Hukum Fiqih Seputar Penyewaan Lahan Pertanian - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, September 2, 2020

Hukum Fiqih Seputar Penyewaan Lahan Pertanian


M. Arifin (Tabayyun Center)

Dalam pandangan Islam, seorang pemilik tanah secara mutlak tidak boleh menyewakan tanahnya untuk pertanian. Ia tidak diperbolehkan untuk menyewakan tanah untuk pertanian dengan sewa yang berupa makanan ataupun yang lain, yang dihasilkan oleh pertanian tersebut, atau apa saja yang dihasilkan dari sana, sebab semuanya merupakan ijarah. Menyewakan tanah untuk pertanian itu secara mutlak hukumnya haram.

Rasulullah saw. bersabda:  "Siapa yang mempunyai sebidang tanah, hendaknya dia menanaminya, atau hendaknya diberikan kepada saudaranya. Apabila dia mengabaikannya, maka hendaknya tanahnya diambil" (HR. Imam Bukhari)

Di dalam Shahih Muslim disebutkan: "Rasulullah saw. melarang pengambilan sewa atau bagian atas tanah"

Diriwayatkan, "Rasulullah saw. melarang menyewakan tanah. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan menyewakannya dengan bibit. Beliau menjawab: 'Jangan. 'Bertanya (sahabat): 'Kami akan menyewakannya dengan jerami. Beliau menjawab: “Jangan.” Bertanya (sahabat): ‘Kami akan menyewakannya dengan sesuatu yang ada di atas rabi. Beliau menjawab: "Jangan. Kamu tanami atau kamu berikan tanah itu kepada saudaramu." (HR. Imam Nasa'i)

Dalam hadits shahih dinyatakan : "Bahwa beliau (Nabi) melarang pengambilan sewa dan bagian atas suatu tanah, serta menyewakan dengan sepertiga ataupun seperempat." Imam Abu Daud meriwayatkan dari Rafi' bin Khudaij, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Siapa saja yang mempunyai tanah, hendaknya menanami tanahnya, atau hendaknya (diberikan agar) ditanami oleh saudaranya. Dan janganlah menyewakannya dengan sepertiga, seperempat, maupun dengan makanan yang sepadan."

Imam Bukhari meriwayatkan dari Nafi' bahwa Abdullah bin Umar diberitahu Rafi’ bin Khudaij: "Bahwa Nabi saw. melarang menyewakan lahan pertanian." Kemudian lbnu Umar pergi menemui Rafi’, lalu saya bersamanya, dan kami menanyainya. Dia berkata: "Nabi saw. telah melarang sewa lahan pertanian." Imam Bukhari meriwayatkan dari Salim, bahwa Abdullah bin Umar telah meninggalkan sewa tanah.

Hadits-hadits di atas tegas menunjukkan larangan Rasulullah saw. terhadap penyewaan tanah. Larangan tersebut, menunjukkan adanya perintah untuk meninggalkannya sekaligus mengandung qarinah (indikasi) yang menjelaskan tentang adanya larangan yang tegas. Alternatif Islam tentang hal ini, adalah mempekerjakan orang lain untuk mengelola lahannya atau jika memang tidak mampu sama sekali, tanah hendaknya diberikan kepada orang lain sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :

Mereka bertanya kepada Rasulullah, "Kami akan menyewakannya dengan bibit." Beliau menjawab: "Jangan." Mereka bertanya: "Kami akan menyewakannya dengan jerami.” Beliau tetap menjawab: “Jangan.” Mereka bertanya lagi: "Kami akan menyewakannya dengan rabi’ (danau)". Beliau tetap menjawab: "Jangan." Kemudian beliau pertegas dengan sabdanya: "Tanamilah, atau berikanlah kepada saudaramu."

Larangan penyewaan lahan pertanian secara ekonomi dapat dipahami sebagai upaya agar lahan pertanian dapat berfungsi secara optimal. Artinya seseorang yang mampu mengolah lahan harus memiliki lahan sementara siapapun yang tidak mampu dan tidak mau mengolah lahan maka tidak dibenarkan untuk menguasai lahan pertanian.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here