Solusi Syariah Mewujudkan Kesejahteraan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, September 18, 2020

Solusi Syariah Mewujudkan Kesejahteraan


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Menurut seorang pengamat ekonomi, Indonesia menggunakan struktur ekonomi selama ini persis seperti gelas anggur. Di mana atasnya besar, lalu mengecil ke bawah. Yang atas itu diisi oleh korporat dan BUMN besar. Ditaksir ada sekitar 160 BUMN dan ratusan perusahaan (korporat) keluarga. Sementara di bawahnya besar sekali, terdapat 60 juta usaha kecil dan rumah tangga.

Tentu struktur seperti itu sangat berbahaya bagi ketahanan ekonomi nasional. Yang atas makin kaya dan yang paling bawah makin miskin, sehingga menimbulkan kecemburuan ekonomi. Jika hal tersebut dicampur dengan faktor etnis dan faktor agama, sangat berbahaya sekali. Ini bisa menjadi sumber disintegrasi dalam bidang ekonomi. Untuk itu bangsa ini butuh solusi alternatif untuk mencegah terjadinya ledakan krisis ekonomi.

Solusi itu solusi Islam. Berdasarkan penggalian dari literatur khazanah Islam yang telah terbukti mampu mensejahterakan rakyatnya, setidaknya ada 3 konsep ekonomi Islam untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Pertama: Kepemilikan harta, meliputi kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.

Kedua: Pengelolaan harta, mencakup pemanfaatan dan pengembangan harta, yaitu mengutamakan pembelanjaan wajib, sunnah, kemudian yang mubah. Sistem ini melarang pemanfaatan harta yang tidak syar'i dan negara wajib memberikan sanksi ta'zîr karena pemanfaatan harta haram.

Syariah Islam mengatur jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi tiap individu masyarakat, baik berupa pangan, pakaian, dan papan, serta lapangan pekerjaan (Ramadhan, 2004).

Dalam hal memenuhi kebutuhan pokok ini Islam telah mewajibkan kaum laki-laki untuk bekerja untuk mencukupi kebutuhan pokok dirinya, sanak kerabatnya yang tidak mampu, serta istri dan anak-anaknya. (QS al-Baqarah [2]: 233).

Bagi pihak yang tidak mampu bekerja, sanak kerabatnya akan menjaminnya. Jika tidak mampu, beban menafkahi diserahkan kepada negara. Kas negara akan menanggung nafkah orang-orang yang tidak mampu bekerja dan berusaha.

Negara selayaknya juga menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya, agar rakyat bisa bekerja dan berusaha. Negara harus mendorong rakyatnya agar giat bekerja supaya mereka bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Jika negara tidak mampu, seluruh kaum Muslim wajib menanggungnya. Ini direfleksikan dengan cara penarikan pajak oleh negara dari orang-orang yang mampu, lalu didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Ketiga: Distribusi kekayaan. Haram menimbun emas, perak, uang atau modal, yaitu jika ditimbun bukan untuk membiayai sesuatu yang direncanakan. Islam pun hanya membolehkan ekonomi riil dan mengharamkan praktik ekonomi non-riil. Mata uang menggunakan standar emas dan perak. Semua ini menjamin pendistribusian kekayaan masyarakat secara adil, menjamin semua aktivitas ekonomi bersifat riil serta memiliki efek langsung terhadap kesejahteraan dan peningkatan taraf ekonomi.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tercatat dalam tinta sejarah bahwa beliau dikenal sebagai khalifah yang sukses menyejahterakan rakyatnya. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata:

Saya pernah diutus Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan-nya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun. Khalifah Umar memulai dari dirinya sendiri dengan menjual semua kekayaan seharga 23.000 dinar, lalu menyerahkannya semua uang hasil penjualannya ke Kas Negara (Baitul Mal).

Solusi syariah untuk mewujudkan kesejahteraan tersebut tentunya harus dengan adanya pemahaman (mafâhîm), pandangan hidup (maqayis) dankeyakinan yang penuh terhadap pemikiran dan aturan-aturan (qana’ât) di tengah masyarakat. Lalu diterapkanlah sistem ekonomi Islam dalam negara Khilafah yang akan menerapkan sistem ekonomi yang adil, manusiawi, menyejahtera-kan, dan bermartabat dengan penuh keberkahan dari Allah Swt


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here