Sekolah Para Da'i - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, September 16, 2020

Sekolah Para Da'i


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Wacana radikalisme mencuat kembali. Kali ini narasi yang digunakan adalah sertifikasi dai atau da'i bersertifikat. Tujuan dari program sertifikasi dai atau dai bersertifikat adalah untuk membendung radikalisme. Hal ini bisa dilihat dari keterlibatan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang digandeng Kemenag dalam program dai bersertifikat. 

Seorang da'i atau penceramah notabenenya ia adalah orang yang menyampaikan hukum Islam di tengah - tengah masyarakat. Tentunya syarat adil dan dhabit mesti dimilikinya. 

Adil dalam pengertian bahwa ia bukanlah termasuk orang yang fasik. Orang fasik adalah orang yang seringkali melakukan pelanggaran syara'. Di samping itu, ia bukanlah termasuk orang bodoh yang mendemonstrasikan kebodohannya. Kebodohan di sini dalam pengertian bahwa ia berfatwa tanpa disertai ilmu. Jadi tatkala seseorang itu terkategori cacat sifat adilnya, tentunya tidak bisa diambil fatwa - fatwa hukum darinya. 

Sedangkan dhabit terkait dengan kekuatan hafalan dan penguasaannya. Artinya seorang da'i memang harus memastikan bahwa ia sudah menguasai materi keislaman yang akan disampaikannya. 

Pendek kata, seorang da'i itu harus ikhlash dan jujur dengan ilmunya. Ia menyampaikan apa adanya hukum Islam kepada masyarakat. Ia tidak melakukan manipulasi terhadap apa yang disampaikannya. Itu dilakukannya semata ingin mengharap ridho Allah SWT. Ia menyadari bahwa tidak selalu apa yang disampaikannya diterima masyarakat. Ia menyadari bahwa seorang da'i bukanlah layaknya seorang selebritis. 

Di sekolah besar bernama masyarakat, seorang da'i belajar untuk dewasa. Saat ia ditolak masyarakat, tidak menjadikannya berputus asa. Ia terus belajar dan memantaskan dirinya sebagai seorang da'i. Dengan kata lain, sertifikat kelayakan seorang da'i itu diberikan oleh masyarakat. Sebaliknya, masyarakat akan meninggalkannya saat tindak tanduknya tidak mencerminkan sebagai seorang da'i.

Pemerintah seharusnya berperan dalam kaderisasi da'i sehingga akan banyak lahir da'i - da'i baru yang siap terjun ke masyarakat. Pemerintah mengembangkan keterampilan dalam seni publik speaking sehingga da'i mempunyai kemampuan bersosialisasi yang mumpuni, di samping kemampuan dalam hal mempersuasi masyarakat. Bukan justru mensertifikasi da'i yang tujuannya untuk mencetak da'i - da'i yang turut mensukseskan program moderasi ajaran Islam. 

Program moderasi ajaran Islam arah dan hasilnya jelas, yakni merevisi ajaran Islam yang dianggap radikal. Bukankah revisi 55 buku PAI dari konten Khilafah dan jihad itu menjadi bagian dari moderasi itu sendiri? 

Kalau mau jujur harusnya diakui saja bahwa sistem demokrasi sudah gagal mensejahterakan rakyat. Gagal mengatasi korupsi, gagal mencegah penguasaan SDA oleh korporasi, gagal mengatasi pandemi dan seabrek kegagalan akut lainnya. Sudah waktunya masyarakat diberi jalan yang baru. Sistem Islam yakni al - Khilafah dengan penerapan syariat Islam layak ditampilkan sebagai solusi kehidupan. Diskursus tentangnya harusnya dibuka lebar. Biarkanlah masyarakat yang menilainya. Biarlah kalangan intelektual yang mengkaji kelayakannya. Jadi biarlah masyarakat menjadi sekolah besar bagi diskursus Khilafah. Kalau memang baik, tentu masyarakat yang akan mengambilnya. Dan sebaliknya, bila masyarakat menilai jelek, tentunya mereka akan menolaknya. 

Biarkanlah kaum muslimin yang melakukan penimbangan. Mereka akan senantiasa berjalan mendekat kepada ajaran Islam, hingga pada satu titik ketika Khilafah itu memang mereka temukan sebagai bagian dari kewajiban Islam, maka kaum muslimin akan memeluknya dengan erat. 

Negara semestinya berada pada posisi mengarahkan umat untuk memeluk ajaran Islam dengan seutuhnya dan sepenuhnya. Bukan justru melakukan hal yang kontraproduktif dengan melakukan program dai bersertifikat.  Dengan kata lain, syarat keadilan dan dhabit yang bila diringkas yakni syarat ketaqwaan mengalami penurunan dengan adanya program dai bersertifikat. 

Tatkala da'i sudah diberikan batasan tidak boleh menyampaikan ajaran Islam tentang Khilafah, jihad dan kewajiban mengoreksi penguasa, artinya dai bersertifikat sejatinya adalah "dai terpasung". Da'i yang sedemikian tidak lahir dari sekolah masyarakat. Da'i yang sudah diprogram dengan deradikalisasi. Padahal sejatinya deradikalisasi adalah menyensor ajaran Islam. Dan apakah dipikir mereka akan lulus ujian di sekolah yang bernama masyarakat?  Mungkin awal mulanya iya. Tapi sekali lagi yang harus dipahami bahwa kaum muslimin secara fitrahnya akan mencari kesempurnaan Islam. Artinya kaum muslimin akan segera meninggalkan mereka. 

Betul, menyampaikan keutuhan ajaran Islam butuh perjuangan. Mengembalikan Khilafah ke tengah - tengah umat penuh onak dan duri. Bagi kalangan yang peka pandangannya akan bisa melihat bahwa umat meskipun perlahan tapi pasti menuju dan merapat pada Khilafah. Tokoh umat termasuk para ulamanya yang mukhlis sudah membimbing umat menuju terwujudnya sistem Islam. Bukankah semakin masifnya upaya menghalangi kebangkitan Islam itu sejatinya semakin dekatnya masa itu. Suatu masa yang dengannya kaum muslimin bergembira karena pertolongan Allah Swt. Semakin besar upaya menghalangi kembalinya Khilafah, hal itu hanya akan mempercepat kembalinya Khilafah ke pangkuan kaum muslimin. 

# 13 September 2020


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here