Dinamika Dakwah Rasulullah Sebelum Hijrah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Dinamika Dakwah Rasulullah Sebelum Hijrah


M. Arifin (Tabayyun Center)

Masyarakat Arab sebelum Rasulullah hijrah adalah masyarakat Jahiliah. Peraturan hidup yang mendominasi masyarakat adalah aturan-aturan Jahiliah. Kecenderungan perasaan dan pemikirannya pun dikooptasi oleh pemikiran dan perasaan Jahiliah. Akidah/ideologi, kehidupan sosial, keadaan ekonomi dan politik berada dalam kegelapan.

Akidah/ideologi masyarakat Arab saat itu penuh dengan kemusyrikan. Meskipun mereka mengenal keesaan Tuhan,2 dalam realitas ibadah mereka banyak sekali menyekutukan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya. Mereka berkeyakinan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Al-Quran mengungkapkan kondisi mereka:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ ِللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala pujian milik Allah.” Namun, kebanyakan mereka tidak tahu (QS Luqman [31]: 25).

Dalam praktik menyembah Allah, mereka membuat atau mengadakan berbagai perantara, dengan tujuan untuk menghampirkan diri mereka kepada tuhan. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat dan menganggap bahwa para malaikat itu adalah anak perempuan Allah. Ada juga yang menyembah jin dan arwah terdahulu. Mereka sering ‘mempersembahkan’ kurban di tempat jin yang terkenal dengan nama “Darahim”. Ada yang menyembah binatang, menyembah berhala. Amr bin Lubayyi, penguasa Ka’bah dan Makkah saat itu, menaruh sebuah berhala dari batu akik yang sangat terkenal dengan nama “Hubal”.

Kondisi demikian menjadikan tauhid yang mereka miliki rancu. Keesaan Tuhan yang mereka peroleh akhirnya bercampur-baur dengan berbagai khurafat. Ketika mereka meyakini Allah sebagai Pencipta sesuatu, mereka juga meyakini bahwa jin-jin dapat memberikan manfaat dan madarat. Kepercayaan mereka kepada tukang sihir dan para kahin (dukun) sangat menonjol. Para kahin dipandang oleh mereka sebagai tukang-tukang tilik, yang dapat membuat tangkal-tangkal atau jimat-jimat penolak malapetaka, dapat menceritakan kejadian-kejadian akan datang, tempat menanyakan satu sebab kesusahan yang telah datang dan akan datang, memberikan petunjuk-petunjuk, dan dapat memutuskan perkara-perkara pertikaian. Mereka juga berkeyakinan dalam perut manusia ada ular. Karenanya, jika lapar maka ular tersebut lah yang menggigitnya. Kalau orang sesat di jalan, maka kain yang dipakainya harus dibalik agar tidak sesat. Mereka juga memakai cincin dari besi atau tembaga dengan harapan menambah kekuatan.

Di Makkah, Rasulullah selama 13 tahun mempersiapkan akidah orang-orang yang nantinya akan menopang bangunan masyarakat. Lahirlah generasi terbaik dari kalangan para Sahabat. Secara politis, desain masyarakat yang Beliau lakukan diawali dengan pembentukan kelompok (kutlah) dakwah. Kelompok ini terdiri dari kaum pria dan wanita dari berbagai daerah dengan usia yang berbeda. Di antara mereka ada yang lemah, kuat, kaya dan miskin. Rasulullah saw. benar-benar mempersiapkan aqliyah, mental dan tsaqâfah secara intensif kurang lebih 3 tahun, untuk kemudian mendeklarasikan agen perubahan masyarakat ini.

Fase berikutnya, setelah Rasul mendeklarasikan kelompoknya di tengah-tengah masyarakat Mekkah, secara alami terjadilah gesekan pemikiran baru yang dibawa Rasulullah saw. dengan berbagai kebiasaan lama Arab Jahiliah. Berbagai ujian dan cobaan fisik dan non-fisik dialami Rasul saw. beserta orang-orang yang ada di kelompoknya. Rasulullah dan para Sahabat mengalami penyiksaan, pemboikotan maupun propaganda yang menentang dakwah. Beliau dengan para Sahabat menanggung beban yang amat berat, layaknya beban yang ditanggung gunung yang menjulang tinggi.

Namun, semua kondisi tersebut tidak melemahkan mereka. Keimanan para Sahabat justru semakin menebal dan teruji. Titik-titik perubahan masyarakat pada akhirnya semakin bersinar. Ketika musim haji datang, 12 orang laki-laki dari penduduk Madinah datang. Mereka bertemu dengan Nabi saw. di Aqabah. Lalu mereka membaiat Beliau dalam peristiwa Baiat Aqabah I. Dalam baiat itu, mereka berjanji tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan mendatangkan bukti-bukti yang direkayasa di antara dua tangan dan kakinya dan tidak akan melakukan maksiat dalam hal yang makruf.

Tidak lama berselang, Mush'ab bin Umair terus memberikan perkembangan tentang dakwah di Madinah sampai pada saat yang sangat bersejarah, terjadilah Baiat Aqabah II, yang terjadi pada tahun ke-12 masa kenabian. Rasulullah saw. kedatangan 75 orang kaum Muslim dari Madinah. Detik-detik transformsi masyarakat akhirnya berlangsung dengan sukses dengan adanya Baiat Aqabah II. Aisyah ra. bertutur, "Ketika muncul 70 orang dari sisi Nabi saw., maka jiwanya menjadi lapang. Allah telah menjadikan baginya dukungan dan keberanian dari penduduk ahli perang." (Taqiyuddin an-Nabhani, Daulah Islam, edisi Muktamadah 2002).

Peristiwa Baiat Aqabah II ini merupakan tonggak bersejarah transformasi masyarakat dari pemuka Madinah kepada Rasulullah saw. yang membawa Islam.

Setelah terjadi perpindahan kekuasaan di Madinah, Rasul dan para Sahabat kemudian merencanakan untuk hijrah ke sana, kendati tekanan dari pihak Quraisy untuk menghalangi hijrah semakin keras. Rasul saw. menemui para Sahabat seraya bersabda, "Telah dikabarkan kepadaku tentang tempat hijrah kalian, yaitu Yatsrib. Karena itu, siapa saja di antara kalian yang ingin pergi ke sana, maka pergilah ke sana."

Berdasarkan hal ini, keberadaan kekuatan Islam di Madinah, dan kesiapan Madinah sebagai masyarakat Islam, merupakan perkara pendorong Rasul saw. untuk hijrah ke sana. Inilah penyebab langsung hijrahnya Rasul. Hijrah merupakan pembatas dalam Islam yang memisahkan tahapan-tahapan dakwah dengan upaya mewujudkan masyarakat dan negara yang memerintah dengan Islam.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here