Sang Khalifah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, August 3, 2020

Sang Khalifah



Hadi Sasongko 

Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 63 H. Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams. Ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar al-Khaththab (yang dikenal dengan julukan Abu Hafhs). Diriwayatkan bahwa ketika Abdul Aziz bin Marwan hendak menikahi Ummu Umar bin Abdil Aziz, ia (Abdul Aziz) berkata kepada pengasuhnya, "Kumpulkanlah untukku empat ratus dinar dari hartaku yang paling bersih, karena aku akan menikahi keluarga yang baik."

Lalu ia pun menikahi Ummu Umar bin Abdil Aziz. Namanya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khaththab. Ashim adalah putra Umar bin al-Khaththab yang menikah dengan seorang pemudi yang menolak menambahkan air pada susu perasan ketika diperintahkan oleh ibunya. Saat itu ia berkata kepada Ibunya, "Jika Umar tidak melihat kita maka Allah pasti melihat kita."

Hal itu kemudian didengar oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Lalu beliau memerintahkan salah seorang anaknya, Ashim, untuk menikahi pemudi itu karena sifat amanah yang dia miliki.

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada tahun 99 H, pada hari wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik. Khalifah Sulaiman telah mewasiatkan Kekhilafahan kepada Umar ketika ia ditimpa sakit demam. Khalifah Sulaiman tidak menemukan orang lain sebagai calon khalifah kecuali Umar bin Abdul Aziz.

Saat Sulaiman wafat dan sudah dikafani, ia dishalatkan dengan diimami oleh Umar. Saat penguburan jenazahnya telah selesai, dibawalah ke hadapan Umar bin Abdil Aziz beberapa tunggangan khas Khilafah, yakni unta dan kuda. Umar berkata, "Apa ini?" Orang-orang menjawab, "Ini adalah kendaraan Khalifah." Umar berkata, "Jauhkan kendaraan itu dariku. Aku tidak membutuhkannya. Kemarikanlah keledaiku." Beliau pun menaikinya dan pulang ke rumah dalam keadaan bingung.

Pelayannya berkata, "Tampaknya Anda sedang bingung. Ada apa gerangan?" Umar menjawab, "Aku bingung karena urusan seperti ini (maksudnya Kekhilafahan). Sungguh tidak ada satu umat Muhammad pun di timur dan barat kecuali ia memiliki hak yang wajib aku tunaikan, tanpa harus menunggu ia menyuratiku atau menuntutnya dariku."

Khulafaur Rasyidin kelima ini masuk masjid, kemudian naik mimbar dan berkata, "Saudara-saudara, aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa diminta pandangan terlebih dulu, juga bukan karena permintaanku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiat yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang khalifah yang kalian sukai."

Namun, orang-orang serentak berkata, "Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin, dan kami ridha kepadamu. Karena itu, uruslah urusan kami dengan kebaikan dan keberkahan."

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pujian sanjungan kepada Allah dan membacakan shalawat kepada Nabi saw., lalu berkata, "Aku berwasiat kepada Anda semua untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti segala perkara, dan tidak bisa diganti dengan apapun. Beramallah untuk akhirat karena siapa saja yang beramal untuk akhiratnya maka Allah pasti mencukupi dunianya. Bereskanlah keadaan kalian ketika tidak ada siapa-siapa, niscaya Allah akan membereskan keadaan kalian ketika bersama orang banyak. Ingatlah kematian dan bersiap-siaplah dengan baik (untuk menyambut kematian) sebelum kematian itu benar-benar datang, karena kematian akan menghancurkan segala kenikmatan. Sungguh umat ini tidak akan berselisih karena Rabb-nya,tidak karena Nabi-Nya dan tidak karena Kitab-Nya. Mereka hanya akan berselisih karena dinar dan dirham (harta). Sungguh, demi Allah, aku tidak akan memberikan kebatilan kepada siapapun; aku tidak akan menghalangi kebenaran dari siapapun."

Lalu beliau meninggikan suaranya, "Saudara-saudara, siapa saja yang taat kepada Allah wajib ditaati. Siapa saja yang maksiat kepada Allah tidak boleh ditaati. Karena itu, taatilah aku selama aku taat kepada Allah. Jika aku maksiat kepada Allah, Anda semua tidak wajib taat kepadaku."

Kemudian Khalifah Umar masuk ke Istana. Ia memerintahkan agar semua hiasan Istana ditanggalkan. Baju-baju kebesaran Khalifah ia jual dan hasil penjualannya dimasukkan ke Baitul Mal. Ia memerintahkan agar diumumkan kepada khalayak: Siapa saja yang telah dizalimi hendaklah melaporkannya. Umar tidak membiarkan sedikitpun kekayaan yang ada pada kekuasaan Sulaiman dan apa yang ada di tangan orang-orang yang zalim kecuali ia kembalikan kepada pihak-pihak yang terzalimi. Masyarakat pun merasa senang dengan kepemimpinannya.

Diceritakan bahwa ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz selesai berpidato, ia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat tidur siang sebentar. Tiba-tiba datanglah putranya, Abdul Malik. Ia bertanya-tanya keheranan, "Amirul Mukminin, apa yang akan Anda lakukan?" Khalifah Umar berkata, "Anakku, Ayah ingin beristirahat tidur siang sebentar." Abdul Malik berkata, "Apakah Ayah akan tidur, sementara Ayah belum mengembalikan hak-hak orang-orang yang terzalimi?" Khalifah Umar kembali berkata, "Anakku, tadi malam ayah tidak tidur di rumah pamanmu, Sulaiman. Sebentar lagi, jika Ayah sudah shalat zuhur, ayah akan mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi." Sang anak berkata, "Amirul Mukminin, apakah Anda bisa menjamin bahwa Anda bisa hidup sampai waktu zuhur?" Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun berkata, "Mendekatlah, anakku sayang." Abdul Malik pun mendekat. Kemudian Khalifah Umar memeluknya dan mencium keningnya seraya berkata, "Segala pujian hanya milik Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku keturunan yang menjadi penolongku dalam menjalankan agama."

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here