Iklim Politik Perancis Membatasi 'Ruang' Kaum Muslim dan Terus Memata-Matainya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Iklim Politik Perancis Membatasi 'Ruang' Kaum Muslim dan Terus Memata-Matainya


Umar Syarifudin (pengamat politik internasional)

Lembaga Ifop pernah merilis survei pada awal November 2019 mengungkap lebih dari 40 persen pemeluk Islam di Prancis mengaku telah merasakan adanya diskriminasi karena agama. Islam adalah agama terbesar kedua di Prancis atau terbesar di wilayah Eropa Barat.

Ada banyak tindakan kriminal kejam yang dibalut spirit Islamophobia tersebut buah dari pemerintah Perancis serta media yang mengidap spirit Islamophobia yang efektif memberlakukan berbagai ppropaganda dan kebijakan anti Islam seperti pelarangan Burqa dalam rangka menjaga keutuhan, penyatuan, integrasi, atau  kohesifitas kehidupan masyarakat Perancis yang beragam, dsb.

Alasan sesungguhnya adalah karena Perancis ketakutan  terhadap semakin besarnya geliat penerapan  Islam di negara sekuler tersebut. Saat ini ada sekitar 5 juta lebih populasi muslim di sana, dan semakin  marak trend menjaga pelaksanaan syariat Islam. Banyak restoran berdiri menyediakan hanya makanan halal, tempat pembelian daging halal, shalat jum’at yang jamaahnya tumpah ruah hingga ke jalan-jalan, dan juga lebih dari 2000 perempuan memakai Burqa.

Semua ini menunjukkan semakin kuatnya ketaatan agama warga muslim di sana. Jadi sekalipun kebebasan dan sekularisme disuntikkan setiap saat, namun gagal memberangus kebenaran Islam yang diemban setiap muslim.

Spirit anti Islam Perancis jelas menjadikan saudara-saudara kita muslimah di sana tertindas, terbelenggu dan kehilangan kebebasannya. Mereka juga tidak mendapatkan keadilan di negara yang konon mengagungkan  Kebebasan, Keadilan dan Persaudaraan (Liberte, Egalite, Fraternite). Perancis telah gagal meyakinkan warga negaranya bahwa demokrasi dan sekularisme adalah nilai-nilai terbaik bagi kehidupan. Ide sesat ini dikampanyekan seolah-olah menjamin kebebasan beragama, bertingkah laku, berkepemilikan dan berpendapat.

Jika konsisten dengan faham sekularismenya, Perancis semestinya  memberi  kebebasan warga negara, tidak melarang Burqa sebagaimana memberi kebebasan berpakaian minim dan sebagainya. Namun ketika menyangkut ketaatan terhadap agama Islam, nampak jelas pemerintah Perancis tidak lagi konsisten, karena Perancis juga menyimpan bukti sejarah yang menunjukkan kekuatan Islam sebagai ideologi yang bisa mengancam matinya kapitalisme sekuler. 

Apa yang dilakukan oleh Perancis hari ini diikuti oleh negara-negara Barat lain dan bisa jadi dengan tekanan dan penindasan lebih besar. Ingatlah firman Allah SWT:

"...telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi..." [TQS Ali-Imran (3):118]

Perancis dan kebebasannya tidak mentoleransi keberadaan Islam, penyebarannya dan keadilannya, serta kesucian dan kemurnian yang diserukan oleh Islam. Masalahnya juga ada di semua negara Barat yang mengambil kebijakan anti-Islam dan membatasi ruang kaum Muslim. 

Semua ini mejadi tanda tanya terkait kebebasan dan undang-undangnya yang selalu dinyanyikan Perancis. Sebab kebebasan menurut Perancis adalah porno aksi, kemesuman dan kecabulan. Sehingga siapa saja yang mengingikan kehormatan dan kesucian serta hijab, maka tidak ada tempat baginya di Perancis, yakni dalam permusuhannya dengan Islam, Perancis bertindak sebagai negara Kristen fanatik, bahkan sebagai negara Salibis di antara sisa-sisa zaman pertengahan Eropa.

Wajar, ketika umat Islam di seluruh dunia telah menyadari bahwa demokrasi, liberalisme dan sekularisme hanyalah ide korosif yang dikemas manis, dijajakan ke tengah-tengah kaum muslim. Ide-ide ini berlaku untuk mendukung perilaku buruk manusia yang ingin mengambil keuntungan dari pornografi dan pornoaksi yang melecehkan masyarakat, namun tidak berlaku untuk mendukung kaum muslim yang taat pada aturan Penciptanya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here