Memata - Matai Indonesia Adalah Bentuk Permusuhan! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, September 26, 2020

Memata - Matai Indonesia Adalah Bentuk Permusuhan!


Fajar Kurniawan (analis senior PKAD)

Dari 2,4 juta orang yang ada di database mulai dari 35.000 warga Australia dan 2.100 WNI data bocor ditangan perusahaan Zhenhua Data, yang berbasis di Shenzen, China. Perusahaan ini kabarnya memiliki hubungan dengan jaringan militer dan intelijen Beijing, telah mengumpulkan informasi besar terkait data pribadi. Data yang bocor terdapat tokoh-tokoh terkemuka dan berpengaruh dari segala dunia. Dilansir Tribunmanado.co.id dari Serambi.com dari ABC News, Kamis (24/9/2020) informasi data itu diyakini telah digunakan oleh Badan Intelijen China. Perusahaan Zhenhua memiliki Tentara Pembebasan Rakyat dan Partai Komunis China di antara klien utamanya. Informasi yang dikumpulkan termasuk tanggal lahir, alamat, status perkawinan, foto, pilihan politik, kerabat, dan ID media sosial. (https://kupang.tribunnews.com/2020/09/25/bocor-ribuan-data-wni-nongol-di-tangan-perusahaan-intelijen-china-tanggal-lahir-alamat-hingga-foto)

Catatan:

Kami mengecam tindakan penyadapan rakyat Indonesia, penyadapan merupakan tindakan tindakan permusuhan. Jika terbukti mela,ukan tindakan mata-mata oleh negara dan perusahaan asing di Indonesia, berarti menolak klaim yang dibuat oleh Pemerintah China bahwa negara ini mencari hubungan bilateral yang bersahabat dengan Indonesia.

Tindakan memata-matai negara asing di Indonesia adalah salah satu dari berbagai bentuk intervensi neo-kolonialisme di dunia Muslim. Kami telah melihat bentuk yang lebih langsung dan brutal dari intervensi dalam invasi Irak dan Afghanistan termasuk penindasan rezim China kepada muslim Uighur. 

Kami tak luput mengutuk sekeras-kerasnya tindakan permusuhan ini oleh negara kapitalis seperti AS dan intervensi agresifnya di dunia Muslim yang lebih luas. Pembenaran murahan oleh bagi siapapun terhadap tindakan mata-mata ini dengan alasan keamanan nasional dan bahwa 'semua pemerintahan juga mengumpulkan informasi' terdengar konyol. Apakah rezim itu senang dan tidak keberatan jika telepon selularnya disadap oleh lembaga-lembaga asing? 

Sikap meremehkan atas seluruh masalah ini merupakan indikasi dari sikap arogan negara-negara kapitalis terhadap negara-negara lain, yang menganggap bahwa mereka berhak untuk campur tangan dalam urusan orang lain.

Kami mengingatkan bahwa kedutaan-kedutaan negara - negara imperialis di dunia Muslim digunakan sebagai sarana untuk memajukan agenda neo-kolonial negara-negara itu. Bahkan sudah diketahui sebagian publik sebelumnya bahwa Australia memonitor kawasan Asia Pasifik untuk AS melalui 'listening post'. Badan intelejen Australia, Defence Signal Directorate (DSD) bekerja sama dengan AS National Security Agency (NSA) Amerika dalam kegiatan mata-mata yang terkenal  di seluruh dunia

Informasi itu juga mengumpulkan data akun Twitter, Facebook, Linked-In, Instagram dan bahkan TikTok, serta berita, catatan kriminal, dan pelanggaran.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here