Peran Negara Dalam Menyelesaikan Perselisihan Akibat Tindakan - Tindakan Spekulasi (Telaah Di Sektor Pertanian) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, September 2, 2020

Peran Negara Dalam Menyelesaikan Perselisihan Akibat Tindakan - Tindakan Spekulasi (Telaah Di Sektor Pertanian)


Yuli Sarwanto (Direktur FAKTA)

Tingginya harga sejumlah komoditas pangan bisa menurunkan daya beli masyarakat. Untuk holtikultura patut diduga masih dikendalikan tengkulak.  Di tingkat petani, misal harga  komoditas  pangan seperti bawang merah, cabai, bawang putih, dan telur ayam dijual dengan harga murah kepada pengepul, sementara  di tingkat pasar,  harga komoditas tersebut terus meningkat.

Dalam perspektif Islam, pemerintah harus dapat mencegah perselisihan yang terjadi akibat tindakan-tindakan spekulasi dalam perdagangan. Banyak sekali jenis-jenis spekulasi yang mengandung kesamaran yang dilarang oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam berbagai hadits.

Jabir meriwayatkan bahwa, "Nabi saw. telah melarang muhaqalah, muzabanah, mukhabarah dan tsunaiya kecuali diketahui." (HR. Tirmidzi).

Anas meriwayatkan bahwa, "Rasulullah saw. telah melarang muhaqalah, mukhadarah, mulamasah, munabazah dan muzabanah." (HR. Bukhari)

Sistem muhaqalah merupakan panjualan komoditas pertanian yang belum dipanen untuk memperoleh hasil panen yang kering. Penjualan secara munabazah berarti seseorang menawarkan barang yang dia miliki kepada orang lain dan penjualan tersebut dianggap sah meskipun orang tersebut tidak memegang atau melihat barang tersebut. Hal ini berarti penjual langsung melemparkan barang kepada pembeli tanpa memberi kesempatan kepada pembeli untuk memeriksa barang dan harganya. Rasulullah saw. melarang praktek jual beli ini karena terdapat kemungkinan unsur penipuan dan kesalahan.

Penjualan secara mulamasah artinya seseorang menjual sebuah barang dengan boleh memegang tapi tanpa perlu membuka atau memeriksanya. Hal ini dilarang oleh Rasulullah s.a.w karena keburukannya sama seperti cara munabazah.

Abu Said al Khudri meriwayatkan bahwa "Rasulullah melarang penjualan dengan cara Mulamasah." (Diriwayatkan pula oleh Anas dan Abu Hurairah).

Kedua bentuk perdagangan seperti ini dilarang oleh Rasulullah saw. karena keduanya tidak memberi kesempatan pembeli memeriksa atau melihat barang yang dibelinya dan dapat dengan mudah ditipu atau dikelabui.

Dalam bentuk penjualan muzabanah, buah-buahan ketika masih di atas pohon sudah ditaksir dan dijual sebagai alat penukar untuk memperoleh kurma dan anggur kering. Secara sederhana dapat dikatakan sebagai menjual buah-buahan segar untuk memperoleh buah-buahan kering. Rasulullah melarang cara seperti ini karena didasari atas perkiraan dan dapat merugikan satu pihak jika perkiraan temyata salah.

Sebenarnya, jual beli buah yang ada pada pohon tidak termasuk pada jual beli majhul atau jual beli barang yang tidak ada, sebab komoditasnya yaitu buah memang sudah ada di atas pohon. Berkaitan dengan persoalan ini ada beberapa hal yang penting diperhatikan. Pertama, bila buah itu belum layak dikonsumsi maka tidak boleh memperjualbelikannya.

Jabir menyatakan tentang Nabi SAW : "Rasulullah SAW melarang berjual beli pohon hingga baik (matang)" (HR. Muslim).

"Rasulullah SAW melarang berjual beli buah hingga nampak kelayakannya." (HR. Imam Muslim)

Hadits-hadits ini dan masih banyak yang lainnya menunjukkan larangan menjualbelikan buah-buahan sebelum matang. Kedua, dari hadits-hadits itu pula dapat dikatakan bahwa bila buah-buahan itu sudah mulai nampak kelayakannya untuk dimakan maka boleh diperjualbelikan. Berdasarkan hal ini, sistem ijon yang membeli padi saat masih hijau dan belum nampak kelayakannya termasuk yang dilarang.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here