Berlari Menyusuri Jalan Nabi Muhammad S.A.W. - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Berlari Menyusuri Jalan Nabi Muhammad S.A.W.


Hadi Sasongko

Ada penjelasan berharga yang disampaikan Imam Al-Amidiy dalam Kitab Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam. Ia menyatakan; seseorang baru absah disebut "meneladani dan mengikuti Nabi SAW", jika telah memenuhi tiga perkara.  Pertama, [mitslu fi'lihi] semisal dengan perbuatan Nabi SAW.  Sebagai contoh, Nabi SAW mengerjakan shalat lima waktu dengan berdiri lurus. Seseorang tidaklah disebut meneladani beliau SAW, jika ia mengerjakan shalat lima waktu dengan berkacak pinggang, atau membelakangi kiblat.

Kedua, ['ala wajhihi] tujuan dan niat perbuatan harus sesuai dengan tujuan dan niat perbuatan Nabi SAW.   Misalnya, Nabi SAW melaksanakan shalat dua rakaat dengan niat wajib.  Seseorang sah disebut ittiba' Rasulullah SAW, jika ia mengerjakan shalat dua rakaat tersebut dengan niat wajib, sebagaimana niat Nabi SAW. Ia tidak disebut meneladani Nabi SAW jika ia melaksanakan shalat dua rakaat tersebut dengan niat sunnah.

Ketiga, [min ajlihi] karena sebab beliau SAW.  Seseorang tidak disebut meneladani Nabi SAW jika ia mengerjakan suatu perbuatan bukan karena mengikuti Nabi SAW, meskipun bentuk dan sifat (tujuan dan niat) perbuatannya sama dengan bentuk dan sifat perbuatan Nabi SAW.  Oleh karena itu, jika Nabi SAW mengerjakan suatu perbuatan di suatu tempat atau waktu tertentu, maka, seseorang Muslim tidak dituntut untuk mengerjakan perbuatan tersebut pada tempat dan waktu yang sama, kecuali ada ketetapan dari Nabi SAW, bahwa perbuatan tersebut harus dilaksanakan pada waktu dan tempat tertentu.  Dalam kondisi semacam ini, seorang Muslim wajib melaksanakan perbuatan tersebut pada tempat dan waktu yang telah ditetapkan Nabi SAW. Misalnya, keharusan puasa di bulan Ramadhan, bukan di bulan lain; wajibnya ibadah haji di Arafah bukan di tempat lain; serta wajibnya shalat lima waktu pada waktu-waktu yang telah ditetapkan Nabi SAW. Adapun ibadah-ibadah lain yang pelaksanaannya tidak dikhususkan pada waktu dan tempat tertentu, maka, seorang Muslim diperkenankan melaksanakannya pada tempat dan waktu berbeda, seperti jual beli, berdagang, bekerja, dzikir, shalat muthlaq, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya, meneladani Nabi SAW harus diwujudkan dalam bentuk menjalankan syariat Islam secara menyeluruh tanpa memilih-milih dan memilah-milah.  Meneladani Nabi SAW tidak cukup hanya dengan klaim, propaganda, dan peringatan maulid belaka.  Namun, meneladani Nabi SAW harus diwujudkan dengan cara menjalankan syariat Islam dalam ranah individu, masyarakat, dan negara.

Selain itu,  meneladani Nabi SAW harus diwujudkan juga dengan cara mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, menolak keyakinan dan sistem hukum yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam; dan berjuang mendirikan kembali Daulah Islamiyyah yang diajarkan Nabi SAW dan ditempuh oleh para shahabat. Dengan cara inilah seorang Muslim dianggap benar-benar meneladani Nabi SAW, baik perkataan dan perbuatan beliau SAW.

Walhasil, meneladani Nabi SAW harus dimaknai dengan menerima syariat Islam secara penuh, menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan, dan mendakwahkannya ke seluruh penjuru dunia.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here