Jangan Ada Upaya Menodai Ajaran Islam Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, September 2, 2020

Jangan Ada Upaya Menodai Ajaran Islam Khilafah


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Kriminalisasi adalah menjadikan seseorang seolah telah melakukan tindak kejahatan atau kriminal, padahal tidak. Lihatlah, sekarang ini, misalnya siapa saja yang mendukung khilafah ataupun siapapun yang kedapatan membawa bendera hitam bertuliskan La ilaha illalLah dengan bundaran bertuliskan Muhammad RasululLah atau memakai atribut-atribut bertuliskan lafal tadi berpotensi dipidana. Mereka dianggap melakukan kejahatan. Padahal apa kejahatan yang telah mereka lakukan? Tidak ada. 

Lalu karena khawatir akan dianggap melakukan kejahatan, maka orang kemudian jadi takut terhadap ajaran Islam khilafah dan bendera serta atribut-atribut itu. Inilah buah dari monsterisasi dan kriminalisasi yang dimaksud tadi. Ini tentu ironi besar. Bagaimana mungkin umat Islam takut terhadap ajaran Islam dan bendera tauhid? Bagaimana mungkin orang yang sekadar menyerukan ajaran Islam itu lantas serta-merta dianggap melakukan kejahatan?

Bila kecenderungan ini tidak segera dihentikan, bukan tidak mungkin monsterisasi dan kriminalisasi akan menyentuh sisi yang lebih substansial, yakni terhadap ajaran penerapan syariah secara kaffaj. Tendensi ke arah sana sudah ada. Kalau ini sampai terjadi, tentu dampaknya sangat dramatik dan ironik. Orang menjadi takut pada khilafah. Bagaimana bisa orang takut pada ide khilafah, sementara khilafah adalah ajaran Islam yang luar biasa, yang telah terbukti berhasil mempersatukan umat Islam seluruh dunia dan mewujudkan peradaban emas (the golden age) yang rahmatan lil alamin berbilang abad pada masa lalu. Khilafah pula yang berperan besar dalam penyebaran Islam hingga ke wilayah Nusantara melalui para ulama yang kemudian dikenal dengan julukan Walisongo. Jadi, bagaimana bisa kita takut pada perkara yang justru telah banyak memberikan kebaikan kepada kita? 

Adapun kebijakan Pemerintah yang sewenang-wenang membubarkan gerakan dakwah HTI yang notabene sering menyampaikan syiar urgensi syariah dan khilafah, juga dikhawatirkan akan menjadi semacam proses 'monsterisasi' dan kriminalisasi ajaran dan dakwah Islam. Monsterisasi terjadi karena pemblokiran situs-situs Islam itu dikhawatirkan akan membangun gambaran negatif tentang Islam dan ajaran Islam. Akibatnya, di masyarakat akan tertanam kesan bahwa Islam dan ajarannya seolah monster yang menakutkan.

Tindakan sewenang-wenang Pemerintah juga akan menambah daftar kriminalisasi terhadap ajaran, simbol dan dakwah Islam. Hanya karena membawa bendera tauhid, misalnya, orang dicap sebagai simpasitan ISIS. Hanya karena memakai cadar, Muslimah dicurigai sebagai anggota kelompok radikal. Hanya karena menyuarakan syariah dan Khilafah, mereka yang menyuarakan itu dianggap sebagai ancaman.

Ajaran Islam Khilafah tidak pernah dinyatakan sebagai paham terlarang baik dalam surat keputusan tata usaha negara, putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya sebagaimana paham komunisme, marxisme/leninisme dan atheisme, yang merupakan ajaran PKI melalui TAP MPRS NO. XXV/1966. Artinya, sebagai ajaran Islam Khilafah tetap sah dan legal untuk didakwahkan di tengah-tengah umat. Mendakwahkan ajaran Islam Khilafah termasuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan agama Islam, dimana hal ini dijamin konstitusi.

Kedua, bahwa mengutip pendapat Prof. Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa kegiatan yang dihentikan oleh SK Menteri dan Putusan Pengadilan TUN adalah kegiatan HTI sebagai lembaga (kegiatan Perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia), bukan penghentian kegiatan dakwah individu anggota dan/atau pengurus HTI. (Senin, 4/6/2018: http://detik.id/67AYOw).

Ketiga, bahwa Islam adalah agama yang diakui dan konstitusi memberikan jaminan untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya berdasarkan Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Oleh karena itu siapapun yang menyudutkan ajaran Islam, termasuk Khilafah maka menurut saya dapat dikategorikan tindak pidana penistaan agama.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here