Parpol Islam Jangan Pragmatis, Jangan "Basa- Basi" - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, August 21, 2020

Parpol Islam Jangan Pragmatis, Jangan "Basa- Basi"


Aminudin Syuhadak (Direkrur LANSKAP)

Ketika ideologi partai politik adalah pragmatisme, maka yang terjadi adalah kegagalan pendidikan politik ideologis. Sikap pragmatis bukan menguntungkan umat Islam dan partai Islam, justru merugikan. Pragmatisme akan mendegradasi tujuan dan cita-cita perjuangan Islam. Siapapun tak dapat menyangkal, pragmatisme berarti harus merelakan diri menyesuaikan diri dengan keadaan/fakta; artinya melepaskan nilai-nilai dasar perjuangan dan ideologi partai yang telah digariskan. Karakter dasar partai Islam akan luntur. Memang bisa saja berdalih, itu semua masih dalam koridor Islam. Namun, dalih ini sebenarnya hanya pemanis
mulut, bukan arus utama.

Proses pendidikan politik masyarakat mandeg. Apa yang dilihat oleh masyarakat hanyalah dagelan elit politik. Partai-partai hanya menyapa rakyat ketika akan Pemilu atau Pilkada. Kaderisasi, penanaman Islam sebagai way of life, dan pemikiran politik tidak tergarap. Sumberdaya hanya dikerahkan demi suara. Wajar belaka jika kesadaran politik rakyat tidak meningkat.

Adapun kondisi saat ini menjadi lebih parah dengan adanya ideologi pragmatisme yang dijadikan pegangan partai-partai, termasuk partai yang menyebut partai Islam. Dalam situasi politik yang didominasi oleh kepentingan sesaat seperti sekarang, bukan persoalan mudah untuk tidak tergiring dalam arus pragmatisme. Apalagi jika orang-orang yang menjadi anggota partai politik Islam tidak memiliki tameng diri yang kuat. Permasalahannya, pragmatisme seperti sudah menjadi budaya sehari-hari yang sudah kadung mendarah daging.

Namun, bukan berarti itu tidak bisa dihindari oleh partai-partai Islam. Caranya, partai-partai harus kembali memahami asas perjuangannya, yakni Islam dan cita-cita Islam itu sendiri, bagaimana harus diterapkan. Partai Islam harus secara lantang menolak berbagai UU yang lahir dari sekularisme dan
bertentangan dengan Islam. Partai Islam harus terus melakukan koreksi terhadap berbagai kebijaan keliru penguasa (muhasabah hukkâm). Para anggota partai Islam harus ingat betul bahwa mereka berjuang untuk Islam, karenanya mereka bergabung dengan partai Islam. Jangan sampai terbalik, dengan dalih Islam, mereka berebut mencari penghidupan dengan duduk sebagai wakil rakyat, setelah
itu lupa akan tujuan pembentukan partai Islam itu sendiri.

Karenanya, jika partai-partai Islam ingin meraih dukungan yang signifikan, tidak ada jalan lain, mereka harus mendefinisikan dirinya kembali sebagai partai Islam sesungguhnya, bukan sekadar nama belaka. Partai-partai Islam lama harus jantan dan berani mengoreksi diri, bahwa apa yang mereka lakukan sebelumnya tidak tepat. Posisi abu-abu yang selama ini mendominasi harus segera disingkirkan. Adapun bagi partai-partai Islam baru, mereka pun harus berani mendobrak kebuntuan saluran aspirasi Islam dan umat Islam yang selama ini tertutup. Jatidiri sebagai partai Islam sejati harus ditunjukkan. Jangan sekali-kali pernah meniru perilaku salah yang pernah terjadi sebelumnya. Tegas menyatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Jadikan parlemen sebagai mimbar dakwah. Konsekuensinya, berbagai hal yang bertentangan dengan syariah Islam akan ditentangnya.

Dalam kaitan itu, pembinaan kader-kader partai Islam tidak bisa diremehkan. Partai Islam harus melahirkan kader-kader pejuang Islam, bukan kader karbitan yang didapat di jalanan. Partai-partai Islam harus selalu mewaspadai penumpang - penumpang gelap yang berusaha mendompleng partai untuk kepentingan uang dan kepentingan pribadi. Partai Islam akan besar jika didukung oleh ideologi Islam yang kuat dan kader pejuang Islam yang mumpuni.

Kini saatnya partai-partai Islam meniti jalan Islam yang sesungguhnya, sesuai khittahnya sebagai partai pembawa suara Islam (shawt al-Islam), bukan sekadar basa-basi.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here