Tentu Beda Antara Orang Yang Memiliki Ilmu Di Lisan Dan Ilmu Yang Menghujam Dalam Kalbu - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, August 18, 2020

Tentu Beda Antara Orang Yang Memiliki Ilmu Di Lisan Dan Ilmu Yang Menghujam Dalam Kalbu

 Achmad Fathoni 


Saat kalbu merasa takut kepada Allah serta tunduk dan pasrah kepada-Nya, saat itulah jiwa merasa puas (qana'ah) dan kenyang dengan harta yang halal walau sedikit. Itulah yang menjadikan dirinya bersikap zuhud terhadap dunia (Ibn Rajab, Fadhl 'Ilmi as-Salaf 'ala al-Khalaf, I/7).


Sayang, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian sahabat Nabi SAW, "Ilmu yang pertama kali dicabut oleh Allah adalah (yang melahirkan) rasa takut kepada Allah SWT."


Karena itu Al-Hasan berkata, "Ilmu itu ada dua macam. Pertama: Ilmu yang hanya di lisan. Inilah yang akan Allah pertanyakan kepada anak Adam. Kedua: Ilmu yang menghujam dalam kalbu (yang kemudian diamalkan, pen.). Itulah ilmu yang bermanfaat."


Atas dasar itu, para ulama salaf berkata, "Ulama itu ada tiga macam. Pertama: Ulama yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya. Kedua: Ulama yang mengenal Allah tetapi tidak memahami perintah-Nya. Ketiga: Ulama yang memahami perintah Allah tetapi tidak mengenal Diri-Nya. Yang utama tentu saja yang pertama. Mereka adalah para ulama yang takut kepada Allah seraya mengamalkan dan menerapkan syariah (hukum-hukum)-Nya." (Ibn Rajab, Fadhl 'Ilmi as-Salaf 'ala al-Khalaf, I/7).


Ilmu yang bermanfaat tentu adalah ilmu yang digali dari Alquran dan as-Sunnah. Jika ilmu tidak digali dari keduanya, tentu ilmu itu tidak bermanfaat, bahkan bisa mendatangkan madharat; atau madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya.


Di antara tanda-tanda ilmu yang tidak bermanfaat adalah yang menjadikan pemiliknya merasa bangga, angkuh dan sombong. Ia menuntut ilmu semata-mata demi meraih martabat dan kedudukan yang bersifat duniawi. Dengan ilmunya ia berniat ingin menyaingi para ulama, merendahkan orang-orang awam dan berupaya menarik perhatian manusia kepada dirinya (riya dan sum'ah). Orang semacam ini memiliki sejumlah ciri antara lain: enggan menerima dan tunduk pada kebenaran; sombong terhadap orang yang menyatakan kebenaran, terutama dari orang yang dianggap rendah oleh masyarakat; tetap dalam kebatilan karena khawatir masyarakat berpaling dari dirinya jika ia merujuk pada kebenaran.


Ini tentu berbeda dengan sikap para ulama salaf. Justru karena ilmulah mereka bersikap rendah hati (tidak sombong) baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Karena itu di antara tanda-tanda orang yang ilmunya bermanfaat adalah: mereka tidak menganggap diri mereka memiliki kedudukan istimewa; tidak suka merasa dirinya suci; enggan dipuji; dan tidak sombong terhadap siapapun.


Lebih dari itu, Al-Hasan berkata, "Sesungguhnya yang disebut orang faqih (ahli agama) adalah orang yang zuhud terhadap dunia, merindukan kehidupan akhirat (surga), paham agama dan selalu sibuk dalam beribadah kepada Tuhan-Nya."


Ibn Umar juga berkata, "Orang yang ilmunya bermanfaat itu, jika ilmunya bertambah maka bertambah pula sikap tawaduk, rasa takut dan ketundukannya kepada Allah SWT." (Ibn Rajab, Fadhl 'Ilmi as-Salaf 'ala al-Khalaf, I/8).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here