"Carilah Orang Yang Dililit Utang Tetapi Tidak Boros, Berilah Dia Uang Untuk Melunasi Utangnya" - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, September 5, 2020

"Carilah Orang Yang Dililit Utang Tetapi Tidak Boros, Berilah Dia Uang Untuk Melunasi Utangnya"


M. Arifin (Tabayyun Center)

Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. (99-102 H/818-820 M). Meskipun masa Kekhilafahannya cukup singkat, hanya 3 tahun, umat Islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan rakyat. Ibnu Abdil Hakam (Sirah 'Umar bin Abdul 'Aziz, hlm. 59) meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, "Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan." (Al-Qaradhawi, 1995).

Pada masanya, kemakmuran tidak hanya ada di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah Khilafah Islam, seperti Irak dan Bashrah. Abu Ubaid (Al-Amwal, hlm. 256) mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak saat itu, agar membayar semua gaji dan hak rutin di propinsi itu. Dalam surat balasannya, Abdul Hamid berkata, "Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun, di Baitul Mal masih terdapat banyak uang."

Khalifah Umar memerintahkan, "Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya."

Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah Umar, "Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang."

Khalifah memerintahkan lagi, "Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya."

Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, "Saya sudah menikahkan semua yang ingin menikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih juga banyak uang."

Akhirnya, Khalifah Umar memberikan pengarahan, "Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah mereka pinjaman agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih." (Al-Qaradhawi, 1995).

Sementara itu, Gubernur Bashrah pernah mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, "Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabur dan sombong."

Khalifah Umar dalam surat balasannya berkata, "Allah 'Azza wa Jalla ridha kepada penghuni surga karena mereka berkata, 'Segala pujian milik Allah yang telah memenuhi janji-Nya.' (QS az-Zumar [39]: 74). Karena itu, suruhlah orang yang menjumpaimu untuk memuji Allah Swt." (Al-Qaradhawi, 1995).

Meski rakyatnya makmur, seperti halnya kakeknya (Umar bin al-Khaththab), Khalifah Umar bin Abdul Aziz tetap hidup sederhana, jujur, dan zuhud. Bahkan sejak awal menjabat khalifah, beliau menjual semua kekayaannya seharga 23.000 dinar (hampir Rp 20 miliar), lalu menyerahkan semua uang hasil penjualannya ke Kas Negara. (Al-Baghdadi, 1987).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here