Teladan Pemimpin Yang Adil - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, August 3, 2020

Teladan Pemimpin Yang Adil



Hadi Sasongko 

Ali bin Husain berkata, "Khulafa al-Mahdiyyin ada tujuh orang; 5 orang telah berlalu dan tersisa dua orang lagi. Mereka adalah: Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Ustman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz."

Ahmad bin Hanbal berkata, "Allah akan membangunkan bagi manusia pada setiap seratus tahun orang yang memperbaiki agama bagi umat ini. Kami melihat pada seratus tahun pertama ada Umar bin Abdul Aziz. Pada seratus tahun kedua ada Imam Syafii."

Khalifah Umar bin Abdil Aziz adalah seorang pemimpin yang adil. Masyarakat pun merasakan keadilan ini. Umar pernah berkata kepada rakyatnya, "Pulanglah ke negeri kalian. Aku bisa melupakan kalian di sini. Sungguh aku telah mengangkat para kepala daerah untuk kalian. Aku tidak mengatakan bahwa mereka adalah yang terbaik. Siapa saja yang dizalimi oleh kepala daerahku maka aku tidak akan mengizinkannya kecuali aku melihat kezalimannya. Demi Allah, jika aku dan keluargaku menghalangi harta ini, kemudian aku menghalanginya dari kalian, maka sungguh aku pasti termasuk orang yang kikir. Demi Allah, andai saja aku tidak hidup sesuai dengan Sunnah dan tidak menjalankan kebenaran, maka pasti aku mencintai keluhuran (aku akan bermegah-megahan)."

Khalifah Umar bin Abdil Aziz pernah mengirim para amil untuk mengajarkan agama kepada masyarakat pedalaman dan membagikan harta. Rabbah bin Hibban, amil di Madinah, berkata, "Tidak datang surat-surat kepada kami dari Umar kecuali untuk menghidupkan Sunnah, membagikan harta atau perkara yang baik. Beliau selalu menanyakan tentang keadaan semua kaum Muslim. Suatu hari datanglah sekelompok orang dari Madinah. Khalifah Umar bertanya kepada mereka, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang miskin yang tinggal di daerah ini..., ini..." Mereka berkata, 'Amirul Mukminin, mereka telah dikayakan oleh Allah karena harta yang engkau berikan dari Baitul Mal."

Diceritakan ada sekelompok orang yang naik haji mengirim surat kepada Khalifah Umar agar Ia memerintahkan pegawainya untuk menutupi Baitul Haram sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Khalifah Umar lalu menulis surat jawaban kepada mereka, "Aku memandang lebih baik biaya untuk itu (menutupi Ka'bah) aku berikan untuk menutupi perut-perut yang lapar."

Khalifah Umar selalu mengirim harta negara untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Namun, harta tersebut dikembalikan lagi karena tidak ada yang mau menerimanya (karena sudah kaya). Khalifah Umar benar-benar telah menjadikan semua rakyatnya kaya. Pada masanya, pada cetakan uang pecahan terdapat tulisan: Amarallahu bil wafa wal 'adl (Allah telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan berbuat adil).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebuah peti yang berisi baju yang terbuat dari bulu dan rantai. Ia memiliki kamar khusus untuk shalat yang tidak dimasuki oleh orang lain. Jika telah datang waktu malam, ia membuka petinya dan memakai baju serta meletakan belenggu di lehernya. Ia terus-menerus bermunajat kepada Rabb-nya dan menangis hingga terbit fajar. Khalifah Umar biasa meningkatkan kesungguhannya setelah waktu isya paling akhir sebelum witir. Jika telah witir ia tidak berbicara dengan siapapun. Ia selalu berpuasa Senin-Kamis, sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, Hari Asyura dan Hari Arafah. Ia selalu membaca mushaf al-Quran setiap hari.

Suatu hari ada seorang lelaki bernama Ibnu al-Ahtam menemui Umar bin Abdul Aziz. Ia terus-menerus menasihatinya hingga Umar pun jatuh pingsan. Jika beliau membaca al-Quran, beliau pasti menangis. Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar menangis dan bersamanya ada Fathimah. Lalu menangis pula penghuni rumah. Masing-masing dari mereka tidak mengetahui mengapa yang lain menangis. Kemudian Fathimah bertanya, "Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis?" Beliau menjawab, Fathimah, aku teringat akan perginya manusia kelak pada Hari Kiamat di hadapan Allah. Segolongan pergi ke surga dan segolongan lagi ke neraka." Kemudian Umar berteriak dan pingsan.

Setiap malam Khalifah Umar selalu mengumpulkan para fukaha. Mereka lalu mengingatkan akan kematian dan Hari Kiamat. Kemudian mereka menangis, seolah-olah di antara mereka ada jenazah. Jika Umar ingat mati maka ia akan bergetar seperti menggigilnya burung yang kedinginan. Ia menangis hingga air matanya berlinang membasahi janggutnya.

Saat Umar bin Abdil Aziz akan wafat, datanglah sepupu dan mertuanya, Maslamah bin Abdil Malik. Ia berkata, "Amirul Mukminin, sungguh engkau telah memutuskan mulut anakmu dari harta ini. Engkau telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Karena itu, harus ada sesuatu yang bisa memperbaiki kehidupan mereka. Jika engkau berwasiat untuk mereka kepadaku atau kepada keluargamu, niscaya aku akan menjamin biaya mereka, insya Allah." Umar berkata, "Dudukkanlah aku." Mereka pun mendudukkan beliau. Khalifah Umar lalu berkata, "Segala pujian hanya milik Allah. Apakah karena Allah Anda menakut-nakutiku, wahai Maslamah. Adapun yang engkau katakan bahwa aku telah menghalangi mulut anak-anakku dari harta dan aku telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, maka sungguh aku tidak menghalangi hak mereka dan aku tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan haknya. Adapun permintaanmu agar aku berwasiat kepadamu atau keluargaku maka wasiatku untuk keluargaku adalah Allah yang telah menurunkan al-Quran. Dialah yang akan mengasihi orang-orang yang salih. Keturunan Umar hanyalah dua golongan. Pertama, yang bertakwa kepada Allah. Kepada mereka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala urusan dan akan memberi mereka rezeki dari yang tidak terduga. Kedua, yang terbenam dalam kemaksiatan. Aku tidak akan menjadi orang pertama yang mendukung mereka dengan harta untuk maksiat kepada Allah."

Kemudian Umar minta agar anak-anaknya dipanggil. Lalu datanglah sekitar sepuluh orang anak laki-laki. Beliau kemudian mulai memberikan nasihat, "Anak-anakku, Ayah cenderung pada salah satu di antara dua, yaitu: kalian menjadi orang kaya dan Ayah kalian masuk neraka atau kalian menjadi fakir dan Ayah kalian masuk surga. Jika kalian fakir dan Ayah masuk surga, itu lebih Ayah cintai daripada kalian kaya sementara Ayah masuk neraka..."

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here