Jejak Islam: Ulama dan Pembangunan Institusi Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, September 19, 2020

Jejak Islam: Ulama dan Pembangunan Institusi Islam


Hadi Sasongko (Direktur PoroS)

Penyebaran dakwah Islam tidak bisa dilepaskan dari peran ulama. Sejarah telah mencatat bahwa Islam dibawa ke nusantara oleh para ulama. Pada masa Kekhilafahan Turki Utsmani yang merupakan puncak kebesaran Islam, pengiriman ulama lebih terfokus pada penyebaran Islam di Nusantara. Pada tahun 808 H/1404 M Sultan Muhammad I dari Kesultanan Utsmani mengirim para ulama ke Pulau Jawa. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, ahli tata pemerintahan dari Turki; Maulana Ishaq dari Samarqand, yang dikenal dengan nama Syaikh Awwalul Islam; Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir; Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko; Maulana Malik Israil dari Turki; Maulana Hasanuddin dari Palestina; Maulana Aliyuddin dari Palestina; dan Syaikh Subakir dari Persia.

Sebelum ke Jawa, umumnya mereka singgah di Pasai. Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah, penguasa Samudra Pasai antara 1349-1406 M, mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa. Pada periode berikutnya, antara 1421-1436 M, datang tiga ulama ke Jawa menggantikan da'i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (dikenal Sunan Ampel), Sayyid Ja'far Shadiq dari Palestina (dikenal Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (dikenal sebagai Sunan Gunung Jati).

Sejak tahun 1463 M makin banyak ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (dikenal Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu; Raden Said (dikenal Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (dikenal Bonang); dan Raden Qasim Dua (dikenal Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.

Dengan banyaknya ulama yang berdakwah, secara gradual terbentuk institusi politik Islam di seluruh wilayah Nusantara, seperti Kesultanan Perlak (berdiri pada 1 Muharam 225 H atau 12 November 839 M), Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore dan Bacan. Berkat dakwah yang dilakukan Kerajaan Bacan, banyak kepala suku di Papua yang memeluk Islam.

Institusi politik Islam lainnya di Kalimantan ialah Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai.

Di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: Kesultanan Demak, yang dilanjutkan oleh Kesultanan Jipang dan Mataram. Cirebon dan Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Di Sulawesi terdapat Kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara, terdapat Kesultanan Bima.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here