Jejak Mata Uang Era Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, September 12, 2020

Jejak Mata Uang Era Khilafah


Yuli Sarwanto (Direktur FAKTA)

Manusia tidak bisa memenuhi segala kebutuhannya dari produksinya sendiri.  Ia perlu mempertukarkan barang atau harta miliknya dengan milik orang lain.  Pada mulanya itu dilakukan secara langsung (sistem barter).  Namun, sistem ini menyulitkan. Misalnya, seorang petani ingin menukarkan berasnya dengan kambing.  Padahal pemilik kambing belum tentu menginginkan beras. Untuk itu, perlu sesuatu yang bisa menjadi alat pertukaran agar petani bisa menukarkan berasnya dengan sesuatu, lalu menukarkan sesuatu itu dengan kambing.  Alat tukar itu adalah sesuatu yang diterima umum sebagai satuan untuk menakar nilai barang dan jasa. Sesuatu yang menjadi satuan hitung itu disebut uang (money/an-naqd).

Jadi, uang bisa diartikan sebagai sesuatu yang diistilahkan oleh manusia untuk menjadi harga bagi barang dan upah atas tenaga dan jasa, baik berupa uang logam atau selainnya.  Dengan uang seluruh barang, tenaga dan jasa bisa dinilai dan dipertukarkan.

Pada tahap awal, berbagai komoditas pernah dijadikan sebagai uang, seperti hewan (sapi, domba dan unta), biji-bijian (barley, beras, jagung dsb), garam, kulit kerang, dsb. Tahapan ini disebut tahapan uang komoditas (an-nuqud as-sila'iyyah/commodity money). Karena banyak kesulitan, lalu diganti dengan uang logam. Tahapan ini disebut tahapan uang logam (an-nuqûd al-ma’daniyah/metalic money).

Sekitar tahun 1000 SM, orang Cina membuat mata uang dari perunggu dan tembaga berbentuk lempengan bundar berlubang di tengah sehingga bisa direnteng dengan tali.  Kemudian pada abad ke-7 SM, penduduk Lydia di Asia Kecil membuat mata uang dari elektrum (campuran alami antara emas dan perak).  Pada abad yang sama di Yunani juga dicetak mata uang dari emas. Di Makedonia, Raja Philip Macedoni juga mencetak mata uang dari emas yang kemudian disebut Philipi. Selanjutnya Alexander Agung mencetak mata uang emas dan menstandarkan timbangannya. Mata uang emas Romawi (Byzantium) disebut Solidos, sedang mata uang Yunani disebut Drachma, berat keduanya sama yaitu 4,25 gr. Adapun mata uang perak pertama dibuat pada abad ke-3 SM di kuil penyembahan dewa Hera di Capitoline, yaitu kuil Juno Moneta (dari sinilah muncul sebutan money). Lalu Persia juga mencetak mata uang perak itu dan menjadikannya mata uang resmi.  Selanjutnya dinar Byzantium dan dirham Persia itu menyebar ke Arab dan digunakan sebagai uang. 

Orang Arab, khususnya Quraisy, mendapat dinar Byzantium dari perdagangan mereka ke Syam. Adapun dirham Persia mereka peroleh dari perdagangan ke timur (Irak dan Iran). Kadang dari perdagangan ke Yaman mereka mendapat dirham Himyariyah, meski jumlahnya sedikit. 

Dinar Byzantium dan dirham Persia itu terus digunakan hingga masa Nabi saw. Beliau mendiamkan (menyetujui) penggunaan keduanya sebagai uang.  Kondisi ini terus berlangsung sampai Khalifah Umar bin al-Khaththab pada tahun 20 H mencetak dirham sama persis dengan dirham Persia, hanya ditambahkan tulisan Arab "Bismillah" dan "Bismillahi Rabbi". Dinar Byzantium dan dirham cetakan masa Umar itu terus digunakan sampai pada tahun 75 atau 76 H, khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dirham khusus dengan corak islami, dengan tulisan Arab, tetapi timbangannya sama dengan dirham Persia (2,975 gr).  Pada tahun 77 H Abdul Malik mencetak Dinar dengan corak islami dengan berat 4,25 gr. Sejak saat itu dinar dan dirham yang resmi digunakan dalam Khilafah Islam bercorak islami dan tidak lagi bercorak bizanti dan sasani. Dinar dan Dirham itu tetap menjadi mata uang Khilafah hingga Khilafah Utsmani runtuh pada tahun 1924. 

Di Eropa setelah Romawi, mata uang yang digunakan tetap mata uang emas dan perak. Adapun di Cina, uang kertas sudah dicetak dan digunakan di Cina pada abad ke-9 M.  Uang kertas saat itu di-back up sepenuhnya dengan emas (uang kertas substitusi). Artinya, sistem mata uang digunakan di dunia adalah mata uang emas dan perak atau berbasis emas dan perak. Sistem ini terus berlanjut sampai tahun 1944 dalam perjanjian Breeton Wood, mata uang dunia disandarkan pada emas yang di-back up dengan emas meski tidak secara penuh.

Sistem mata uang emas baru ditinggalkan sejak Presiden AS, Richard Nixon, pada 15 Agustus 1971 mengumumkan dolar lepas dari sistem Bretton Woods.  Sejak itu sistem mata uang emas ditinggalkan total dan digantikan dengan sistem mata uang kertas yang sama sekali tidak di-back-up dengan emas dan atau perak.  Uang kertas jenis ini disebut fiat money dan digunakan di seluruh dunia hingga sekarang.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here