Islam Mengimplementeasi Konsep Politik Yang Berkeadilan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 30, 2020

Islam Mengimplementeasi Konsep Politik Yang Berkeadilan


Agung Wisnuwardana (Indonesia Justice Monitor)

Dunia muslim dalam kondisi tercerai-berai dan butuh perubahan. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas seluruh persoalan kaum Muslim di seluruh dunia saat ini. Perubahan semacam itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan membangun kekuatan politik internasional.

Kekuatan Islam politik mampu menyatukan seluruh potensi kaum Muslim, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya, serta menerapkan syariah Islam secara kaffah. Syariah Islam akan mampu menyelesaikan berbagai problem sosial, budaya, ekonomi, politik, hankam, pendidikan, hukum pidana, dakwah dan sebagainya. Hanya dengan cara inilah kaum Muslim akan mampu mengakhiri kondisi buruknya di bawah hegemoni sistem Kapitalisme global menuju kehidupan mulia dan bermartabat.

Jika kita telaah, tatkala risalah Islam diterapkan secara sempurna oleh Rasulullah Muhammad saw. di Makkah, umat manusia merasakan indahnya hidup di bawah naungan Daulah Islam. Keadaan ini terus berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin dan para khalifah yang silih berganti memimpin dunia selama 13 abad.

Pertama: Politik yang berkeadilan. Dalam politik Islam, Islam memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi Muslim dan non-Muslim. Di antaranya: seluruh hukum Islam diterapkan atas kaum Muslim, membiarkan non-Muslim dengan akidah dan ibadah mereka. Khilafah melaksanakan syariah Islam seperti muamalah, 'uqubat, sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dll atas seluruh warga; baik Muslim maupun ahludz-dzimmah/non-Muslim.

Gambaran implementeasi konsep politik Islam yang berkeadilan tampak dalam: (1) Pemberian sertifikat tanah (Tahun 925 H/1519 H) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia. (2) Surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim Khalifah ke Amerika Serikat yang sedang dilanda kelaparan pasca perang dengan Inggris (abad 18). (3) Surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah (30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H). (4) Pemberian izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia, namun ingin kembali ke wilayah Khilafah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera (13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865). (5) Pasukan Khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577), termasuk para ahli senjata api, penembak dan para teknisi. untuk mengamankan wilayah Syamatiirah (Sumatera) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka.

Kedua: Negera menjamin kebutuhan pokok setiap individu masyarakat secara layak dalam politik ekonomi Islam serta memberikan kemungkinan kepada semua orang untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier mereka dalam bingkai life style masyarakat Islam. Jaminan kesejahteraan diberikan kepada orang-perorang seluruh rakyat, bukan secara makro/agregat/kolektif. Walhasil, Islam memastikan kesejahteraan dan kemiskinan dapat diatasi dengan benar dan riil.

Dalam sistem ekonomi Islam, ada 3 pilar yang menjadi perhatian:

1. Konsep milkiyah al-mal (kepemilikan harta) yang meliputi kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

2. Konsep tasharruf al-mal (pengelolaan harta) yang mencakup pemanfaatan dan pengembangan harta, yaitu mengutamakan pembelanjaan wajib dan sunnah, baru yang mubah. Islam melarang pemanfaatan harta yang tidak syar’i dan negara wajib memberikan sanksi ta'zir atasnya, seperti pemanfaatan harta haram.

3. Konsep tawzi' ats-tsarwah (distribusi kekayaan). Islam mengharamkan penimbunan emas, perak, uang atau modal, yaitu jika ditimbun bukan untuk membiayai sesuatu yang direncanakan. Islam juga hanya membolehkan ekonomi riil dan melarang praktik ekonomi non-riil. Semua ini menjamin pendistribusian kekayaan masyarakat secara adil, menjamin semua aktivitas ekonomi bersifat riil serta memiliki efek langsung terhadap kesejahteraan dan peningkatan taraf ekonomi.

Gambaran jaminan kesejahteraan pemenuhan kebutuhan pokok orang perorang terlihat jelas pada saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, "Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada masa itu makmur. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya."

Ketiga: Jaminan pendidikan terbaik dan gratis. Dalam sistem Islam, pendidikan bertujuan menciptakan sumberdaya manusia yang berkepribadian islami, yaitu memiliki pola pikir dan sikap islami. Jadi, pendidikan dalam Islam bukan sekadar 'transfer of knowledge' dan 'transfer of values' semata, tetapi memperhatikan apakah ilmu pengetahuan yang diberikan dapat mengubah pola sikap ataukah tidak. Produk pendidikan yang dihasilkan haruslah handal dalam penguasaan tsaqâfah Islam, penguasaan ilmu terapan (science & tech), serta penguasaan skill yang tepat dan berdaya guna. Khilafah wajib mengatur segala aspek yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang diterapkan, seperti: yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/perguruan tinggi, metode pengajarannya, bahan ajarannya, serta mengupayakan agar pendidikan dapat diakses dengan mudah oleh rakyat.

Gambaran bagaimana Islam menjamin pendidikan terbaik adalah standar gaji guru yang mengajar anak-anak pada masa pemerintahan Umar bin al-Khaththab sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) dan diikuti oleh para khalifah berikutnya. Selain itu, di Bagdad berdiri Universitas al-Mustanshiriyyah. Khalifah Hakam bin Abdurrahman an-Nashir mendirikan Univ. Cordoba yang menampung mahasiswa Muslim dan Barat dengan gratis. Para Khalifah memberikan penghargaan sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky (Abad XI Hijriyah) mendirikan Madrasah an-Nuriyah di Damaskus, di sekolah ini terdapat fasilitas seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Itulah gambaran bagaimana syariah Islam dalam bingka Daulah Islam memberikan kesejahteraan hakiki kepada umat manusia.

Oleh karena itu, peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. sudah saatnya dijadikan sebagai momentum untuk segera meninggalkan sistem Jahiliah, yakni sistem kapitalis-sekular yang diberlakukan saat ini, menuju sistem Islam. Apalagi telah terbukti, sistem kapitalis-sekular itu telah menimbulkan banyak penderitaan bagi kaum Muslim.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here