Peradaban Kapitalisme Tidak Memuliakan Perempuan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, August 29, 2020

Peradaban Kapitalisme Tidak Memuliakan Perempuan



Dede Wahyudin (Tabayyun Center)

Menurut Will Durant, doktrin peradaban Yunani hanya mengizinkan lelaki saja yang memiliki hak-hak hukum pada masa-masa awal negara Republik. Adapun pada masa kini, sebagai hasil dari gerakan pembebasan perempuan, Barat kapitalis banyak menyediakan lini ekspresi dan kiprah bagi perempuan di dunia publik. Bahkan Barat acapkali mendorong dan memaksa perempuan untuk terjun di dunia publik demi mencapai status kesetaraan dan keadilan gender.

Di sisi lain, asumsi masa lampau tentang perempuan sebagai obyek masih belum terhapus. Akibatnya, gerakan pembebasan perempuan di Barat acapkali menjadi sarana meluasnya pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan.

Kebebasan ekspresi perempuan telah membuat perempuan sering menjadi obyek kekerasan dan pelecehan. Aktris kenamaan Hollywood, Nicole Kidman, di hadapan House Foreign Affairs Sub-Committee menyatakan bahwa Hollywood mungkin telah turut memberikan andil pada kekerasan terhadap perempuan, dengan menggambarkan perempuan sebagai pihak yang lemah dan menjadi objek seksual.

Undang-undang di Amerika Serikat yang diasaskan sistem sekular liberal, telah menyebabkan perempuan banyak mengalami pelecehan. Sebuah kajian University Rochester, menempatkan AS sebagai negara dengan angka perkosaan tertinggi di kalangan negara maju. Di AS rata-rata 1,3 orang perempuan diperkosa setiap menit. Demikian seperti yang dilaporkan oleh The Help Line USA, Inc. Di militer AS, sepertiga serdadu perempuan juga menjadi korban pelecehan seksual. Senator AS dari Negara Bagian Missouri, Claire McCaskill, mengatakan, "Pada tahun lalu terjadi sekitar 3.000 kasus serangan seksual terhadap serdadu perempuan AS."

Selain angka perkosaan, di AS, angka remaja melahirkan bayi di luar pernikahan juga sangat tinggi. Direktur CDC Center for Disease Control atau Pusat Pengendalian Penyakit, Dr. Tom Frieden, menyatakan, "Nyatanya masih terlalu banyak remaja Amerika melahirkan bayi."

Data tahun 2014 menyebutkan hampir 250 ribu bayi dilahirkan dari remaja berusia antara 15 dan 19 tahun. Angka itu kira-kira empat kali jumlah di Inggris dan tujuh kali jumlah di Jepang.

Masyarakat Eropa dengan segudang klaimnya untuk membela hak-hak perempuan juga tidak mampu menjaga perempuan dari kekerasan. Jumlah perempuan dalam sebuah keluarga Eropa yang mengalami kekerasan fisik dan mental sangat mengkhawatirkan. Di Inggris hampir setiap menit, perempuan menghubungi polisi karena berada dalam bahaya akibat kekerasan di keluarga.

Dalam bidang ekonomi, abad partisipasi perempuan yang dicanangkan mantan Menlu AS, Hillary Clinton, telah memaksa perempuan untuk berkiprah di lini bisnis. Bahkan dengan kapitalisme pasar saat ini, para perempuan dipaksa bekerja, yang sering membuat mereka menderita. Mereka harus rela meninggalkan anak-anak dan keluarganya untuk menjadi buruh pabrik atau tenaga kerja migran dengan upah murah dan rawan terhadap pelecehan dan kekerasan.

Para perempuan juga diaruskan untuk menggeluti pekerjaan yang mengeksploitasi kecantikannya seperti menjadi model iklan dengan bayaran yang sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan perusahaan-perusahaan kapitalis yang menyewa mereka. Bahkan mereka disiksa dengan stereotype Barat, bahwa cantik itu harus bertubuh langsing, tinggi, mulus dan berkulit putih sehingga membuat mereka terpedaya dengan diet ketat dan produk-produk kosmetik berbahaya.

Begitulah cara Barat memperlakukan perempuan. Walhasil, kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan tidak pernah bisa sirna dari dunia yang dipimpin Barat kapitalis saat ini.

Barat dengan sekularismenya, selalu menyerang Islam dan menyampaikan bahwa Islam telah menindas perempuan. Sejatinya, kampanye hitam Barat tentang Islam hanya untuk menutupi kegagalannya dalam melindungi dan menghormati perempuan. Tatkala Islam mewajibkan hijab, Barat menganggapnya sebagai sesuatu yang menindas. Padahal sejatinya pakaian minim pengumbar aurat yang dijajakan Baratlah yang telah menimbulkan penindasan, pelecehan, bahkan kekerasan terhadap perempuan.

Padahal perempuan Muslim sendiri tidak merasa tertindas oleh aturan Islam. Hal ini terungkap dalam jajak pendapat yang dilakukan The Gallup Organization dan dilaporkan dalam New York Times: Muslim Women Don't See Themselves as Oppressed, Survey Finds. Hijab, kerudung dan burqa yang dilihat Barat sebagai alat penindasan, tidak pernah disebut-sebut dalam jawaban para perempuan dalam survei tersebut. Bahkan mayoritas responden menyebutkan 'keterikatan terhadap nilai-nilai moral dan spiritual' sebagai aspek terbaik dalam masyarakat mereka.

Sebagai agama yang mulia, Islam memiliki seperangkat aturan khas dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan. Aturan Islam memperlakukan laki-laki dan perempuan untuk memuliakan keduanya. Demikian pula aturan yang ditujukan secara khusus bagi perempuan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here