Jalan Politik Amerika Serikat Pasca Pilpres 2020 - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 14, 2020

Jalan Politik Amerika Serikat Pasca Pilpres 2020


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

3 November 2020 nanti AS ada gawe besar berupa pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), seperti biasa diawali dengan acara debat. Kedua capres dan cawapres  saling berhadapan dalam tiga kali debat selama sebelum pilpres berlangsung. Banyak topik diperdebatkan mulai dari rekam jejak, posisi Hakim Agung AS, Covid-19, perekonomian, ras dan kekerasan, dan integritas pemilu, dll.

Hari ini warga negara AS mengharap perubahan dan harapan baru. Siapapun yang terpilih, tentu ini tidak mampu merubah sistem AS secara fundamental dan watak agresor AS. Pertanyaannya, apa yang mestinya umat ini lakukan ketika secara jelas bahwa Amerika memiliki grand strategy untuk memecah-belah umat Islam dan menghancurkan apa saja yang tersisa dari Islam. George Friedman (pendiri Strategic Forecasting, lembaga intel AS dan pengarang buku, The Next 100 Years; A Forecast for the 21st Century, menggambarkan kekuatan AS, "Banyak sekali jawaban terhadap pertanyaan mengapa AS sangat kuat. Jawaban yang paling singkat adalah karena kekuatan militer. AS mendominasi benua (Amerika Selatan) yang sangat berharga untuk invasi dan pendudukan. Semua negara industrialis adidaya pernah merasakan kehancuran akibat perang pada abad ke-20. AS memang terlibat perang, tetapi AS tidak pernah merasakannya di rumahnya sendiri. Kekuatan militer dan lokasi geografis membentuk realitas ekonomi. Ketika negara lain kehilangan waktu untuk bangkit dari kehancuran perang, AS justru berkembang karena adanya perang."

Satu-satunya jalan yang dituntut oleh Islam dan sebagaimana dibuktikan oleh sejarah adalah dengan membentuk kembali Khilafah yang akan membela umat dan mampu memberikan tantangan yang berarti terhadap rencana AS. Sangat tidak mungkin bagi satu negara untuk menantang negeri adidaya seperti AS. Contohnya adalah Jerman dan Jepang. Cepatnya pembangunan Jerman pada awal abad ke-20 terjadi karena pendudukan teritorial yang memerlukan kekuatan militer dan industri. Persaingan kolonial menjadikan Jerman berhadapan melawan Inggris. Pada tahun 1900 Jerman berada dalam posisi kekuatan militer yang setara dengan Inggris. Jerman membangun sendiri armada Angkatan Laut yang modern untuk menghadapi Inggris Jerman mengambil kesempatan dari peristiwan pembunuhan pangeran pewaris imperium Austria-Hungaria oleh Serbia. Jerman menginvasi Prancis, memutus aliansi dengan Rusia, dan mulai menyerang perbatasan timur Rusia. Jerman tidak berhenti dan terus menjajah Eropa dan mulai memasuki Belgia. Ambisi Jerman hanya berakhir seusai Perang Dunia I.

Jepang berusaha untuk menjadi kekuatan imperium pada tahun 1930-an dan menyadari bahwa ini akan memberikan tantangan terhadap AS. Militerisme yang berkembang di Jepang berusaha untuk meluaskan pengaruhnya di dunia dengan penjajahan dan berusaha menguasai Samudera Pasifik dengan angkatan lautnya. Meskipun Jepang hanya terdiri dari berbagai pulau, ia mampu menundukkan negara dengan wilayah yang lebih besar seperti Korea dan Cina. Setelah itu Jepang dengan berani menyerang pangkalan AL AS di Pearl Harbour. Ini dilakukan karena Jepang melihat AS sebagai penghalang terhadap ambisi globalnya.

Karena itu, dalam konteks Dunia Islam, satu-satunya jalan bagi kaum Muslim untuk membela dirinya dan mengembangkan potensi dirinya adalah dengan membangun sistem Islam yang kaffah dan melaksanakan program industrialisasi secara cepat. Hanya dengan memperkuat kekuatan militer dan ekonomi maka dunia Islam mampu berfungsi sebagai pelindung wilayah teritorial Dunia Islam dari ambisi jahat negara manapun.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here