Apa Yang Telah Membuat Ayah Merasa Aman? Padahal Kematian... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, September 10, 2020

Apa Yang Telah Membuat Ayah Merasa Aman? Padahal Kematian...


Dede Wahyudin (Tabayyun Center) 

Dalam salah satu masterpiece-nya, At-Tibr al-Masbuk fi Nashîhah al-Muluk, pada bagian awal babnya, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menukil beberapa riwayat sebagai bahan renungan bagi para penguasa, juga para ulamanya.

Suatu hari, saudara kandung al-Bulkhi menemui Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah kemudian berkata, "Nasihatilah aku!"

Orang itu berkata, "Sesungguhnya Allah telah mendudukkanmu pada kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib (yakni sebagai penguasa, pen.). Karena itu, Allah Swt. meminta darimu sifat benar/jujur seperti yang ditunjukkan Ash-Shiddiq (Abu Bakar); Allah memintamu menjadi pembela yang haq dan penumpas yang batil seperti Al-Faruq (Umar); Allah memintamu memiliki rasa malu dan kemurahan seperti Utsman bin Affan; Allah pun memintamu memiliki ilmu dan keadilan seperti yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib."

"Teruskan," kata Khalifah…

Orang itu berkata lagi, "Perumpamaanmu seperti mataair, sedangkan seluruh ulama di dunia ini seperti wadahnya. Jika mataair itu jernih, kotornya wadah air tidaklah berbahaya. Namun, jika matairnya kotor, bersihnya wadah air tak ada gunanya."

Pada waktu lain, suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid menemui Fudhail bin Iyadh. Saat pintu rumah Ibn Iyadh dibuka, Khalifah menyalami tuan rumah, yang spontan berkata, "Api nerakalah untuk tangan halus ini jika ia tidak selamat dari azab pada Hari Kiamat nanti."

Ia melanjutkan, "Amirul Mukminin, bersiap-siaplah engkau untuk menjawab pertanyaan Allah kelak, karena sesungguhnya Allah akan menghadapkanmu kepada setiap Muslim atas kebijakanmu terhadap masing-masing dari mereka."

Mendengar itu, menangislah Harun ar-Rasyid sejadi-jadinya seraya menundukkan kepalanya di dadanya. Saat itu, Abbas, yang mendampinginya, berkomentar, "Celakalah, wahai Fudhail. Engkau telah membunuh Amirul Mukminin!"

Ibn Iyadh menjawab, "Wahai Hamman, justru kamu dan kaummulah yang mencelakakannya..."

Harun ar-Rasyid lalu berkata kepada Abbas, "Jika ia menyebutmu Hamman, berarti ia menganggapku Fir'aun."

Setelah menerima nasihat dan kritik Ibn Iyadh, Khalifah Harun ar-Rasyid bukannya marah. Ia kemudian memberi Fudhail bin Iyadh uang seribu dinar (setara 4,25 kg emas) seraya berkata, "Ini adalah harta halal dari pemberian dan warisan ibuku."

Ibn Iyadh malah berkata, "Akulah yang menyuruhmu melepaskan kedua tanganmu dari harta dunia dan kembali kepada Penciptamu. Lalu mengapa engkau malah 'melemparkan'-nya kepadaku?"

Fudhail bin Iyadh sama sekali enggan menerimanya. Ia pun pergi dari hadapan Khalifah.

Dalam riwayat lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya, "Apa penyebab tobatmu?"

Khalifah menjawab, "Suatu hari, aku pernah memukul pembantuku. Pembantuku kemudian berkata kepadaku, 'Ingatlah suatu malam yang esoknya adalah Hari Kiamat.' Sungguh, sejak itu perkataannya telah menghujam dalam hatiku."

Kali lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta nasihat kepada Abu Hazim. Abu Hazim lalu berkata, "Jika engkau tidur, taruhlah kematian di bawah kepalamu... Sungguh, kematian itu sangat dekat jaraknya darimu."

Setiap hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memenuhi kebutuhan rakyatnya. Karena kelelahan, ia lalu duduk menyandar, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat sebentar, menghilangkan kepenatan. Putranya kemudian berkata, "Apa yang telah membuat Ayah merasa aman? Padahal kematian setiap saat bisa datang menjemput, sementara di luar mungkin masih ada orang yang membutuhkan Ayah."

Khalifah Umar menjawab, "Engkau benar."

Seketika, Khalifah Umar pun bangkit dan pergi kembali menemui rakyatnya. (Al-Ghazali, At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk. Dar al-Kutub al- 'Ilmiyah, hlm. 23-54, 1988).

Begitulah, nasihat kepada para penguasa tidak pernah lepas dari para ulama, bahkan menjadi 'kebutuhan' mereka. Banyak para ulama pada masa lalu rela menghabiskan waktunya untuk mengontrol, mengawasi, menasihati, mengkritik sekaligus meluruskan para penguasa—apalagi yang menyimpang—tanpa kenal lelah, rasa khawatir atau takut.

Dengan itulah, dalam sistem Islam, keadilan tetap kukuh meski seandainya bumi runtuh; kezaliman lenyap meski bumi berdiri tegap.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here