Sinergi Lintas Gerakan, Perlukah? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, September 10, 2020

Sinergi Lintas Gerakan, Perlukah?


Achmad Fathoni (Direktur El Harokah Research Center)

Kapitalisme menyebabkan kekacauan dan pelecehan umat Islam. Dan pangkalnya adalah sebab pengaturan politik sekuler oleh rezim yang dikendalikan musuh Islam. Sistem demokrasi yang dijajakan Barat ke negeri Muslim adalah pangkal masalah. Demokrasi kapitalis tidak menghendaki Islam bangkit dan memimpin. Islam hanya ditempatkan pada area sangat individual. Tak ada larangan untuk salat, zakat, sedekah, puasa, haji. Jika pun Muslim berbisnis, akan diawasi. Jika Islam tampil dalam urusan politik publik, diharuskan menggunakan topeng, sehingga berwajah moderat. Bukan wajah asli Islam yang sebenarnya. Sebab hukum-hukum politik publik semisal Khilafah, hukum sanksi, hukum pergaulan sosial, ekonomi, hukum jihad, dsb harus disembunyikan dari umat. Dilakukan dengan cara penyesatan berpikir, yaitu hukum-hukum tersebut dikesankan 'garang' karena akan mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Jelas setiap kezaliman pasti menimbulkan reaksi penolakan. Penting disadari, bahwa setiap gerakan Islam apa pun yang akan menegakkan kehidupan yang islami pasti akan berhadapan dengan tiga pertanyaan pokok. Pertama, bagaimana gerakan itu melakukan penilaian terhadap masyarakat yang ada sekarang. Kedua, gambaran tentang tatanan masyarakat ideal seperti apa yang dicita-citakan. Ketiga, bagaimana perubahan masyarakat yang ada sekarang menuju masyarakat yang dicita-dicitakannya itu akan dilakukan.

Dengan demikian, semestinya paling sedikit ada tiga hal yang bisa menjadi titik kesamaan di antara gerakan-gerakan Islam: Pertama, kondisi umat Islam sekarang memang dalam keadaan terpecah-belah dan terpuruk di segala bidang. Singkatnya, mereka jauh dari apa yang dikatakan sebagai khayru ummah. Kedua, dengan demikian harus dilakukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun umat yang bersatu dan unggul sehingga predikat khayru ummah benar-benar dapat diwujudkan kembali secara nyata. Ketiga, predikat khayru ummah tidaklah mungkin diwujudkan kecuali umat hidup di dalam masyarakat yang islami, yang di dalamnya diterapkan syariat Islam dan dipimimpin oleh seorang imam.

Bahwa di antara gerakan-gerakan Islam terjadi perbedaan pendapat dalam memahami detail mengenai syariat dan konsep imamah, menurut saya tidaklah menjadi soal. Yang penting, semua gerakan sama-sama merujuk pada syariat dan juga sama-sama memahami pentingnya kepemimpinan bagi seluruh umat. Ibarat duduk, kita sudah berada di lantai yang sama. Insya Allah, segala perselisihan akan tidak sulit untuk diselesaikan.

Antargerakan Islam tentu seyogyanya bisa saling bekerjasama. Kalau tidak, ini sangatlah aneh, karena toh kita sama-sama bekerja untuk kemajuan Islam. Tinggallah kita bicarakan bentuk-bentuk kerjasama seperti apa yang bisa dilakukan. Yang paling minim adalah dalam bentuk husnu jiwar (bertetangga baik). Maksudnya, kerjasama itu dilakukan dengan menjaga agar hubungan antargerakan tetap berlangsung baik. Untuk itu diperlukan komunikasi, khususnya di antara para pemimpinnya. 

Dengan komunikasi, saling pengertian dan kesepemahaman akan mudah diciptakan. Ini merupakan bekal penting untuk meningkatkan kerjasama yang lebih luas lagi.
Secara praktis, bentuk kerjasama seperti apa yang bisa dikembangkan antargerakan Islam? Bentuk kerjasama praktis antargerakan Islam yang bisa dikembangkan, misalnya, dalam merespon persoalan-persoalan umat yang nyata.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here