Agar Cinta Kepada Baginda Nabi saw. Tidak Sekadar Klaim - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, October 26, 2020

Agar Cinta Kepada Baginda Nabi saw. Tidak Sekadar Klaim


Ainun D. Nufus - Direktur Muslimah Care

Saat memperingati Maulid Nabi saw. atau Maulid Rasulullah saw., sejatinya umat Islam sedang memperingati kelahiran Muhammad sebagai nabi sekaligus rasul; yakni Muhammad sebagai pembawa kabar dari Allah dan sebagai utusan-Nya yang membawa risalah. Risalah itu tidak lain adalah al-Quran yang menjadi sumber syariah Islam.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang dilakukan oleh sebagian umat Islam tentu memiliki tujuan. Di antaranya yang terpenting adalah terus menumbuhkan sekaligus memelihara kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Mencintai Nabi saw. adalah kewajiban. Sebaliknya, tidak mencintai Beliau apalagi sampai membenci Beliau adalah sebuah kemaksiatan. Apalagi Allah SWT telah menyandingkan kecintaan kepada Nabi saw. dengan kecintaan kepada-Nya. Allah bahkan telah mencela orang yang mencintai sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya:

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah (wahai Muhammad), "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri (atau suami-suami) dan kaum keluarga kelian, juga harta yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab)-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang fasik (derhaka)." (QS at-Taubah [9]: 24).

Allah SWT juga berfirman:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Nabi itu (hendaklah) lebih diutamakan oleh orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri. (QS al-Ahzab [33]: 6).

Dalam sebuah hadis ada riwayat sebagai berikut:

Pada suatu hari Umar bin al-Khaththab berkata kepada Rasulullah saw., "Duhai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu, kecuali dari diriku sendiri." Rasulullah saw. menjawab, "Tidak, Demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Lalu berkatalah Umar, "Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!" (HR al-Bukhari dalam Shahih-nya. Lihat: Fath al-Bari, XI/523, no: 6632)

Banyak hadis senada yang menegaskan kewajiban mencintai Rasulullah saw. Ini adalah salah satu inti ajaran Islam yang dibawa Rasul sendiri. Bahkan seorang Muslim dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah saw.—tentu setelah kecintaan kepada Allah— atas kecintaan terhadap yang lain.

Cinta kepada Baginda Nabi saw. tentu tidak boleh sekadar klaim; ia harus diwujudkan dalam perilaku keseharian. Apa dan bagaimana perwujudan hakiki dari kecintaan kepada Baginda Nabi saw.? Tidak lain dengan cara meneladaninya. Apalagi Allah SWT telah memerintahkan hal ini:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (QS al-Ahzab [33]: 21).

Allah pun telah mengaitkan upaya meneladani dan mengikuti Rasul saw. sebagai bukti kecintaan kepada-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Katakanlah (Muhammad), "Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku nsicaya Allah akan mencintai kalian." (QS. Ali-Imran [3]: 31).

Lalu bagaimana cara mengikuti Rasul itu? Tidak lain dengan menaati Beliau. Ketaatan kepada Rasul saw. pada dasarnya merupakan perwujudan ketaatan kepada Allah SWT:

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ

Siapa saja yang menaati Rasul sesungguhnya ia telah menaati Allah. (QS an-Nisa' [4]: 80).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here