Hakikat Takwa - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 21, 2020

Hakikat Takwa


M. Arifin (Tabayyun Center)

Umar bin Abdul Aziz rahimahulLah, sebagaimana dikutip Imam as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur, berkata, "Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan."

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahulLah dalam kitabnya, Zad al-Muhajir ila Rabihi, juga berkata, "Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan mengharapkan ridha-Nya, baik atas perkara yang Allah perintahkan maupun yang Allah larang."

Itulah takwa. Itulah yang diharapkan terwujud pada diri setiap Muslim. Mereka senantiasa menaati syariah-Nya secara kaffah atas dasar keimanan.

Orang yang bertakwa tidak akan berani minum khamr, misalnya, apalagi melegalkan khamr itu dalam kehidupan. Tentu karena Allah SWT telah mengharamkan khamr. Khamr adalah perbuatan najis, termasuk perbuatan setan dan wajib dijauhi (lihat QS al-Maidah [5]: 90-91). Bahkan Rasulullah saw. bersabda:

«الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ»

Khamr adalah biang segala keburukan (HR ad-Daruquthni).

Untuk diketahui, dari sisi penerimaan negara, pendapatan dari cukai Minuman Menggandung Etil Alkohol (MMEA) cukup besar. Ironisnya, peredaran minuman beralkohol hanya diatur dan dikendalikan, bukan dilarang dan diberantas. Tentu hal itu menyalahi ketakwaan dan bukan termasuk karakter orang bertakwa, apapun alasannya.

Orang yang bertakwa juga tidak akan berani memakan harta dari transaksi riba. Mereka juga tidak akan melegalkan riba, apalagi menjadikan riba sebagai urat nadi perekonomian dan menjadikan utang ribawi sebagai sumber pendapatan negara. Tentu karena Allah SWT telah mengharamkan riba dengan tegas. Pemakan riba diancam untuk dijadikan sebagai penghuni neraka (lihat QS al-Baqarah [2]: 275). Jika mereka tetap tidak mau meninggalkan sisa riba, diumumkan kepada mereka perang dengan Allah SWT dan Rasul-Nya (lihat QS al-Baqarah [2]: 279).

Tentang dosa riba, Rasullah saw. bahkan bersabda:

«الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجلُ أُمَّهُ»

Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang menzinai ibunya sendiri (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Untuk diketahui, Indonesia berada pada posisi ketujuh dari daftar 10 negara berpendapatan kecil menengah dengan nilai utang luar negeri terbesar di dunia. Secara keseluruhan, utang luar negeri Indonesia tercatat mencapai 402,08 miliar dollar AS pada tahun 2019. Sementara pada data BI yang dirilis Juli 2020, ULN Indonesia sudah meningkat tajam dibandingkan periode awal Jokowi yakni sebesar 409,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.063 triliun (kurs Rp 14.800).

Semua utang tersebut adalah utang ribawi yang jelas-jelas haram. Orang yang bertakwa niscaya tidak akan berutang dengan utang ribawi, apalagi sampai sebanyak itu. Apalagi lebih dari 700 triliun utang ribawi itu didapat dari negara kapitalis yang sudah terbukti menjerumuskan negara ini ke dalam cengkeraman hegemoni.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here