Urgensi Mengoreksi Pemimpin - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, September 23, 2020

Urgensi Mengoreksi Pemimpin


Suardi Basri (el Harokah Research Center)

Menasihati para penguasa menyimpang dan zalim secara terang-terangan adalah bavian dari muhasabah. Muhâsabah adalah metode syariah yang telah dibawa oleh Islam untuk meluruskan penyimpangan penguasa dan mengembalikan-nya ke jalan yang benar. Parameter menyimpang atau tidak tentu saja syariah. Karena itu, fungsi muhâsabah bukan hanya hak bertanya, meminta penjelasan atau menyatakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan penguasa, tetapi juga meliputi kewajiban untuk menghentikan penyimpangan (termasuk kezaliman), mengubah kemungkaran dan mengembalikannya pada jalan yang benar. Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ رَأَى سُلْطَانًا جَائِرًا مُسْتَحِلاًّ لِحَرَمِ اللهِ نَاكِثًا لِعَهْدِ اللهِ مُخَالِفًا لِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ يَعْمَلُ فِي عِبَادِ اللهِ بِالإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ فَلَمْ يُغَيِّرْ عَلَيْهِ بِفِعْلٍ وَلاَ قَوْلٍ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَدْخُلَهُ مَدْخَلَهُ»

Siapa saja yang melihat seorang penguasa yang zalim, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, menodai janji Allah, menyimpang dari sunnah Rasulullah saw., dan memerintah hamba Allah (sesama manusia) dengan dosa dan permusuhan, kemudian dia tidak mengubahnya, baik dengan ucapan maupun tindakan, maka telah menjadi hak Allah untuk memasukkannya di tempat yang sama. (HR at-Thabari dalam Târîkh-nya).

Jadi, tujuan muhâsabah adalah untuk mengubah kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, dan mengembalikannya ke jalan kemakrufan. Ini ditegaskan dalam firman Allah:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan serta menyuruh kemakrufan dan mencegah kemungkaran; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali ‘Imran [3]: 104).

Amar makruf dan nahi mungkar bukan hanya menampakkan ketidaksetujuan terhadap tindakan penguasa yang menyimpang, tetapi sekaligus membawa penguasa tersebut agar tetap terikat dengan perintah dan larangan Allah Swt.

Tugas dan fungsi muhâsabah ini juga merupakan tanggung jawab syariah, yang telah dipahami oleh para Sahabat dan kaum Muslim sejak Negara Islam berdiri pertama kali di Madinah. Mereka juga telah terbiasa melakukan muhâsabah kepada Rasulullah saw., antara lain seperti yang pernah dilakukan dalam kasus Shulh Hudaibiyyah (Perjanjian Hudaibiyah) dan pembagian ghanîmah Perang Hunain. Mereka pun telah melakukan muhâsabah terhadap para khalifah sepeninggal Nabi saw. Meski demikian, tak satu pun dari tindakan itu yang dinafikan oleh para Sahabat. Karena itu, selain sunnah Nabi, tugas dan fungsi muhâsabah ini juga telah menjadi kesepakatan di kalangan Sahabat (Ijmak Sahabat). Perhatikanlah, bagaimana ketegasan seorang Sahabat kepada Umar saat menjabat sebagai kepala negara (khalifah):

«لَوْ رَأَيْنَا فِيْكَ اِعْوِجَاجًا لَقَوَّمْنَاهُ بِحَدِّ سُيُوْفِنَا»

Kalau saja kami melihatmu melakukan penyimpangan maka kami pasti akan meluruskannya dengan pedang kami.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here