Mendudukkan Toleransi Ke Tempat Yang Seharusnya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, September 7, 2020

Mendudukkan Toleransi Ke Tempat Yang Seharusnya


M. Nur Rakhmad, S.H.

Istilah Toleransi dan Intoleransi akhir-akhir ini sering digunakan dan dilontarkan dari pihak tertentu ke pihak lain. Jika menelisik dan untuk mengetahui  istilah Toleransi merupakan istilah yang berasal dari Barat. Secara bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance. Terminologinya adalah "to endure without protest" yang berarti menahan perasaan tanpa protes. Menurut Webster’s New American Dictionary, arti toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.

Kata tolerance kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi toleransi yang berasal dari kata toleran, mengandung arti: bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Istilah toleransi sejatinya tidak ada dalam khasanah Islam. Menurut Dr. Anis Malik Toha, pada dasarnya istilah toleransi  tidak terdapat dalam istilah Islam. Istilah ini termasuk istilah modern yang lahir dari Barat sebagai respon dari sejarah yang meliputi kondisi politis, sosial dan budayanya yang khas dengan berbagai penyelewengan dan penindasan (Tren Pluralisme Agama: Sebuah Tinjauan Kritis, Gema Insani Press. 2005).

Alhasil, Isu intoleransi adalah permainan kaum liberal sebagai corong Barat. Karakteristik kaum liberal adalah menjadikan kebebasan sebagai fokus utama mereka, yakni kebebasan tanpa batas yang menerjang norma-norma agama. Tema sentral yang biasa mereka usung ialah pemisahan agama dari politik, demokrasi, HAM, kesetaraan jender, kebebasan penafsiran teks agama, toleransi beragama, kebebasan berekspresi, persamaan agama (pluralisme).

Maka dari itu, umat Islam tak perlu terpancing dengan stigmatisasi intoleransi ini. Umat tidak dibenarkan jika kemudian—agar tidak disebut intoleran—bersikap memaklumi dan menghargai  sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Toleransi Yang Keliru

Atas nama toleransi, masyarakat Indonesia khususnya umat Islam diarahkan pihak tertentu supaya tidak mempersoalkan keberadaan Ahmadiyah, agar terbuka terhadap perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender), mengizinkan adanya pemurtadan, nikah beda agama (Muslimah menikah dengan lelaki non muslim), nikah sesama jenis, dan seterusnya. Padahal hal itu jelas-jelas terlarang dalam Islam.

Sebagaimana rekomendasi Konferensi Misionaris di Kota Quds tahun 1935, umat Islam didorong supaya menjauh dari ajaran Islam. Usul Samuel Zweimer, "Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai orang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana seorang Muslim. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya." (Adian Husaini, 2001).

Melalui isu toleransi ini, Barat dan LSM liberal berusaha  terus menggulirkan HAM ala Barat terhadap masyarakat Indonesia. Perlu diketahui, ide HAM merupakan derivasi dari demokrasi. Demokrasi berdiri dengan landasan  paham kebebasan; baik itu kebebasan beragama, berperilaku, berpendapat, maupun berkepemilikan.

Paham kebebasan ini amat berbahaya. Terbukti dengan adanya jaminan terhadap kebebasan beragama, lahir banyak  pemurtadan dan aliran sesat. Kebebasan berpendapat memunculkan berbagai penghinaan terhadap Rasul saw. dan Islam. Kebebasan kepemilikan melahirkan privatisasi dan penjajahan asing atas sumberdaya alam milik rakyat. Kebebasan berperilaku outputnya seks bebas, aborsi, dan seterusnya.

Dalam perjalanannya, kampanye HAM selalu tumpul sebelah dalam implementasi. Sebab, pada realitanya isu HAM lebih dominan merugikan Islam dan kaum Muslim. Pegiat HAM begitu gencar mengangkat isu HAM manakala hal itu menyangkut Islam dan kaum Muslim yang menjadi tertuduh. Sebaliknya, mereka bersikap diam seribu bahasa ketika pelaku pelanggar HAM adalah Amerika, Inggris, dan sekutunya.

Ketidaksukaan LSM liberal terhadap syariah Islam dan para pengusungnya terlihat jelas dalam kesimpulan berbagai penelitian dan survei yang mereka keluarkan tersebut. Mereka menuding syariah Islam sebagai ancaman negara. Mereka pun berusaha memberikan stigma negatif kepada pengusung ideologi Islam dengan memberi sebutan radikal, fundamentalis, atau ekstremis agar mereka dijauhi masyarakat.

Paradigma ideologi kaum liberal ialah agama dilarang ikut campur tangan terhadap urusan negara (sekularisme). Akibatnya, lahirlah berbagai bentuk liberalisasi seperti liberalisasi bidang politik (John locke), bidang ekonomi (Adam Smith), liberalisasi pemikiran (John Stuart mill). Jadi, wajar jika kemudian mereka antipati dengan apa yang namanya formalisasi syariah Islam. Mereka berusaha sekuat tenaga menghadang laju perjuangan penerapan syariah ke ranah negara. Salah satu strategi yang mereka gunakan ialah memberikan stigma negatif pada syariah Islam dan para pengembannya melalui penelitian dan survei-survei yang tak berbobot itu.

Sebagai contoh lagi, setara Institute juga pernah merilis survei tentang pandangan masyarakat menyoal aktivitas kekerasan oleh ormas-ormas Islam yang dikaitkan dengan sikap intoleran, seperti dikutip Media Umat edisi Maret 2011, Setara memaparkan bahwa FPI dinilai sebagai organisasi keagamaan yang paling sering melakukan kekerasan (61,9 persen), disusul (3,5 persen) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Nahdlatul Ulama (2,6 persen), Muhammadiyah (1,9 persen). Sejumlah 20,2 menyebut tidak ada, dan 9 persen tidak menjawab. Organisasi lainnya hanya disebut oleh 0,9 persen responden.

Sungguh aneh. Padahal siapapun tahu bahwa HTI, misalnya, sama sekali tidak pernah memiliki rekam jejak kekerasan dalam aktivitasnya, namun bisa menyabet peringkat kedua soal kekerasan. Semakin tampaklah apa yang menjadi agenda tersembunyi di balik penelitian LSM-LSM komprador Asing tersebut.

Dalam Versi Islam

Kaum Muslim dewasa ini mendekatkan kata toleransi pada kata tasamuh. Menurut DR. Anis Malik Toha, sulit untuk mendapatkan padanan katanya secara tepat dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti toleransi dalam bahasa Inggris. Hanya saja, beberapa kalangan Islam mulai membincangkan topik ini dengan menggunakan istilah tasamuh, yang kemudian menjadi istilah baku untuk topik ini (Tren Pluralisme Agama: Sebuah Tinjauan Kritis. Gema Insani Press. 2005)

Tasamuh artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut. (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).

Membincangkan tentang sikap tasamuh (toleransi dalam Islam), Islam telah mengajarkan dan memperagakan dengan begitu apik sejak masa Rasulullah saw. Islam memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain, tidak memaksa non-Muslim untuk masuk Islam. Rasul saw. pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim, menghargai tetangga non-Muslim, dsb.

Negara Islam perdana di Madinah yang Rasul saw. pimpin kala itu juga menunjukkan kecemerlangannya dalam mengelola kemajemukan. Umat Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski mereka hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-Muslim mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Islam juga mengajarkan bahwa penyimpangan hal pokok (ushul) dalam Islam tidak boleh ditoleransi, tetapi wajib diluruskan. Namun, perbedaan dalam cabang (furu') harus dihargai dengan jiwa besar dan lapang dada. Karena itu, misal persoalan Ahmadiyah, adalah sudah jelas, itu bukan tentang perbedaan agama dan bukan pula perbedaan masalah cabang dalam Islam, tetapi merupakan ajaran yang menyimpang dari akidah Islam. Demikian pula lesbian, gay, homoseksual, transgender dan biseksual yang sering disebut LGBT, bukanlah perbedaan masalah cabang yang dibolehkan dalam Islam, tetapi aktivitas menyimpang yang tegas diharamkan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here