Harus Diingat Bahwa Gerakan Separatis Itu Tidak Berdiri Sendiri - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, September 26, 2020

Harus Diingat Bahwa Gerakan Separatis Itu Tidak Berdiri Sendiri


Hadi Sasongko (Direktur Political Grassroots)

Dari tahun ke tahun ada peningkatan eskalasi gejolak gerakan terorisme/separatisme di Papua. Korbannya menyasar TNI dan Polisi, tapi ada juga warga asing, warga biasa bahkan ada juga pendatang. Melihat faktanya korban ini menjadi sulit untuk diterka apa motifnya itu. Maksudnya motif dari sasarannya itu karena dia tidak menyasar kelompok masyarakat tertentu.

Info terbaru, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan KKB juga dilaporkan berada di sekitar Sugapa. Dari laporan yang diterima, beberapa kelompok lainnya sedang menuju wilayah Kabupaten Intan Jaya dan berencana melakukan perang terbuka dengan TNI-Polri. Kekuatan kelompok bersenjata yang saat ini dipimpin Sebinus Waker berjumlah sekitar 50 orang dengan jumlah senjata sebanyak 17 pucuk yang merupakan hasil rampasan dari TNI-Polri. Sebinus Waker merupakan wakil dari Ayub Waker yang tewas ditembak di Kali Kopi, kata Irjen Pol Waterpauw, sebagaimana dikutip dari jpnn.com, 25/9/2020.

Kalau kita lihat tujuan dari tidak kekerasan ini adalah tujuan politik dengan menciptakan instabilitas di Papua. Lalu, bahwa kekerasan ini juga ingin mengangkat Papua ini sebagai wilayah yang harus terus menerus mendapat perhatian khususnya di dunia internasional.

Jadi jelas bahwa motif politik itu begitu kuat. Ada sekian pihak yang memiliki motif politik untuk melakukan tindak kekerasan seperti itu, karena gerakan separatis.

Harus diingat bahwa gerakan separatis itu nggak berdiri sendiri. Gerakan separatis itu mempunyai link up ke pihak internasional. Itu bukan saja terjadi di Indonesia , tapi juga di seluruh dunia dan seluruh tempat. Kalau ada gerakan separatis pasti dia punya link up ke internasional  negara tertentu.

Biasanya tokoh-tokoh penggeraknya itu di negara tertentu  dari sana mendapatkan bantuan dana dan bantuan politik.

Dan tentu ada campur tangan asing baik itu dalam artian kelompok separatis, negara asing  atau kelompok tertentu yang mendukung gerakan separatis ini.

Ini terkait dengan pandangan politik tertentu, misalkan di Papua sampai sekarang masih terus ada pandangan politik kalau Papua itu merupakan satu identitas politik sendiri yang ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Maka mereka merasa punya hak kewenangan historis untuk berdiri sendiri bebas dari apa yang disebut negara Indonesia.

Lalu, Papua itu merupakan provinsi yang sangat strategis dan kaya. Secara geografis letak geografis Papua terletak di wilayah yang jauh dari pantauan Jakarta. Kalau dibentangkan itu Jayapura itu sama jauh dengan Tokyo, naik pesawat sekitaran 6 jam. Jadi sangat jauh memang sehingga secara politik memang kontrolnya melemah.

Kemudian, Papua sangat kaya karena Papua memiliki semua sumber daya alam yang ada di pulau lain. Di sana ada hutan, emas, minyak, tembaga bahkan uranium. Bisa dibilang Papua itu kepulauan yang sangat komplit. Sedangkan keterikatan politik terhadap Jakarta secara historis bisa disebut paling lemah.

Alasan lainnya ada semacam persoalan laten yang belum juga terselesaikan yaitu kemiskinan, ada semacam diskriminatif. Walaupun dari segi alokasi anggarannya sudah sangat luar biasa, tapi, itu tidak menjawab persoalan di sana jadi hal-hal seperti itulah yang akhirnya gejolak itu timbul kemudian dimanfaatkan pihak asing yang ingin memang melepaskan Papua.

Mereka menginginkan Papua lepas sebab, jika Papua lepas mereka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tentang Papua lepas seperti Timor-Timur menjadi sangat mungkin. Karena dalam politik itu tidak ada yang tidak mungkin. 

Dengan memprovokasi penduduk setempat kemudian dengan sedikit kemampuan militer itu bisa terjadi pemisahan itu. Apalagi kalau ada rekayasa politik seperti di Timor-Timur. Berbalik ke pemerintah di Jakarta apakah menyadari komplesitas persoalan dengan sesuatu yang bisa mempertahankan Papua.

Adapun sikap umat Islam terhadap permasalahan Papua, umat Islam harus berfikir bahwa umat Islam ini sekarang sudah terpecah belah lebih dari 50 negara. Itu keadaan buruk karna secara syar'i seharusnya umat Islam itu bersatu. Jadi ketika terpecah belah itu bertentangan dengan ajaran Islam.

Kalau Papua itu berpisah berarti terpecah lagi, sudah terpecah belah terpecah lagi. Itukan berarti lebih buruk lagi. Karena itu, umat Islam harus mewaspadai setiap gerakan separatis ini, baik itu didorong oleh faktor-faktor internal  maupun campur tangan asing.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here