Cintai Nabi, Cintai Syariah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Cintai Nabi, Cintai Syariah


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Alhamdulillah kita memasuki bulan Rabiul Awal. Sesungguhnya Peringatan Maulid Nabi saw. bukan sekadar kegiatan seremonial dan rutinitas tahunan yang akan berlalu begitu saja tanpa memberikan perubahan sosial dan politik kepada umat Islam.

Momentum Peringatan Maulid Nabi saw. hendaknya memberikan bekas dan pengaruh yang nyata dalam memperbaiki masyarakat menuju umat terbaik (khaira ummah), sebagaimana firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab [33]: 21).

Hanya dengan itulah umat Islam dapat meraih kembali kemuliaannya yang hakiki, yang hakikatnya memang hanya milik mereka.

Masalahnya saat ini umat Islam sesungguhnya sedang dilanda sejumlah persoalan berat dan kompleks. Pertama: secara pemikiran, benak umat Islam masih dikuasai oleh paham sekularisme; paham yang menihilkan peran agama (Islam) dalam kehidupan. Akibatnya, Islam hanya ada dalam tataran ritual dan spritual belaka; sama persis dengan agama-agama lain. Praktis, dalam kehidupan umum (sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dll) ajaran dan hukum-hukum Islam tidak dipakai. 

Kedua: secara hukum, saat ini yang diterapkan di negeri-negeri Islam, khususnya di negeri ini, bukanlah syariah Islam, tetapi hukum-hukum sekular, yang bahkan merupakan warisan penjajah.

Ketiga: secara sosial, akibat penerapan hukum sekular, negeri ini dilanda berbagai persoalan sosial yang sangat berat dan kompleks seperti: membudayanya korupsi; maraknya perselingkuhan dan seks bebas yang bahkan melibatkan para remaja usia sekolah; merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba; merajelelanya kasus kriminal lain seperti pencurian pembunuhan, bunuh diri; munculnya ragam konflik sosial dan upaya disintegrasi; dll.

Keempat: secara politik, umat Islam pun masih menjadi bulan-bulanan negara-negara kafir. Isu terorisme yang dikembangkan AS masih terus dilancarkan terhadap kaum Muslim sejak Peristiwa 11 September 2001 sampai hari ini. Bahkan di dalam negeri, adanya sejumlah senjata dan bahan peledak yang ditemukan di rumah seseorang baru-baru ini, tidak dikategorikan sebagai tindakan kriminal biasa, tetapi langsung dikaitkan dengan isu terorisme, hanya karena kebetulan yang diduga pelakunya adalah orang Islam. Padahal bukti-bukti ke arah tindakan terorisme masih diselidiki. Hal ini wajar saja mengingat isu terorisme selama ini memang sengaja dikembangkan oleh AS untuk menyudutkan Islam dan kaum Muslim. Ironisnya, penguasa di negeri-negeri muslim cenderung turut sekenario AS dalam isu terorisme ini. Ada kesan, Pemerintah tunduk pada setiap kebijakan AS.

Kondisi saat ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi zaman Jahiliah, saat Baginda Rasulullah Muhammad saw. lahir. Secara pemikiran, bangsa Arab saat itu dikuasai oleh paganisme (keberhalaan). Secara sosial, perjudian, perzinaan, mabuk-mabukkan dan membunuh bayi perempuan yang baru lahir telah menjadi tradisi mereka. Kebanggaan akan suku ('ashhabiyyah) juga selalu mewarnai kehidupan sosial mereka, yang sering menjadi bibit perpecahan di antara mereka, dan tidak jarang berujung pada saling bunuh satu sama lain. Secara hukum, yang berlaku saat itu adalah hukum Jahiliah, yang lebih memihak kepada pihak yang kuat. Adapun secara politik, bangsa Arab saat itu berada dalam bayang-bayang dua negara besar: Persia dan Romawi. (M. Rawwas Qal’ahji, 1996).

Di tengah-tengah kondisi inilah Muhammad saw. lahir. Dengan kelahiran Muhammad saw., yang kemudian menjadi nabi dan rasul Allah, dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 23 tahun, masyarakat Arab Jahiliah itu dengan izin Allah ternyata berubah secara drastis. Mereka ternyata bisa bersatu di bawah panji-panji Tauhid. Mereka bersatu bukan karena faktor nasionalisme, tetapi karena faktor akidah, di bawah panji-panji Islam yang memiliki prinsip ajaran yang universal. Bahkan mereka bersatu dalam satu wadah negara, yakni Daulah Islam, di Madinah. Dengan itulah bangsa Arab yang tadinya Jahiliah dan berperadaban rendah berubah secara revolusioner menjadi bangsa yang maju dan berperadaban tinggi. Bahkan negara mereka, Daulah Islam yang belum lama berdiri, berhasil dalam waktu singkat meruntuhkan dominasi kekuasaan Persia dan Romawi; dua negara adidaya saat itu.

Itulah sebetulnya makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw., yang kemudian diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah SWT. Dengan penjelasan di atas, jelas sangatlah penting bagi kaum Muslim untuk merefleksikan kembali makna hakiki dari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad saw. itu pada saat ini. Karena itu, sudah tiba saatnya seluruh umat Islam dari berbagai aliran pemikiran, mazhab, organisasi, maupun harakah dakwah untuk menyatukan langkah, merapatkan barisan dan berjuang bersama-sama untuk meraih kembali keberhasilan dan kemajuan yang pernah dicapai oleh Rasulullah Muhammad saw.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here