Hakikat Cinta Nabi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, October 26, 2020

Hakikat Cinta Nabi


Adam Syailindra 

Allah SWT berfirman:

]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS an-Nisa' [4]: 65)

Makna "Fala tidak seperti yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadamu tetapi berhukum kepada thaghut dan berpaling darimu ketika diseru kepadamu. "Demi Rabbmu" ya Muhammad "mereka tidak beriman" yakni tidak membenarkan Aku, engkau dan apa yang Aku turunkan kepadamu "sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam semua perkara yang mereka perselisihkan" (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari).

Jadi ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak beriman sampai menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara. Itu artinya pengakuan keimanan seseorang harus dibuktikan kebenarannya dengan menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara yang terjadi. Menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara pada saat ini tidak lain adalah dengan menjadikan hukum-hukum yang beliau bawa, yaitu syariah islamiyah, sebagai hukum untuk memutuskan dan mengatur semua perkara yang terjadi di tengah masyarakat.

Dengan demikian ayat ini memerintahkan kita untuk menjadikan kedaulatan di tangan syara’ saja. Itu artinya kedaulatan tidak boleh dijadikan sebagai milik selain syara'. Kedaulatan tidak boleh diberikan kepada manusia, rakyat atau pun wakil rakyat. Menjadikan kedaulatan di tangan rakyat adalah substansi demokrasi. Tidak ada demorkasi tanpa kedaulatan di tangan rakyat. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan perintah ayat di atas. Karena itu, jika kita mengaku beriman, maka kita harus membuktikan kebenaran pengakuan keimanan kita itu dengan jalan menjalankan teladan Nabi dalam bernegara. 

Selain itu, realita berbagai problem dan masalah yang terus mendera kita, tidak lain sebab pangkalnya adalah sistem demokrasi itu sendiri. Para penguasa dan politisi yang korup, tidak amanah, bersekongkol dengan para cukong pemilik modal dengan mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan rakyat, sebab utamanya adalah sistem politik demokrasi dengan biaya tingginya. Kebingungan dan lemahnya pemberantasan korupsi, hukuman koruptor yang begitu ringan tidak memberi efek jera, juga disebabkan karena hukum yang dibuat manusia melalui kedaulatan rakyat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here