Khilafah Ini Sudah Cetho, Mbok Ya Jangan Dikriminalisasi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, September 4, 2020

Khilafah Ini Sudah Cetho, Mbok Ya Jangan Dikriminalisasi


Adam Syailindra

Blow-up terhadap anti Khilafah dan HTI beberapa tahun ini memang cukup fenomenal. Inilah kemudian di lapangan berusaha ditunggangi oleh kaum sekular-liberal guna mendiskreditkan Ideologi Islam. 

Sebagai bagian dari ajaran Islam, para ulama salaf (terdahulu) maupun khalaf (kekinian) membahas masalah ini. Makanya, pembahasan soal khilafah ini bukan sesuatu yang baru. Bahkan istilah ‘khilafah’ ini sudah dinyatakan secara langsung oleh Rasulullah SAW, 14 abad yang lalu.

Khusus dalam lingkup empat mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), Syeikh Abdurrahman al-Jaziri dalam kitabnya, Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah, menyebutkan, "Para imam mazhab yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad) rahimahumulLah telah berijmak bahwa imamah (khilafah) itu fardhu."

Lebih khusus lagi, menurut para ulama mazhab Syafi’i, kewajiban menegakkan khilafah bisa ditemukan antara lain dalam kitab: Al-Umm (1/188) karya Imam Syafi'i, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah (hlm. 5) karya Imam al-Mawardi; Rawdhat al-Thalibin wa 'Umdat al-Muttaqin (10/42) dan lainnya.

Terkait khilafah, Wahbah Az-Zuhaili berkata, "Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah Kubra dan Imaratul Mu'minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama." (Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881).

Kata khilâfah banyak ditemukan dalam hadits. "Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada Khilafah dan rahmat (HR al-Bazzar). Kata khilâfah dalam hadits ini memiliki pengertian: sistem pemerintahan, pewaris pemerintahan kenabian. Dan ini dikuatkan oleh sabda Rasul SAW: Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Sungguh setelah aku tidak ada lagi seorang nabi, tetapi akan ada para khalifah  yang banyak." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pernyataan Rasul SAW, "Sungguh setelah aku tidak ada lagi seorang nabi," mengisyaratkan bahwa tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang menggantikan beliau. Khalifah hanya menggantikan beliau dalam tugas dan jabatan politik, yaitu memimpin dan mengurusi umat.

Kedua hadits tersebut bisa dipahami bahwa bentuk pemerintahan yang diwariskan Nabi SAW adalah khilafah. Karena itulah menurut Imam al-Mawardi, "Imamah (Khilafah) itu ditetapkan sebagai khilafah (penggganti) kenabian dalam pemeliharaan agama dan pengaturan dunia dengan agama." (Al-Mawardi, Al-Ahkâm ash-Shulthâniyah, hlm. 5).

Hal senada dinyatakan oleh Ibnu Khaldun, "Khilafah pada hakikatnya adalah pengganti dari Shâhib asy-Syâr’i (Rasulullah SAW) dalam pemeliharaan agama dan pengaturan urusan dunia dengan agama." (Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah, hlm. 190).

Dalil-dalil tentang khilafah pun sangat mudah didapatkan baik dalam Alquran, Sunnah, maupun ijmak sahabat. Di kitab-kitab kuning di pesantren, masalah ini pun dibahas.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here