Democracy Unfair - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 21, 2020

Democracy Unfair


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Selama ini sering dinyatakan oleh banyak orang bahwa semakin negara demokratis semakin maju negara itu. Dinyatakan pula bahwa negara-negara Barat yang maju adalah negara-negara demokratis. Juga ditegaskan bahwa demokrasi akan bermanfaat jika yang menang Pemilu adalah malaikat, bukan setan. Realitas dari pendapat itu kenyataannya tak pernah terwujud. Ini bisa kita lihat dari beberapa sisi.

Pertama: demokrasi berarti Kapitalisme. Kapitalisme sangat mendewakan pertumbuhan ekonomi, yang penjabarannya adalah pendapatan perkapita. Kita umumnya tahu, pendapatan perkapita sangat tidak real. Kota Semarang mempunyai pendapatan perkapita Rp 19 juta (Rp 1,6 juta/bulan). Ini berarti pendapatan perkeluarga adalah Rp. 6,4 juta/bulan (asumsi keluarga terdiri empat orang). Kenyataannya, sangat banyak keluarga yang hanya punya Rp 640 ribu perbulan. Jelas ini sangat tidak real. Namun, tentu saja konsep ini akan dibela para eksekutif pemerintahan. Ini karena mereka akan tampak berhasil dan ini adalah modal utama mereka dalam Pemilu. Lain halnya jika penilaian yang dipakai adalah angka kemiskinan.

Setidaknya dari fenomena ini bisa kita lihat bahwa tidak ada korelasi antara demokrasi dan kemakmuran. Indonesia adalah juara demokrasi tetapi tidak makmur. Singapura dikenal sangat tidak demokratis tetapi makmur.

Kedua: kemajuan negara-negara Barat sebenarnya bukan karena demokrasi. Bagaimanapun mereka harusnya berguru demokrasi pada Indonesia karena negeri ini juara demokrasi. Namun, mengapa mereka maju?

Ini bisa kita lihat dari realitas yang berbeda antara keduanya. Kedua kawasan sebenarnya sama-sama menganut keempat pemikiran: sekularisme, liberalisme, demokrasi dan kapitalisme. Ketiga prinsip pertama sama-sama dilaksanakan, tetapi berbeda dalam hal kapitalisme. Negara-negara Barat adalah "pelaku kapitalisme". Banyak para pemodal mereka menguasai dunia. Adapun Indonesia adalah "penderita kapitalisme". Watak keduanya juga berbeda. Sungguh pun sama-sama memuja materialisme (sebagaimana saran Adam Smith terkait kapitalisme), tetapi penyalurannya cenderung berbeda. Mereka yang lebih maju cenderung lebih sistematis sehingga menggunakan cara-cara persuasif. Sebaliknya, Indonesia yang jadi korban lebih banyak diwarnai suasana reaktif dan cara-cara kasar. Namun, kita semua tahu, menipu belum tentu kalah kejam daripada merampas. Faktanya, rakyat AS terbukti sangat boros, 50 kali lipat borosnya daripada rakyat Indonesia. Eksploitasi Indonesia hanyalah imbasnya.

Ketiga: tentang kemenangan dalam Pemilu. Bagaimanapun demokrasi terbukti tidak sekadar Pemilu, tetapi sistem yang mempunyai nilai, yaitu pro pemilik modal. Akan sulit menjadikan pihak yang dikenal idealis menguasai Pemilu dalam waktu lama, kecuali mereka berkompromi dengan pemegang modal dengan risiko lunturnya idealisme mereka. Bagaimanapun idealisme itu akan sangat sulit sekali diangkat karena berbenturan dengan kebebasan berperilaku. Kebebasan berperilaku itu biasanya didukung para pemilik modal, pemegang kunci kebebasan kepemilikan.

Kemakmuran dan kesejahteraan pada kenyataannya lebih terkait dengan sistem ekonomi yang ditegakkan. Dalam hal ini, sistem ekonomi Islam sangat mempunyai kekuatan. Pertama: Islam sangat menjaga pemerataan ekonomi (QS). Zakat untuk 8 asnaf; kebijakan bolehnya memagari tanah mati; larangan menelantarkan tanah lebih dari 3 tahun; larangan menyewakan tanah pertanian adalah beberapa di antara kebijakan ini.

Kedua: negara berperan dalam ekonomi. Dalam Islam dikenal kepemilikan umum, yang implementasinya di tangan negara. Larangan tambang garam skala raksasa oleh Rasulullah saw. adalah bukti tentang hal ini. Dengan kebijakan ini maka kebutuhan primer, pendidikan, dan kesehatan harus menjadi prioritas negara. Setelah diciptakannya kondisi ini, selanjutnya silakan rakyat bersaing dalam bisnis.

Ketiga: kehidupan dalam Islam adalah untuk beribadah (QS); juga ditekankan saling menolong, silaturrahim, dan bersedekah. Ini membuat kehidupan dalam Islam bukan dalam suasana persaingan hukum rimba, tetapi suasana persaudaraan.

Pada intinya, dalam Islam lapangan persaingan ekonomi adalah lapangan yang fair dan manusiawi, yang "kalah" juga dibantu kembali ke titik nol, serta suasana hubungan antar manusia diliputi semangat solidaritas dan ketakwaan. Ini semua tentu mempermudah terciptanya kesejahteraan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here