al-Quran. Allah SWT berfirman:

]قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ[

Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan yang Esa." (QS al-Kahfi [18]: 110).

Allah SWT mewahyukan al-Quran kepada beliau sebagai penjelas, pemutus perselisihan, petunjuk dan rahmat bagi kaum Mukmin (Lihat antara lain: QS an-Nahl[16]: 64; Fushshilat [41]: 6; an-Najm [53]: 4).

Dengan demikian, makna sesungguhnya dari mencintai Rasulullah Muhammad saw adalah diturunkannya wahyu Allah SWT berupa risalah Islam sebagai rahmat untuk kebaikan dan kebahagiaan umat manusia (Lihat: QS al-Anbiya' [21]: 107). Karena itu, kita wajib menjadikan semua yang berasal dari beliau –baik ucapan, perbuatan, maupun taqrir beliau- sebagai dalil dalam menetapkan perkara. Kita wajib mentaati semua lperintah dan larangannya. Sebab, semuanya merupakan wahyu Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

]وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا[

Apa saya yang Rasul bawa kepada kalian, terimalah. Apa saja yang beliau larang atas kalian, tinggalkanlah (QS al Hasyr [59]: 7).

Jelas, Rasulullah saw. hadir untuk umat ini dengan membawa petunjuk dan tuntunan hidup. Bahkan inilah hakikat kehadiran Rasul saw. di tengah-tengah kita. Karena itu, satu-satunya jalan untuk mencintainya dan mewujudkan visi rahmatan lil 'alamin adalah dengan cara melaksanakan semua tuntunan yang beliau bawa (yakni Islam yang terdiri dari akidah dan syariahnya) secara kaffah sekaligus menerapkannya dalam kehidupan nyata baik dalam ruang pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun bernegara. Inilah makna hakiki dari mencintai dan meneladani Rasulullah saw.



 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here