Jejak Islam: Antara Pattani Dan Arakan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, September 28, 2020

Jejak Islam: Antara Pattani Dan Arakan


Anwar Rosadi (Indonesia Change)

Jumlah penduduk Muslim di Thailand hanya 5,5% dari keseluruhan penduduknya. Mereka tinggal di wilayah Selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Mereka tersebar di empat propinsi yakni Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun.

Sampai tahun 1786 Pattani adalah kerajaan yang besar, karena menjadi pusat perdagangan penting Asia dan Eropa. Ajaran Hindu dan Budha banyak mewarnai praktik keseharian masyarakat di sana.

Islam hadir di Pattani antara abad ke-12 hingga 15 melalui aktivitas perdagangan. Perkembangan Islam semakin meningkat saat Kerajaan Pattani menyatakan dirinya sebagai Negara Islam pada tahun 1457.

Kerajaan Melayu Pattani mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan raja-raja perempuan (1584-1624). Pada masa itu Pattani telah muncul sebagai pusat perdagangan. Ijzerman, seorang pedagang Belanda, menyatakan bahwa Pattani adalah "pintu masuk" ke wilayah Cina selatan. Namun, Kerajaan Pattani mengalami kemerosotan, disebabkan oleh konflik perebutan kekuasaan antara sesama pewaris kerajaan. Intensitas perang saudara yang kerap terjadi menyebabkan situasi keamanan tidak terjamin sehingga Petani tidak lagi menjadi tumpuan pedagang. Hal ini terus berlanjut sampai abad ke-18.

Phraya Chakri, Raja Siam yang baru saja mengalahkan Burma di Ayuthia, menyerang dan menundukkan Pattani pada 1785. Setelah itu Kerajaan Pattani berada di bawah kendali kekuasaan Siam meskipun Kerajaan Pattani masih diberi otonomi untuk mengurus pemerintahannya sendiri

Untuk Myanmar, jumlah Muslim di Myanmar paling besar dibandingkan dengan di Filipina dan Thailand. Jumlahnya mencapai 15% yakni sekitar 7 juta jiwa. Setengah dari jumlah Muslim Myanmar tersebut berasal dari Arakan, suatu propinsi di barat laut Myanmar. Di sebelah utara, wilayah Arakan berbatasan dengan Bangladesh sepanjang 170 km. Di sebelah barat berbatasan dengan pantai, yakni Laut Andaman.

Semula Arakan bernama Rohang. Masyarakatnya disebut Rohingya. Pada 1430 Rohingya menjadi kesultanan Islam yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Syah dengan bantuan masyarakat Muslim di Bengal (sekarang Bangladesh). Kemudian nama Rohingya diganti menjadi Arakan (bentuk jamak dari kata Arab ‘rukun’ yang berarti tiang/pokok) untuk menegaskan identitas keislaman mereka.

Islam mulai datang ke negeri Burma (Myanmar sekarang) ini di mulai sejak awal hadirnya Islam, yakni abad ke-7 saat daerah Arakan telah banyak disinggahi oleh para pedagang Arab. Arakan merupakan tempat terkenal bagi para pelaut Arab, Moor, Turki, Moghuls, Asia Tengah dan Bengal yang datang sebagai pedagang, prajurit dan ulama. Mereka melalui jalur darat dan laut.

Pendatang tersebut banyak yang tinggal di Arakan dan bercampur dengan penduduk setempat. Percampuran suku tersebut terbentuk suku baru, yaitu suku Rohingya. Oleh karena itu, Muslim Rohingya yang menetap di Arakan sudah ada sejak abad ke-7. Para pedagang yang singgah di pantai pesisir Burma mulai menggunakan pesisir pantai dari Negara Burma (Myanmar) sebagai pusat persingahan dan juga dapat dijadikan sebagai sebuah tempat reparasi kapal. Dapat diketahui bahwa Islam mulai masuk ke Burma dibawa oleh para pedagang Muslim yang singgah di pesisir pantai Burma. Pada masa kekuasaan perdagangan Muslim di Asia Tenggara mencapai puncaknya, hingga sekitar abad ke-17, kota-kota di pesisir Burma, lewat Koneksi kaum Muslim, masuk ke dalam jaringan dagang kaum Muslim yang lebih luas. Mereka tidak hanya aktif di bidang perdagangan, melainkan juga dalam pembuatan dan perawatan kapal. Pada abad ke-17 sebagian besar propinsi yang terletak di jalur perdagangan dari Mergui sampai Ayutthaya praktis dipimpin oleh gubernur Muslim dengan para administrator tingginya yang juga Muslim.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here