Kapitalisme Menyuburkan Kemiskinan dan Eksploitasi Ekonomi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, September 22, 2020

Kapitalisme Menyuburkan Kemiskinan dan Eksploitasi Ekonomi


Suro Kunto (Ketua SPBRS Jatim)

Kapitalisme memiliki andil besar menciptakan masyarakat yang egois dan eksploitatif terhadap orang banyak. Ini karena peradaban Kapitalisme tegak di atas tiga sistem nilai dasar:

1. Sekulerisme, sebagai asas/ landasan hidup.

2. Pragmatisme, sebagai konsep kehidupan yang berjalan karena kemanfaatan.

3. Hedonisme, sebagai makna kebahagiaan, yakni kepuasan materi individu (hedonisme).

Tiga nilai mendasar ini berperan membentuk identitas masyarakat kapitalis yang materialistik. Perluasaan kekuasaan Kapitalisme di negeri-negeri Muslim, terutama akibat globalisasi dan ekspansi pasar, telah mensosialisasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai ekonomi akhirnya mempengaruhi sistem norma dan  hubungan sosial sehingga bersifat transaksional. Di dalam proses transaksi tersebut, setiap orang menghitung 'harga' (cost) dan 'kegunaan' (benefit) dari setiap hubungan sosial dan praktik-praktik kehidupan yang dijalani setiap hari. Kapitalisme global secara evolutif telah menggeser nilai-nilai sakral dalam ajaran agama dan tradisi menjadi sekadar pelengkap bagi pembentukan gaya hidup  yang berorientasi pada kesenangan (leisure) dan kepuasan (gratification).

Nilai-nilai mendasar seperti sekularisme, pragmatisme dan hedonisme ini harus diakui menjadi pemicu kesenjangan dan kemiskinan akibat iklim kompetisi atau 'survival of the fittest', siapa yang kuat dialah yang menang. Konsekuensi berikutnya, perangkat nilai berbahaya ini juga masuk pada bagaimana menciptakan identitas dan makna kesuksesan pada masyarakatnya. Tatanan masyarakat kapitalistik telah mengindividualisasikan masyarakat secara khas berdasarkan profesinya; individu masyarakat dipandang sebagai unit profesional (Beyer, 1991: 378). Wajar jika dalam masyarakat kapitalistik, seseorang baru akan dihargai jika ia memiliki profesi/pekerjaan tertentu dengan penghasilan tertentu, termasuk kaum perempuan.

Semua nilai ini telah meletakkan pondasi yang sangat kuat bagi terciptanya kemiskinan dan eksploitasi ekonomi. Pasalnya, nilai-nilai ini meniscayakan pihak kuat akan mengendalikan yang lemah. Inilah yang menyebabkan lebih dari dua ratus juta laki-laki dan perempuan di negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Selatan dipaksa bermigrasi ribuan kilometer hanya untuk mendapat pekerjaan menjadi buruh migran, meski harus menelan pil pahit perlakuan yang tidak manusiawi di negeri orang.  Nilai-nilai ini juga telah melegalkan berbagai bentuk eksploitasi terhadap kaum miskin, baik secara fisik, finansial maupun secara seksual atas nama pekerjaan atau profesi.

Pandangan khas ideologi ini terhadap perempuan dengan sensualitasnya juga telah mendorong kejahatan eksploitasi seksual terhadap ratusan ribu perempuan di Asia. Tubuh perempuan hanya dipandang sebagai barang dan komoditas ekonomi. Mereka akhirnya hanya diperlakukan seperti barang dan komoditas ekonomi untuk kepentingan segelintir orang kaya dan pemilik modal.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here