Ilmu Tidak diukur Dari Banyaknya Perkataan, Tetapi Oleh Rasa Takut (Kepada Allah) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Ilmu Tidak diukur Dari Banyaknya Perkataan, Tetapi Oleh Rasa Takut (Kepada Allah)


Indarto Imam (Ketua ForPeace) 

Guru memiliki peran penting dalam mencerdaskan generasi bangsa. Seorang guru dengan bekal semangat dan keikhlasan tidak akan menghentikan tugas dan perannya sebatas apa yang sudah diberikan di kelas. Peran yang paling penting adalah daya pengaruh terhadap muridnya dan masyarakat, berkata benar dan istiqomah seperti yang kita saksikan pada sejarah guru-guru kita, para ulama dan para imam yang mengemban ilmu dan mengajarkan aqidah, ilmu, amal, metode dan dakwah. 

Umat ini memiliki banyak sosok teladan guru. Seperti Imam Ahmad, guru dan contoh terbaik dalam kekonsistenan terhadap ideologi dan sabar menghadapi berbagai cobaan. Beliau pernah dizalimi dan pernah dipenjara, namun beliau tidak goyah dan teguh dalam kebenaran. Ini adalah pelajaran bagi para guru, 'ulama dan penyeru umat dimanapun dan kapanpun. 

Begitu juga dengan guru dan ulama perempuan, Ummu Darda' Ash-Shugra yang diminta oleh kholifah Malik bin Marwan untuk mengajari istrinya. Ummu Darda' mendengar bahwa Ia mengejek pelayannya yang lambat dalam menangani sesuatu, maka ia pun berkata kepadanya: "Aku mendengar Abu Darda' berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang suka melaknat itu bukanlah orang yang dapat memberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat." Ummu Darda' mengatakan seperti itu kepada Kholifah tanpa rasa takut untuk mengatakan kebenaran, dan kedudukan Malik bin Marwan sebagai Kholifah tidak bisa mencegah Ummu Darda' dari perkataan yang benar.  Ummu Darda' tidak mengatakan bahwa masalah ini tidak ada kaitannya dengan Ku" atau “Ini bukan urusan Ku" seperti yang dilakukan sejumlah guru dan ulama saat ini. 

Figur Ummu Darda' tidak bersikap menjadi penonton yang diam, sebagaimana sebagaimana para guru saat ini yang tidak diam tatkala melihat westernisasi pada kebijakan pendidikan dan perubahan kurikulum. Bahkan jika mereka tidak sanggup untuk mengubah kebijakan dan kurikulum, hal itu tidak membebaskan mereka dari kewajiban untuk menolak dan meminimalisir bahayanya dengan memberi pemikiran yang lurus yang menjadi tugas mereka sebagai pendidik Muslim, khususnya di saat kita hidup dengan sistem kapitalis dengan segala pemahamannya yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang menghancurkan aqidah Islam, menebar kerusakan, sekularisme, liberalisme, dan pemahaman kapitalis lainnya.

Menjadi kewajiban para guru untuk menampakkan kerusakan ini dan memerangi ide-ide dan menjelaskan kepalsuan dan bahayanya. Berkata 'Abdullah bin Mas’ud R.A.: "Ilmu tidak diukur oleh banyaknya perkataan, tetapi oleh rasa takut (kepada Allah)". 

Guru wajib mengajarkan metode berfikir yang benar, tidak ridlo terhadap hal-hal yang bertentangan dengan syari'at, meninggikan kebenaran, tidak lembek dan munafik. Dan hendaknya ia menanamkan dalam hati bahwa umur dan rezeki di tangan Allah, mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, dan tidak mengajarkan rasa takut dan sikap pengecut.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here