Berpolitiklah Dengan Benar - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 2, 2020

Berpolitiklah Dengan Benar


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Islam tidak bisa dipisahkan dari urusan politik. Namun sebagian kalangan memandang kalau politik itu tidak ada kaitannya dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Politik dianggap kotor.

Tenti ini tak benar. Pandangan seperti itu lahir dari paham sekularisme yang memisahkan antara Islam dengan kehidupan, termasuk politik. Kaum sekular mendudukkan agama hanya sekadar shalat, zikir, membaca al-Quran, dan haji; hanya ritual saja. Padahal Islam itu agama paripurna dan Allah memerintahkan kita untuk menerapkannya secara total (kâffah). Juga, secara syar'i politik Islam itu bermakna "ri'âyatu syu‘ûnil ummah bil ahkâmisy syar'iyyah" (mengurusi urusan umat dengan syariah Islam). Jadi, justru sebaliknya, politik dalam maknanya seperti ini merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallâh).

Adapun caranya, pertama: jadikan dasar dan dorongan dalam melakukannya adalah iman. Kita meyakini bahwa kaum Muslim diperintahkan untuk memperhatikan umat Islam. Bahkan Rasulullah saw. yang mulia menyatakan bahwa siapa saja yang bangun pagi, tetapi tidak memperhatikan urusan kaum Muslim maka mereka hakikatnya bukanlah bagian dari kaum Muslim itu. Kedua: harus diniatkan lillâhi ta'âlâ. Aktivitas politik jangan ditujukan untuk mendapatkan kursi dan jabatan, tetapi untuk mengurusi rakyat dengan hukum-hukum Allah. Aktivitas politik adalah wujud perjuangan. Ketiga: aktivitas yang kita lakukan merupakan aktivitas politik Islam, yakni aktivitas untuk mengurusi berbagai urusan kaum Muslim untuk diselesaikan dengan ajaran Islam. Siapapun yang dapat memadukan ketiganya akan merasakan betapa dekat ia dengan Allah SWT saat beraktivitas politik.

Tentu saja cakupan politik dalam perspektif Islam luas. Di antaranya adalah membina masyarakat dengan Islam, baik akidah maupun syariah, termasuk di dalamnya akhlakul karimah. Inilah wujud dari pengkaderan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Pembinaan masyarakat itu bisa dilakukan dengan halaqah, pengajian umum, seminar, diskusi, kajian tematik; pelajaran tafsir, hadis, fikih, dsb; kontak kepada para tokoh, dll. Pembinaan ini dikaitkan dengan realitas yang dihadapi sehari-hari oleh masyarakat dan terkait dengan peristiwa yang tengah terjadi. Misalnya, ketika rame-rame kenaikan BBM dibahas pandangan Islam tentang air, padang gembalaan/hutan, dan energi sebagai milik umum; saat ada peristiwa pemboman dibahas haramnya hukum membunuh orang tanpa dosa dan menimbulkan ketakutan pada orang banyak ditambah dengan ada apa di balik isu terorisme itu, dll. Dengan cara seperti itu, umat akan memahami ayat dan hadis; jiwanya bersih penuh keimanan dan jauh dari kekufuran serta kemunafikan, meningkat taraf berpikir dan kepekaan politiknya, serta siap hidup mulia mati bahagia.

Aktivitas politik lainnya adalah mengoreksi kebijakan penguasa dan wakil rakyat yang menzalimi rakyat atau menyimpang dari hukum syariah Islam (muhâsabatul hukkâm), membongkar rencana jahat negara asing kafir imperialis di negeri-negeri Muslim (kasyful khuthath), dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat sesuai hukum Islam (tabanni mashâlihul ummah). Dakwah secara umum untuk menyerukan Islam kâffah dan amar makruf nahi mungkar merupakan aktivitas politik yang tinggi. Demikian pula penerapan hukum syariah Islam di tengah-tengah masyarakat.

Tengoklah, sepanjang hayatnya Rasulullah mengurusi dan memperhatikan urusan umat. Itulah contoh aktivitas politik Islam yang nyata.

Jelas, umat Islam dalam berpolitik yang harus diperjuangkan adalah diterapkannya syariah Islam di tengah-tengah masyarakat, agar urusan dan kepentingan umat dapat dipenuhi sesuai dengan syariah Islam. Sebab, hanya dengan cara perjuangan demikianlah urusan umat terperhatikan, terjaga dan terpelihara. Hanya dengan penerapan syariat Islamlah umat terjamin akidahnya, jauh dari aliran sesat seperti Ahmadiyah dan liberal; terpelihara hak-hak dan harta kekayaannya; terjamin kebutuhan pokoknya; terjaga kejelasan nasabnya, dll. Hanya dengan cara demikianlah umat Islam memiliki kondisi yang kondusif untuk menaati Allah SWT secara penuh tanpa hambatan. Jadi, kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana/alat untuk menerapkan syariah Islam di tengah-tengah masyarakat.

Mendekatkan diri kepada Allah dalam berpolitik bukan hanya penting, tetapi wajib. Bukan hanya dilakukan oleh politisi atau ilmuwan politik, tetapi juga oleh para ulama dan umat Islam pada umumnya. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. Pertama: berkecimpung dalam dunia politik Islam hukumnya wajib. Bukankah Nabi Muhammad saw. menegaskan dalam hadisnya bahwa "Penghulu syuhada itu adalah Hamzah dan orang yang mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang berdosa"; "Bukan dari golongan kaum Muslim orang yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim?" Allah SWT juga memerintahkan agar ada di antara kaum Muslim yang mendakwahkan Islam secara kâffah dan melakukan amar makruf nahi mungkar (QS Ali Imran [3]: 104). Itu adalah bagian dari aktivitas politik Islam.

Kedua: aktivitas apapun akan sia-sia kecuali yang dipersembahkan untuk Allah SWT dan dalam rangka ber-taqarrub kepada-Nya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here