Dakwah Islam Di Jalur Perdagangan Asia Tenggara - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, September 28, 2020

Dakwah Islam Di Jalur Perdagangan Asia Tenggara


Hadi Sasongko (Direktur Poros)

Penyebaran dakwah Islam melalui aktivitas perdagangan (tanpa peperangan) bukan berarti menunjukkan aktivitas tersebut tidak politis atau tidak terorganisir. Istilah 'pedagang Arab' yang sering digunakan dalam literatur sejarah seolah mengesankan penyebaran Islam yang terjadi hanya secara perorangan dan sporadis.

Hubungan kaum Muslim Melayu Asia Tenggara dengan Ulama Timur Tengah sesungguhnya telah terjalin sejak masa awal-awal Islam. Para pedagang Muslim dari Arab, Persia dan Anak benua India yang mendatangi Asia Tenggara tidak hanya berdagang, tetapi juga membawa misi tertentu untuk menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

Meski cukup sulit dibuktikan secara ilmiah, dalam perspektif geopolitik kita akan mudah melihat bahwa penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak terjadi secara sporadis, melainkan terencana dan berkesinambungan.

Jika dilihat lebih jeli peta sebaran umat Islam di Asia Tenggara, maka kita akan mendapati hampir semua titik-titik kekuatan umat Islam di Asia Tenggara memiliki nilai geopolitik yang sangat strategis. Posisi Kesultanan Arakan yang berada di Teluk Benggala merupakan garis pantai yang sangat penting dalam jalur perdagangan dunia sampai hari ini. Posisi Kesultanan Pattani terletak di Tanah Genting Kra, sebuah jembatan darat sempit yang menghubungkan Semenanjung Melayu dengan daratan Asia, yang juga merupakan akses terdekat ke Laut Cina Selatan. Begitu juga letak kepulauan Sulu dan Mindanao yang  tidak kalah strategisnya.

Tentu muncul pertanyaan, apakah mungkin ini terjadi secara sporadis? Semua ini disebabkan penyebaran Islam di Asia Tenggara di-drive secara terintegrasi pada jalur-jalur perdagangan maritim dalam waktu yang lama dan berkesinambungan yang melibatkan semua unsur umat Islam baik itu ulama, penguasa bahkan rakyat biasa.

Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai Cina melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu Cina di bawah Dinasti Tang (618-907), Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14) dan Khilafah Umayyah (660-749). Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri Cina.

Ini merupakan bukti bahwa masyarakat Islam yang sering diilustrasikan sebagai "pedagang Arab" dalam ilmu sejarah adalah mereka yang memiliki kesadaran geografis tinggi; suatu masyarakat yang biasa diistilahkan sebagai spatially enabled society. Begitu pun negara/kepala negara yang ideal adalah yang memiliki visi geopolitik dikenal dengan istilah spatially enabled government. Kombinasi kesadaran antara dua pihak ini didukung oleh sebuah peradaban Islam yang tinggi, yang tentu sangat dipengaruhi oleh kekuatan ideologinya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here