Gimana Nasib Minoritas Itu Sekarang... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, September 23, 2020

Gimana Nasib Minoritas Itu Sekarang...


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Umat Islam di dunia saat ini mungkin jumlahnya tidak kurang dari 1,6 miliar jiwa. Namun demikian, dengan jumlah yang banyak tersebut tidaklah berarti umat Islam senantiasa berposisi sebagai mayoritas penduduk sebagaimana di Indonesia (87%) dan negeri-negeri Timur Tengah. Adakalanya umat Islam adalah minoritas dalam sebuah negara seperti yang terjadi di negara-negara Eropa (5%), Amerika (1%), sebagian Afrika dan sebagian Asia seperti di India (13%), Cina (4%), Myanmar (3%), Thailand (4%), Filipina (4%) dan lainnya (Statistik Penduduk Dunia). Dalam situasi seperti inilah sering umat Islam akhirnya menjadi korban penindasan penduduk mayoritas karena berbagai alasan.

Awalnya, umat Islam adalah umat yang satu. Tidak hanya satu agama dan satu bahasa (Arab), namun juga satu kesatuan masyarakat dan negara di bawah naungan  Khilafah Islam. Namun, umat Islam melemah dan kemudian terpecah-belah dijajah oleh negara-negara Barat. Inggris kemudian menjajah Mesir, India, Birma (Myanmar), Melayu (Malaysia, Singapura, Brunai) dan lainnya. Prancis menjajah Aljazair, Syam dan lainnya. Belanda menjajah Indonesia dan lainnya. Italia menjajah Ethiopia dan lainnya. Demikian pula dengan negara imperialis lainnya.

Masing-masing negara penjajah menerapkan berbagai aturan pada negara jajahan (pheriperal state) sesuai dengan negara induk (core state)-nya. Aturan ini kemudian diterapkan kepada penduduknya, termasuk di dalamnya adalah umat Islam. Jadilah umat Islam yang awalnya diikat dengan kesatuan akidah menjadi umat Islam yang diikat dengan suku dan bangsanya sehingga menjadi asing dengan umat Islam di negeri yang lain.

Pemerintah kolonial juga sering menerapkan kebijakan untuk memarjinalkan umat Islam di suatu negeri. Begitulah, misalnya, yang dilakukan negara imperialis Spanyol yang kemudian diteruskan oleh penjajahan Amerika Serikat ketika memperlakukan Muslim Moro di Filipina.

Tahun 1578 terjadi perang besar yang melibatkan orang Filipina sendiri. Penduduk pribumi wilayah Utara yang telah dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian diadu-domba dan disuruh berperang melawan orang-orang Islam di selatan. Terjadilah peperangan antar orang Filipina sendiri dengan mengatasnamakan misi suci. Dari sinilah kemudian timbul kebencian dan rasa curiga orang-orang Kristen Filipina terhadap Bangsa Moro yang Islam, hingga sekarang.

Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Secara tidak sah dan tak bermoral Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta pada tahun 1898 melalui Traktat Paris.

Upaya untuk memarjinalkan umat Islam terus dilakukan. Salah satunya yang dilakukan oleh Senator Manuel L. Quezon pada 1936-1944 yang gigih mengkampanyekan program pemukiman besar-besaran orang-orang Utara. Tujuannya adalah menghancurkan keragaman dan keunggulan jumlah Bangsa Moro di Mindanao serta berusaha mengintegrasikan mereka kedalam masyarakat Philipina secara umum.

Inggris juga melakukan upaya untuk meminggirkan umat Islam di India, Birma (Myanmar) dan Singapura. Di Birma dulu terjadi persaingan dan saling berbagi penjajahan antara Inggris dan Prancis. Inggris pada tahun 1824 M menduduki Birma dan menancapkan penjajahan mereka atas Birma. Adapun Prancis menduduki Laos yang bertetangga dengan Birma dan menancapkan penjajahan mereka terhadap Laos. Pada tahun 1937 Inggris memisahkan Birma dari "pemerintahan India Inggris". Jadilah jajahan Inggris terpisah secara administratif dari pemerintah India Inggris, atas nama "pemerintahan Birma Inggris." Propinsi Arakan dijadikan berada di bawah pemerintahan ini, di bawah kontrol orang-orang Budha.

Penindasan minoritas Muslim di Birma, oleh Naypyidaw disebut sebagai "manajemen migrasi ilegal" dan "kontrol pertumbuhan penduduk" untuk membenarkan penganiayaan terhadap kelompok ini. Walaupun demikian, penyebutan "imigran" tidak sesuai dengan bukti bahwa partisipasi politik Muslim di era modern di negara bagian Arakan kembali ke tahun 1930-an, sementara kota Arakan, Mrauk U, pada puncak keemasannya di abad ke 17 merupakan jalur dagang utama di Asia, yang diperintah oleh sultan-sultan Muslim.

Ini juga merupakan ketidakkonsistenan, mengingat ada jutaan orang Cina yang bermigrasi ke Myanmar dalam beberapa dekade terakhir untuk menjadi pemain kuat dalam perekonomian.

Kebijakan diskriminatif ini kemudian dilanjutkan pada zaman pemerintah pasca kolonial sipil U Nu di awal tahun 1950an. Mereka mengusir Kongres Muslim Birma dan menjadikan Budha agama negara. Diktator pertama Myanmar, Ne Win, muncul dengan menggunakan propaganda anti-Muslim selama pengusiran massal orang-orang India pada tahun 1960-an. Dia mencap puluhan ribu orang yang dibawa untuk bekerja oleh Inggris sebagai kaki tangan kolonial, dan mengeksploitasi sentimen anti-Islam untuk melarang Muslim menjadi tentara. Hal yang sama memicu kerusuhan anti-Cina yang terkenal pada akhir 1960-an dan 1970-an, bahwa Myanmar adalah negara yang dirugikan karena pekerjaan akan diambil orang-orang asing—yang juga mendorong kerusuhan anti-India dan anti-Muslim pada tahun 1930 dan 1938. Sampai sekarang, diskriminasi itu tidak pernah berakhir.

Hal yang membuat keprihatinan yang semakin mendalam adalah 'sikap diamnya' para penguasa kaum Muslim di berbagai negeri. Seolah mereka mengikuti Amerika dan Barat sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Mereka diam saja tetap tidak bergerak sedikitpun.

Ini adalah buah dari penerapan sistem nation state di Dunia Islam. Dengan paham kebangsaan, seolah kaum Muslim terlepas dari ikatan mereka yang satu, tauhid. Mereka merasa asing dengan saudara mereka yang Muslim.

Penguasa Bangladesh yang bertetangga dengan Birma sekalipun, tidak menolong saudara-saudara mereka yang menderita penyaringan dan penindasan bengis sejak ratusan tahun. Penguasa Bangladesh bukan hanya tidak menolong kaum Muslim, bahkan ‘mencekik leher’ orang yang mengungsi ke Bangladesh dengan menutup perbatasannya untuk kaum Muslim itu.

Atas penderitaan kaum Muslim di Pattani, penguasa Malaysia yang bertetangga dengan Thailand juga tak kunjung menolong saudara mereka. Padahal selain saudara seiman, secara historis mereka adalah satu kesatuan pada masa silam.

Demikian juga penguasa Indonesia yang bersikap setengah-setengah terhadap saudara mereka di Moro Filipina. Padahal Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia. Tidak ada satu halangan pun untuk dapat menolong saudara mereka.

Para penguasa di negeri tersebut seakan tidak memenuhi perintah Allah SWT:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan (QS al-Anfal [8]: 72)


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here