Kapitalisme Dan Legalisasi Dehumanisasi Massal - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, September 22, 2020

Kapitalisme Dan Legalisasi Dehumanisasi Massal


Fajar Kurniawan (analis senior PKAD)

Kapitalisme juga memiliki prinsip dan pilar-pilar ekonomi yang konsisten memproduksi kemiskinan secara struktural. Prinsip-prinsip itu sangat efektif menghisap kekayaan negeri-negeri Muslim dan menjadi mekanisme eksploitasi massal bagi jutaan penduduk miskin dunia.

Beberapa prinsip berbahaya ekonomi Kapitalisme yang menjadi basis bagi eksploitasi ekonomi adalah: (1) kebebasan kepemilikan; (2) laissez-faire – campur tangan pemerintah minimal; (3) pertumbuhan ekonomi; (4) akumulasi modal sebagai kunci pertumbuhan; (5) sistem upah besi.

Pertama: Kebebasan kepemilikan  menonjolkan kepemilikan individu dalam perekonomian. Prinsip ini membebaskan manusia untuk bisa memiliki apapun dengan sebab kepemilikan apapun, tanpa melihat halal dan haram.

Kedua: Laissez Faire, campur tangan pemerintah yang minimal. Pandangan ini menjadi cikal bakal  doktrin laissez faire-laissez passer, let do let pass yang dikembangkan oleh Adam Smith. Menurut mereka, tanpa adanya campur tangan pemerintah, semua tindakan  manusia akan berjalan harmonis, otomatis  dan bersifat self regulating. Regulator utama dalam kehidupan ekonomi adalah mekanisme pasar, bukan pemerintah.

Ketiga: Pertumbuhan ekonomi yang mengendalikan arah perpolitikan suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menjadi tolak ukur utama prestasi ekonomi negara-negara maju dan prestasi pembangunan ekonomi negara-negara berkembang. Konsekuensinya, tingkat produksi barang dan jasa domestik secara agregat harus digenjot dengan cara meningkatkan investasi baik investasi dalam negeri maupun investasi asing. Meningkatkan investasi asing ditempuh dengan membuka kran investasi asing, liberalisasi perdagangan, liberalisasi keuangan dan liberalisasi berbagai bentuk usaha lokal bagi kepentingan investor. Karena itu banyak  negara berlomba mengejar pertumbuhan ekonomi  meski harus membayar dengan  kekayaan alam, aset strategis dan bahkan nyawa rakyatnya.

Keempat: Prinsip akumulasi modal (the law of capital accumulations). Hukum ini akan menunjukkan bahwa apabila ekonomi dibiarkan berjalan mengikuti mekanisme pasar bebas, maka akan menyebabkan terjadinya akumulasi kapital pada para pemilik modal yang besar. Prinsip ini memberikan kesempatan yang luas kepada para pemilik modal untuk mengeksploitasi kaum buruh yang mereka pekerjakan layaknya budak, hanya untuk kepentingan mereka saja, yakni tujuan akumulasi kapital (modal).

Kelima: Prinsip Upah Besi (The Iron's Wage Law). Prinsip ini menunjukkan bahwa di dalam mekanisme pasar bebas, upah yang diterima kaum buruh tidak akan pernah mengalami kenaikan, tetapi juga tidak akan mengalami penurunan. Layaknya besi, dia tetap tidak berubah. Namun, tetapnya upah buruh tersebut ternyata tetap pada titik yang rendah, yakni hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik minimumnya saja. Maksudnya agar supaya buruh tetap eksis, tidak sampai mati atau sakit (sehingga menghambat proses produksi).

Dengan prinsip-prinsip ini Kapitalisme telah melegalkan dehumanisasi massal terhadap kaum miskin dan marginal. Kapitalisme mempekerjakan mereka sebagai buruh dan mempraktikkan perbudakan modern dengan menghisap energi kaum buruh yang miskin hanya untuk kepentingan pemodal. Dampak buruk penerapannya telah demikian kasatmata. Kesenjangan ekonomi dan kemiskinan semakin menggurita dan mewabah. Bahkan ini terjadi bukan hanya di negeri-negeri Muslim saja, melainkan juga di negeri-negeri maju kapitalis yang menjadi barometer kekuatan ekonomi seperti Cina dan India, juga Uni Eropa. Ambil saja contoh, pertumbuhan ekonomi di Cina dan India berjalan sangat pesat. Bahkan diramalkan oleh Invesment Bank  AS  Goldman Sachs bahwa kedua negara ini akan menjadi super power pada tahun 2030. Namun, menurut statistik yang dikeluarkan World Hunger Index (PBB) Oktober 2010 masih terlalu banyak penduduk Cina dan India dalam keadaan miskin dan kelaparan. Di Cina kesenjangan pendapatan antarpenduduk yang tinggal di kota dan petani sangat besar. Perbedaan rata-rata pendapatan antar petani dan pekerja di kota  diperkirakan 1:5. Adapun di India masih terdapat sekitar 350 juta manusia yang berpendapatan kurang dari satu dolar AS perhari.

Ironisnya para penguasa negeri-negeri Muslim yang menjadi boneka Barat justru dengan bangga menerapkan dan memuja sistem Kapitalisme ini, baik sistem nilainya maupun prinsip-prinsip ekonominya yang imperialistik. Padahal kerusakan dan kezalimannya sudah dipertontonkan sendiri di negeri-negeri di Barat. Tentu para penguasa ini sejatinya adalah sisa-sisa kolonial dari negara kapitalis Barat yang berlindung di balik ide nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan negara-bangsa, yang merupakan bagian dari strategi negara Barat untuk memecah-belah umat Islam melalui runtuhnya institusi Khilafah Ustmaniyah di Turki tahun 1924. Kekuatan paham nasionalisme kemudian tersebar ke seluruh dunia. Paham ini pun dipaksakan masuk ke Dunia Islam untuk memecah-belah Khilafah Islam yang menjadi pelindung sekaligus kekuatan umat kala itu.

Para penguasa boneka dalam sistem negara-bangsa pada praktiknya selalu berlindung di balik kepentingan nasional dan ide nasionalisme. Padahal pada saat yang sama mereka melegalkan praktik mega korupsi dengan membiarkan uang rakyat dicuri dan kekayaannya dirampok oleh perusahaan-perusahaan asing demi keuntungan dan kekayaan pribadi yang mereka dapatkan dari tuan-tuan mereka di Barat. Mereka nyaris selalu terbukti gagal menyelesaikan problem negerinya yang dipenuhi dengan persoalan korupsi, ketergantungan terhadap Barat dan utang luar negeri, penegakan hukum yang ambivalen, ancaman separatisme, konflik sosial, dan lain-lain. Hari ini sistem negara-bangsa telah kehilangan vitalitasnya. Apalagi penguasanya sendiri telah dengan sengaja menghilangkan kedaulatannya dengan membolehkan pihak asing mengintervensi negara mereka. Mereka pun membiarkan pihak asing menyajikan solusi-solusi beracun bagi pengentasan kemiskinan seperti program kontrol populasi, legalisasi prostitusi dan bahkan membiarkan rakyatnya menjadi buruh-buruh pabrik yang bekerja di perusahaan asing multinasional.

Sistem negara-bangsa juga telah membuat negeri-negeri Muslim, yang awalnya merupakan satu kesatuan politik dan ideologi, menjadi terfragmentasi. Apa yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia, adalah potret yang  amat memprihatinkan. Kedua negara Muslim yang bertetangga ini telah memiliki kesepakatan puluhan tahun untuk melanggengkan praktik eksploitasi transnasional terhadap jutaan perempuan Muslimah atas nama kepentingan nasional masing-masing negeri tersebut. Para penguasa ini tidak menyadari bahwa nasionalisme dan sistem negara-bangsa yang mereka anut telah membawa pada kehancuran martabat dan perpecahan di antara mereka sendiri sebagai umat Islam. Nasionalisme dan negara-bangsa juga telah mendehumanisasi mereka yang bukan dari bangsanya dengan memperlakukan saudari mereka sendiri sebagai barang dagangan, bukan seperti ajaran Islam yang mewajibkan melindungi dan menjaga kehormatan kaum Muslimahnya.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here