Kapitalisme Dan Malapetaka Siklus Krisis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, September 22, 2020

Kapitalisme Dan Malapetaka Siklus Krisis


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Kapitalisme menyuburkan krisis. Krisis finansial yang ajeg menimpa pasar global, khususnya Amerika Serikat dan Eropa adalah kejadian yang berulang sebagaimana krisis-krisis sebelumnya. Pada tahun 1929 dunia mengalami depresi besar. Krisis tersebut menimpa perekonomian AS, namun gejolak dan pengaruhnya dirasakan dunia. Krisis finansial tersebut juga dulu dan ke depan berulang kembali.

Memang, sebagian ekonom menganggap bahwa krisis finansial global yang terjadi saat ini adalah persoalan teknis ekonomi. Namun, kalau kita cermati, krisis finansial global tersebut bukanlah persoalan teknikal ekonomi semata—yakni sekadar penyesuaian harga menuju keseimbangan baru—melainkan persoalan ideologi sebagai akibat dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis secara global. Penerapan ideologi kapitalis di bidang ekonomi telah menyebabkan krisis di berbagai penjuru dunia. Berbagai krisis ekonomi terus melanda dunia; krisis Finlandia tahun 1992, krisis Meksiko pada tahun 1994, bangkrutnya perusahaan raksasa Baring-Singapura tahun 1995, keguncangan bursa saham dunia Wall Street, New York pada tahun 1995, kredit macet ratusan triliun rupiah pada bisnis properti di Jepang tahun 1996, krisis ekonomi yang diawali krisis moneter di Asia dan berbagai belahan dunia tahun 1997, krisis Rusia pada tahun 1998, Krisis Brasil pada tahun 1999, Krisis Turki tahun 2001, Krisis Argentina tahun 2001, hingga krisis finansial Amerika Serikat tahun 2007 yang berdampak global. Semua itu tidak terlepas dari penerapan ideologi kapitalis di bidang ekonomi. Berulangnya krisis ini menunjukkan ada persoalan fundamental yang keliru dari sistem kapitalisme ini.

Menurut saya, kelemahan mendasar adalah adanya instabilitas yang secara alami ada pada sistem ekonomi kapitalis. Instabilitas inilah yang menjadi pemicu terjadinya krisis keuangan dan berdampak pada krisis ekonomi dunia. Dalam sistem ekonomi kapitalis, pembangunan ekonomi lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan sektor non-rill dan bukan sektor riil. Kegiatan spekulatif nonproduktif (yakni transaksi derivatif di pasar uang, bursa valas, bursa saham dan bursa berjangka komoditas) transaksi ekonomi yang mengandung rente (riba) serta persoalan mata uang negara yang tidak ditopang dengan nilai intrinsiknya adalah faktor-faktor utama pemicu instabilitas finansial dan moneter yang dapat berakibat pada krisis keuangan dan ekonomi.

Idealnya keseimbangan baru berjalan sesuai dengan mekanisme ekonomi yang berjalan alami. Namun dalam banyak krisis ekonomi serta finansial yang ada, mekanisme ekonomi tidaklah berjalan alami, melainkan harus melalui intervensi negara yang selama ini ditabukan dalam sistem ekonomi kapitalis. Artinya, keseimbangan baru yang terjadi dipaksakan melalui intervensi negara, tidak alami terjadi. Intervensi negara ini jelas bertentangan dengan prinsip pasar bebas yang mereka agungkan. Jadi, ini hanya "tambal sulam" saja atas kebobrokan sistem ekonomi kapitalis.

Seperti kita ketahui, krisis finansial dan ekonomi yang terjadi selama ini selalu berdampak luas kepada negara-negara lain. Demikian juga krisis finansial global yang dipicu oleh krisis di AS. Apalagi karena AS saat ini mendominasi sektor finansial dan keuangan dunia. Belum lagi terkait dengan mata uang  dolar AS sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dalam transaksi keuangan dunia. Karenanya, krisis finansial global tersebut pasti akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here