Memahami Dalil Syariah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, September 4, 2020

Memahami Dalil Syariah


Abu Inas (Tabayyun Center)

Dalil-dalil syariah merupakan ushul syariah. Posisinya sama dengan ushuluddin, yakni seperti akidah. Ushul syariah baik ushuluddin atau ushul ahkam, yaitu dalil-dalil syariah, harus qath'idan tidak boleh bersifat zhanni. Hal itu karena firman Allah SWT:

﴿وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا﴾

Kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangka-an itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (QS Yunus [10]: 36).

 

Jumhur ulama telah menyatakan bahwa ushûl ahkâm wajib bersifat qath'i. Imam asy-Syathibi menyatakan, "Ushul fikih di dalam agama adalah qath'i tidak zhanni. Dalil hal itu, bahwa ushûl ahkâm itu kembali pada kulliyat syariah. Sesuatu yang demikian adalah qath’i."

Imam asy-Syathibi juga menyatakan, "Seandainya boleh menjadikan zhanni sebagai pokok dalam ushul fiqih, niscaya boleh menjadikannya sebagai pokok dalam ushuluddin, dan menurut kesepakatan tidaklah demikian. Karena itu demikian juga di sini, sebab penisbatan ushul fiqih termasuk bagian dari pokok syariah seperti penisbatan ushuluddin."

Lebih dari itu, ayat-ayat al-Quran secara gamblang melarang zhann dalam ushul, dan mencela orang yang mengikuti zhann. Itu merupakan nas bahwa ushul syariah secara mutlak baik ushuluddin atau ushûl ahkâm, wajib bersifat qath'i, dan tidak boleh bersifat zhanni. Karena itu di dalam ushul fikih sama sekali tidak ada yang tidak qath'i, karena adanya larangan yang gamblang tentang hal itu, tetapi semua ushul fikih harus qath'i

Berdasarkan hal itu, dalil syar'i hingga dinilai sebagai hujjah harus dinyatakan ke-hujjah-annya oleh dalil qath’i. Selama tidak tegak dalil qath'i atas ke-hujjahan-nya maka tidak dinilai sebagai dalil syar'i. Dalil-dalil yang tegak dalil qath'i atas ke-hujjah-annya hanya ada empat, yaitu: al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas yang memiliki 'illat yang ditunjukkan oleh nas syariah. Selain keempat dalil itu maka tidak bisa dinilai sebagai dalil syar'i, sebab tidak tegak dalil qath’i atas ke-hujjah-annya.

Keempat dalil inilah yang disepakati oleh seluruh ulama dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Adapun selainnya maka tidak ada dalil qath'i yang menyatakan ke-hujjah-annya, melainkan hanya dinyatakan oleh dalil zhanni sehingga tidak bisa dinilai sebagai dalil syariah. Selain keempatnya—baik istihsan, al-mashalih al-mursalah atau al-istishlah, al-istishhab, al-'urf, madzhab ash-shahabi, syar'u man qablana (syariah orang sebelum kita- dan adz-dzara'i')—tidak dinilai sebagai dalil, namun disebut syubhat ad-dalîl.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here