Jangan Mau Di-Remote Kapitalis Barat Dan Timur - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, September 4, 2020

Jangan Mau Di-Remote Kapitalis Barat Dan Timur

Agung Wisnuwardana [Strategic And Military Power Watch]

Khilafah oleh Barat dianggap sebagai suatu  ancaman yang menakutkan bagi mereka. Sebab, ketika tegak, Khilafah akan menghentikan hegemoni Kapitalisme Barat atas dunia, yang akan mengganggu kepentingan mereka, khususnya dalam masalah politik dan ekonomi.

Ketika Kekhilafahan Turki Utsmani dibubarkan pada 3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Attaturk, 14 tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1938, Duta Besar Amerika Joseph Clark berdiri dengan Mustafa Kemal dan menyatakan, "Nama Mustafa Kemal akan selamanya dikaitkan dengan pembangunan, pendiri Turki, negara Turki baru yang modern, dan selamanya akan tertulis tanpa terhapuskan dalam  perjalanan sejarah."

Hal itu dilakukan agar negara Turki tetap berpegang pada sistem demokrasi-sekular; tidak berubah kembali menjadi negara yang menganut sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah. Ketakutan Barat tersebut dibuktikan dengan terus membuat opini buruk tentang Khilafah secara berulang. Sebut saja sewaktu George Walker Bush masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat yang berkuasa dari Januari 2001 hingga Januari 2009. Sebagaimana transkrip pernyataan Bush yang dilansir oleh situs washingtonpost.com pada 5 September 2006, dikatakan, "This caliphate would be a totalitarian Islamic empire encompassing all current and former Muslim lands, stretching from Europe to North Africa, the Middle East and Southeast Asia (Khilafah ini akan menjadi Imperium Islam totaliter yang meliputi semua negeri-negeri Muslim saat ini dan yang dulunya adalah negeri-negeri Muslim, yang membentang dari Eropa hingga Afrika Utara, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara)."

Ketika ISIS memproklamirkan berdirinya "Khilafah" pada 2014, Barat menjadikan itu sebagai sebuah momentum baru untuk melakukan monsterisasi dan pembusukan terhadap ajaran Islam Khilafah. Berbagai video eksekusi tawanan perang oleh ISIS menjadi alat propaganda Barat kepada dunia, termasuk kaum Muslim. Keadaan ini menjadi salah satu opini buruk bagi dakwah penegakkan syariah Islam dan Khilafah. Seolah-olah Barat ingin mengatakan "Jika ingin Khilafah, lihatlah apa yang dilakukan oleh ISIS." Padahal Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS tidak memenuhi syarat-syarat sah sebuah Khilafah.

Mereka juga membuat stigma negatif terhadap Khilafah. Beberapa waktu lalu Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, menyebut ISIS di Irak dan Suriah telah melakukan genosida terhadap kelompok minoritas Kristen, Syiah, Yazidi dan lainnya.

Bila ditengok lebih jauh, pada tahun 2003, lembaga think-tank (gudang pemikir) AS, yakni Rand Corporation, mengeluarkan sebuah Kajian teknis yang berjudul, "Civil Democratic Islam." Secara terbuka, Rand Corp membagi umat Islam menjadi empat kelompok Muslim: Fundamentalis, Tradisionalis, Modernis dan Sekularis.

Kelompok fundamentalis mereka sebut sebagai kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi dan budaya Barat serta menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan  Hukum Islam yang ekstrem (baca: Khilafah).

Kelompok tradisionalis adalah kelompok yang menginginkan suatu masyarakat yang konservatif.

Kelompok  modernis mereka identifikasi sebagai kelompok yang menginginkan Dunia Islam menjadi bagian modernitas global, yang juga ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman.

Adapun kelompok sekular adalah kelompok yang menginginkan Dunia Islam dapat menerima paham sekular dengan cara seperti yang dilakukan negara-negara Barat dimana agama dibatasi pada lingkup pribadi saja.

Setelah dilakukan pengelompokan atas umat Islam, langkah berikutnya yang dilakukan Barat adalah melakukan politik belah bambu; mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok. Caranya dengan melakukan empat hal:

1. Mendukung kelompok modernis dengan mengembangkan visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis.

2. Mendukung kelompok tradisionalis sebatas untuk mengarahkan mereka agar berlawanan dengan kelompok fundamentalis dan untuk mencegah pertalian yang erat di antara mereka; menerbitkan kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstremisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kelompok tradisionalis dan fundamentalis; mendorong kerjasama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan kaum modernis; juga mendorong popularitas dan penerimaan atas sufisme.

3. Mendukung kelompok sekularis secara kasus-perkasus dan mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama; mendorong ide bahwa agama dan negara dapat dipisahkan.

4. Memusuhi kelompok fundamentalis dengan menunjukkan kelemahan pandangan keislaman mereka; mendorong para wartawan untuk mengekspos isu-isu korupsi, kemunafikan dan tidak bermoralnya kaum fundamentalis, pelaksanaan Islam yang salah dan ketidakmampuan mereka dalam memimpin dan memerintah.
 
Kemudian Pada Tahun 2007, Rand Corporation juga menerbitkan sebuah dokumen setebal 217 halaman, terdiri atas 10 bab, yang berjudul, “Building Moderate Muslim Networks”.

Dalam dokumen tersebut, Rand Corp mengungkapkan peta jalan (road map) bagaimana membangun jaringan Muslim moderat dengan mulai memberikan prioritas bantuannya kepada pihak-pihak yang dinilai paling cepat memberikan dampak dalam perang pemikiran yakni: (1) Akademisi dan intelektual Muslim yang liberal dan sekular; (2) Mahasiswa muda religius yang moderat; (3) Komunitas aktivis; (4) Organisasi-organisasi yang mengkampanyekan persamaan gender; (5) Wartawan dan penulis moderat.

Inilah upaya politik adu domba yang dilakukan oleh Barat terhadap umat Islam. Dalam konteks umat Islam yang ada di Indonesia, sangatlah bisa kita rasakan adanya upaya-upaya adu domba tersebut. Misalnya, upaya membenturkan ormas yang dinilai tradisionalis dengan ormas yang modernis serta dengan kelompok seperti HT yang dianggap fundamentalis.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here