Ulama Tidak Diam Menghadapi Kezaliman - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, August 3, 2020

Ulama Tidak Diam Menghadapi Kezaliman



Boedihardjo, S.H.I

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاء فِي اْلأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ

Sesungguhnya perumpamaan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit (HR Ahmad).

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Ulama itu adalah pewaris para nabi (HR Abu Dawud dan Baihaqi).

Semua keutamaan itu hanya milik para ulama yang berjalan di atas kebenaran, mencintai kebaikan, melaksanakan amar makruf nahi mungkar, mengoreksi dan menasihati para penguasa, bekerja siang-malam demi kemaslahatan kaum Muslim, memperhatikan urusan-urusan umat serta siap menanggung kesulitan dan sakit demi hal itu.

Kemulian ini ditujukan untuk para ulama pembela dan penjaga Islam; yang menghiasi diri mereka dengan akhlak para nabi serta mempresentasikan al-Quran dan as-Sunnah. Mereka amat memahami sabda Rasulullah Muhammad saw. sebagaimana dituturkan Imam al-Husain Ibnu Jalil ra., "Siapa saja yang melihat penguasa lalim menghalalkan apa yang Allah haramkan, melanggar janji Allah, menyalahi sunnah Rasulullah saw. memperlakukan hamba Allah dengan dosa dan permusuhan, kemudian dia tidak merubahnya baik dengan perbuatan maupun ucapan, maka hak bagi Allah untuk memasukkan dirinya ke dalam neraka." (HR ath-Thabrani dan Ibnu al-Atsir).

Rasulullah saw. bersabda:

صِنْفَانِ مِنَ النَّاسِ اِذَا صَلُحَا صَلُحَ النَّاسُ وَاِذَا فَسَدَا فَسَدَ النَّاسُ: اَلْعُلَمَاءُ وَاْلاُمَرَاءُ

Ada dua kelompok manusia, jika keduanya baik maka baiklah manusia, dan jika keduanya rusak maka rusaklah manusia: mereka adalah ulama dan umara (HR Abu Nua'im).

Apabila berhadapan dengan para penguasa berperilaku lalim dan tidak bermoral, menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, maka para ulamanya hanya diam, tidak mengingkari, apalagi menasihati para penguasa tersebut. Mereka tidak berusaha mencari selamat buat dirinya.

Para ulama itu tidak berpandangan bahwa diamnya mereka di hadapan kelaliman penguasa merupakan hikmah. Ironisnya, kita menyaksikan sebagian ulama itu, jika memberikan nasihat dalam sebuah kesempatan, nasihatnya mematikan hati bukan menghidupkannya. Di antara mereka bahkan ada yang dengan penuh semangat menyerang siapa saja menjelaskan kerusakan sistem dan membongkar kelaliman penguasa. Melalui media dan mimbar-mimbar mereka malah memuji-muji para penguasa lalim tersebut. 

Di antara mereka juga ada yang berusaha untuk mendapat pengakuan para penguasa. Mereka lalu membenarkan kebohongan dan kelaliman para penguasa.

Walhasil, dalam menyelesaikan urusan-urusan negara, para ulama yang lurus senantiasa berupaya menasehati para pemimpin, kekuasaan dan umat agar taat pada syariah. Mereka juga bersabar dan tetap berani menyampaikan kalimat haq di hadapan para penguasa yang lalim tanpa mempedulikan kekuasaan, kekuatan dan besarnya bala tentara yang dimiliki para penguasa. Merekalah sesungguhnya para pemegang panji-panji syariah yang hakiki. Para penguasa lalim yang berpaling dari Islam tidak pernah bisa memanfaatkan mereka untuk mewujudkan keinginan hawa nafsu mereka.

Para ulama itu harus selalu mengingkari perbuatan-perbuatan buruk para penguasa, ucapan-ucapan mereka yang korup serta perilaku mereka yang curang. Mereka berusaha menasihati para penguasa dengan lantang, terus-terang, tidak berbelit-belit dan tanpa takut sedikit pun di jalan Allah terhadap celaan para pencela. Anda menyaksikan mereka rukuk dan bersujud di dalam penjara para penguasa lalim sembari mengharap rahmat Allah dan keridhaan-Nya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here