Jadilah Penguasa Profesional Yang Pro-Rakyat - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, October 12, 2020

Jadilah Penguasa Profesional Yang Pro-Rakyat


M. Ikhsan (Indonesia Justice Monitor)

Tergesa-gesa adalah kondisi manusia di mana secara emosional ingin cepat-cepat melakukan sesuatu yang cenderung kurang mempertimbangkan secara matang dengan akal dan pikiran.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 
"Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa." [HR. Bukhari] 

Terasa cukup aneh kinerja DPR yang terkesan tergesa gesa dan super duper ngebut sampai tengah malam pun rapat dan mengetok palu mengesahkan RUU OMNIBUS LAW yang di dalamnya terdapat UU CILAKA (Cipta Lapangan Kerja).

Sebagai informasi, pada awalnya RUU CILAKA ini merupakan RUU yang diusulkan Presiden Jokowi dan merupakan bagian dari RUU Prioritas Tahun 2020 dalam Program Legislasi Nasional (PROLEGNAS) Tahun 2020. Pemerintah pun menyusun 11 klaster khusus pembahasan dalam draf RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja.

Untuk meloloskan Omnibus Law RUU CILAKA ini, anggota dewan terkesan melakukannya secara maraton sampai mereka menambah intensitas rapat lebih padat dan melakukannya secara cepat.

DPR pun memutuskan untuk mempercepat pengesahan RUU yang rencananya tanggal 6 atau tanggal 8 Oktober 2020, kemudian dipangkas menjadi tanggal 5 Oktober 2020. Sebenarnya ada apa dibalik tergesa gesanya DPR mengesahkan Omnibus Law CILAKA? Terkesan terburu buru? seperti ada yang memburu? Dan akhirnya merugikan buruh? 

Rasulullah bersabda, 
"Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan." [HR. Baihaqi]

Sungguh, hari ini kita membutihkan keberadaan politisi sejati sangat dinantikan oleh rakyat. Politisi sejati adalah yang peduli dan berjuang penuh untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan yang lain. Islam memberikan panduan bagaimana menjadi dan membentuk politisi sejati. Di antaranya:

1. Hanya semata-mata berjuang untuk kepentingan umat dan Islam. Harus dipahami bahwa politik sesungguhnya bukanlah melulu kekuasaan. Politik adalah upaya untuk mengurusi segala kebutuhan umat. Konsekuensinya, pertanggung-jawabannya tidak saja kepada orang yang dipimpin, tetapi kepada Allah Swt. Seorang Muslim tidak akan sembarangan mengikrarkan diri sebagai orang yang sanggup memikul amanah politik rakyat.

2. Ideologis. Artinya, semua permasalahan politik dilihat dalam sudut pandang Islam. Bagaimana Islam sebenarnya ’menghukumi’ permaslahan tersebut. Apakah halal atau haram? Jika sudah dinyatakan haram oleh syariah maka tidak bisa 'dimusyawarahkan' lagi. Sesuatu tersebut harus dilarang; sebagaimana kasus liberalisasi dan privatisasi barang tambang dan kepemilikan publik lainnya. Islam memandang bahwa liberalisasi dan privatisasi sektor publik haram untuk dilakukan, sebagaimana sabda Rasulullah saw. (yang artinya): Manusia berserikat terhadap tiga hal, air, padang rumput dan api. Harganya adalah haram. (HR Ahmad).Oleh karenanya, jika ada pihak-pihak yang akan memprivatisasi, termasuk Pemerintah sekalipun, maka harus ditentang habis. Inilah yang disebut dengan ideologis. Semua didasarkan kepada Islam bukan pada ideologi yang lain.

3. Politisi sejati harus menyadari bahwa ia adalah bagian dari umat. Upaya untuk mencapai kehidupan yang makmur dan sejahtera ini harus dipahami sebagai tujuan bersama. Menjadi tugas para politisi untuk menumbuhkan kesadaran itu di dalam diri masyarakat sehingga terbentuk hubungan timbal balik yang nyata dalam bentuk kontrol masyarakat terhadap pemerintah. Politisi sejati haruslah orang yang peka dengan keadaan masyarakatnya sekaligus kapabel dalam bidangnya sehingga ia solutif terhadap persoalan yang terjadi. Hal ini tidak bisa diraih kecuali dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan tsaqafah Islam yang mendalam serta kesediaannya terjun ke masyarakat setiap saat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here