Dinar dan Dirham The Best - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, September 12, 2020

Dinar dan Dirham The Best


Aji Salam (ASSALIM Jatim)

Dalam hal pertukaran barang dan jasa dengan satuan uang, Islam telah menunjuk emas dan perak. Hal itu bisa diketahui dari: Pertama, Allah SWT mengharamkan menimbun harta (kanz al-mal) dan mengkhususkannya pada emas dan perak (lihat QS at-Taubah [9]: 34) dan disebut kanz al-mal. Padahal harta bukan hanya emas dan perak saja.  Penimbunan harta yang lain itu tidak disebut kanz[un] tetapi ihtikar. Saat ayat ini diturunkan, emas dan perak selain sebagai zat juga berfungsi sebagai uang. Maka maksud larangan ini juga merupakan larangan menimbun emas dan perak sebagai uang karena uang merupakan alat tukar. 

Kedua, Islam mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum yang bersifat fix. Islam mengaitkan nishâb pencurian yang dikenai sanksi potong tangan dan besaran diyat dengan satuan emas dan perak (HR an-Nasa'i).

Diriwayatkan pula dari Ikrimah dari Ibn Abbas, bahwa seorang laki-laki pernah melakukan pembunuhan, lalu Nabi saw menetapkan diyat-nya dua belas ribu dirham (HR Abu Dawud, an-Nasa’i, ad-Darimi, al-Baihaqi, ad-Daraquthni dan Ibn Abi Hatim).

تُقْطَعُ الْيَدُّ فِيْ رُبُعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا

Sanksi potong tangan (dijatuhkan pada pencurian) seperempat dinar atau lebih (HR Bukhari).

Syariah mengaitkan hukum yang bersifat fix ini dengan emas dan perak atau dinar dan dirham.  Nash ini menunjukkan bahwa syariah telah menjadikan emas dan perak atau dinar dan dirham sebagai satuan hitung untuk menakar nilai sesuatu dan manfaat, yaitu sebagai satuan uang. 

Ketiga, Nabi saw. menetapkan emas dan perak atau dinar dan dirham sebagai mata uang dan standar untuk menakar nilai barang dan jasa. Penggunaannya tidak berdasar nominal yang tertera, tetapi menurut timbangannya. Nabi saw. menyetujui penggunaan dinar dan dirham itu sebagai mata uang. Nabi juga menyetujui penggunaannya secara timbangan dan Beliau menetapkan standar timbangannya, yaitu menurut timbangan penduduk Makkah (HR Abu Dawud dan an-Nasa'i). 

Keempat, Allah mewajibkan zakat pada emas dan perak. Rasul saw. lalu menjelaskan nishab-nya dalam dinar dan dirham. 

Kelima, hukum-hukum sharf (pertukaran uang) dinyatakan dalam bentuk emas dan perak atau dinar dan dirham (HR at-Tirmidzi; HR al-Bukhari).

Berdasarkan semua itu, Islam tidak menyerahkan penentuan mata uang itu kepada manusia menurut pendapat dan musyawarah, atau sesuai tuntutan kehidupan perekonomian dan finansial.  Sebaliknya, dari sisi keberadaannya sebagai satuan mata uang dan dari sisi jenisnya, mata uang itu telah ditetapkan menurut hukum syariah. Setidaknya, dari lima poin di atas, tampak bahwa Islam menetapkan bahwa mata uang itu adalah emas dan perak atau dinar dan dirham atau asasnya adalah emas dan perak. Ketentuan ini bersifat tetap dan mengikat bagi kita sampai Hari Kiamat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here