Islam Menjamin Kebutuhan Primer Rakyat - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 30, 2020

Islam Menjamin Kebutuhan Primer Rakyat


Adam Syailindra (Swasembada Center)

Bulan Juli lalu, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, kasus kelaparan akibat pandemi virus corona (Covid-19) menyebabkan sepuluh ribu kematian pada anak dalam satu bulan terakhir. Menurut data PBB, sebelum dipublikasikan dalam jurnal medis Lancet, lebih dari 550 ribu anak setiap bulan menderita kekurangan gizi.

Selama lebih dari setahun, angka itu naik 6,7 juta dari total 47 juta kasus pada tahun lalu. Kasus kelaparan secara permanen telah merusak anak-anak secara fisik dan mental. Seperti dilansir Associated Press, Rabu (28/7), di Burkina Faso, satu dari lima anak mengalami kekurangan gizi kronis. Harga makanan kian melonjak dan 12 juta dari 20 juta warga negara tidak memiliki pasokan pangan yang cukup untuk makan. Dari kawasan Amerika Latin ke Asia Selatan hingga Afrika sub-Sahara, ada lebih banyak keluarga yang tidak memiliki pasokan makanan yang cukup.

Inikah potret kegagalan kapitalisme yang memproduksi bencana kelaparan massal. Berbeda dengan ideologi kapitalisme, Islam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar individu (sandang, pangan dan papan). Islam mensyariatkan hukum kewajiban bekerja untuk mencari nafkah bagi laki-laki dewasa yang mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungnya, seperti istri dan anak-anaknya (Lihat, antara lain: QS al-Mulk [67] : 15).

Kewajiban bekerja menjadi tanggung jawab laki-laki dewasa yang mampu saja. Adapun perempuan tidak diwajibkan bekerja, meski syariah tidak mengharamkan dirinya bekerja. Nafkah bagi perempuan menjadi kewajiban suaminya, atau ayahnya jika perempuan itu belum menikah. Nafkah anak-anak, menjadi kewajiban ayahnya. Nafkah ayah dan ibu yang sudah tua menjadi kewajiban anak laki-lakinya yang sudah dewasa dan mampu jika ayah dan ibu membutuhkan nafkah (Abdurrahman Al-Maliki, As-Siyasah al-Iqtishadiyah al-Mutsla, hlm. 167-169).

Selanjutnya, jika laki-laki dewasa yang ada tidak mampu bekerja, baik tidak mampu secara nyata (misalnya cacat atau gila) atau tidak mampu secara hukum (misalnya tidak mendapat pekerjaan), maka nafkahnya ditanggung kerabatnya yang menjadi ahli warisnya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233).

Jika kerabat ahli waris itu ada dan mampu, tetapi enggan memberi nafkah, maka negara melalui hakim (qadhi) turun tangan untuk menegakkan hukum, yaitu mewajibkan kerabatnya memberikan nafkah. Bagi laki-laki dewasa yang tidak mampu secara hukum (karena tidak mendapat pekerjaan), negara berkewajiban menciptakan lapangan kerja baginya (Abdul Aziz Al-Badri, Al-Islam Dhamin li al-Hajat al-Asasiyah, hlm. 26-29; Muqaddimah Ad-Dustur, II/129).

Selanjutnya, jika kerabat tidak ada atau ada tetapi tak mampu, maka kewajiban memberi nafkah berpindah ke Baitul Mal, yakni negara Khilafah. Dalilnya sabda Rasullah saw.:

مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَِهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ

Siapa saja yang mati meninggalkan harta, harta itu untuk ahli warisnya. Siapa saja yang mati meninggalkan utang, atau meninggalkan keluarga [yang tidak mampu], maka datanglah kepadaku dan menjadi kewajibanku (HR Muslim).

Dari manakah negara Khilafah memperoleh harta guna menjamin kebutuhan dasar mereka yang tidak mampu ini? Pada awalnya, negara akan mengambil dari harta zakat, karena mereka yang tidak mampu termasuk golongan fakir atau miskin yang berhak mendapat zakat (Lihat: QS at-Taubah [9]: 60).

Jika ternyata dari harta zakat tidak mencukupi, Negara (Baitul Mal) akan mengambil dari sumber-sumber pendapatan tetap Baitul Mal di luar zakat, yang terdiri dari: fai', ghanimah, jizyah, kharaj, khumus rikaz (seperlima dari harta galian), harta milik umum (milkiyah 'amah), harta milik negara (milkiyah dawlah), 'usyur, dan tambang (al-ma’adin) seperti tambang minyak dan gas (Muqaddimah ad-Dustur, II/15; An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, hlm. 232).

Jika dari harta-harta selain zakat ini belum mencukupi juga, maka Negara (Baitul Mal) berhak memungut pajak (dharibah) dari kaum Muslim, khususnya dari laki-laki Muslim dewasa yang mampu. Sebab, pemenuhan kebutuhan dasar kaum fakir dan miskin, jika tak dapat diatasi dari harta zakat dan selain zakat, menjadi kewajiban kaum Muslim, Ini sesuai dengan sabda Nabi saw.:

وَأَيُّمَا أَهْلُ عَرْصَةٍ أَصْبَحَ فِيهِمْ امْرُؤٌ جَائِعٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ اللهِ تَعَالَى

Penduduk negeri mana saja yang pada pagi hari di tengah-tengah mereka ada orang yang kelaparan, sungguh perlindungan Allah Ta’ala telah terlepas dari mereka (HR Ahmad).

Jika pajak ini tidak mencukupi, atau jika timbul bahaya (dharar) ketika menunggu pengumpulan pajak, sementara kebutuhan dasar tak dapat ditunda-tunda, maka Negara wajib segera bertindak dengan mencari pinjaman uang (qardh) dari rakyat yang mampu. Pinjaman ini nanti dikembalikan oleh Negara dari harta pajak yang berhasil dikumpulkan kemudian (Abdurrahman Al-Maliki, As-Siyasah al-Iqtishadiyah al-Mutsla, hlm. 173).

Inilah peran negara dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, yang telah dijelaskan dalam hukum-hukum syariah secara rinci dan sangat antisipatif. Selain mekanisme negara ini, syariah juga mempunyai mekanisme lain di luar negara, yaitu mekanisme individu. Artinya, syariah menganjurkan individu-individu Muslim untuk secara sukarela membantu sesama Muslim yang sedang mengalami kesulitan, misalnya lewat sedekah, wakaf, hibah/hadiah dan sebagainya. Banyak nash yang menganjurkan amal-amal mulia itu. Terkait sedekah, misalnya, Nabi saw. pernah bersabda:

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ، وَحَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَأَعِدُّوْ لِلْبَلاَءِ

Obatilah sakitmu dengan mengeluarkan sedekah, bentengilah hartamu dengan membayar zakat dan persiapkanlah dirimu menghadapi musibah/ujian (HR al-Baihaqi).

Tentang wakaf, Nabi saw. telah menyebut hal itu sebagai shadaqah jariyah. Nabi saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَاِلحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Jika seorang manusia meninggal, terputuslah [pahala] amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah [yaitu wakaf]; ilmu yang bermanfaat; anak salih yang mendoakan dirinya (HR Jamaah, kecuali Bukahri dan Ibnu Majah).

Tentang hibah/hadiah, Nabi saw. menganjurkan hal demikian dengan sabdanya:

تهَادَوْا تحَابَّوْا

Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai (HR al-Baihaqi).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here