Jangan Merendahkan Ulama' - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Jangan Merendahkan Ulama'


Dede Wahyudin (Tabayyun Center)

Program penceramah bersertifikat yang digulirkan Kementerian Agama (Kemenag) menuai banyak kritik karena program tersebut dianggap berpotensi bisa menjadi alat gebuk penguasa bagi da'i yang berseberangan dengan rezim. Rencana ini telah menimbulkan kegaduhan, kesalahpahaman dan kekhawatiran akan adanya intervensi Pemerintah pada aspek keagamaan yang dalam pelaksanaannya dapat menyulitkan umat Islam dan berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.

Umat tentu berharap posisi ulama' tidak direndahkan. Mereka memiliki kedudukan yang mulia di mata umat. Ulama', jamak dari 'alim adalah orang yang berilmu, dan hamba Allah yang paling takut kepada-Nya. Karena itu, Dr Ahmad al-Qashash, membedakan antara ulama' dengan muta’allimin. Sebab, ulama' bukan hanya orang yang berilmu, tetapi juga orang yang sangat takut kepada Allah SWT. Sedangkan orang yang berilmu, tetapi tidak mempunyai rasa takut kepada-Nya, tidak layak disebut ulama’, melainkan hanya muta’allimin, atau kaum terpelajar. Deskripsi ini didasarkan pada firman Allah SWT yang menyatakan:

إِنَّما يَخشَى اللَّهَ مِن عِبادِهِ العُلَمٰؤُا۟

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama'." (Q.s. Fathir [35]: 28)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Apakah ada maksud lain dari ilmu, kecuali sesuatu yang bisa mengantarkan pada kemakrufan (kebaikan)?" Ummu Darda' berkata kepada seorang pria, "Apakah Anda sudah melaksanakan apa yang Anda telah ketahui?" Dia menjawab, "Tidak." Ummu Salamah berkata, "Lalu, mengapa Anda memperbanyak hujah Allah untuk memberatkan diri Anda sendiri?" Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Allah mengampuni tujuh puluh dosa orang bodoh, sebelum mengampuni satu dosa orang berilmu." ( Ibn al-Jauzi, Shaid al-Khathir, al-Marja' al-Akbar, juz I, hal. 42.)

Semuanya ini menunjukkan kedudukan ilmu dan orang yang berilmu, serta konsekuensi dan tanggungjawab yang melekat pada keilmuan mereka. Di sinilah esensi para ulama'.

Karena itu, Ibn Hazm, dalam kitabnya, al-Akhlaq wa as-Siyar, menegaskan bahwa ilmu mempunyai banyak manfaat dalam meraih kemuliaan:

وهو أنه يعلم حسن الفضائل فيأتيها ولو في الندرة، ويعلم قبح الرذائل فيجتنبها ولو في الندرة، ويسمع الثناء الحسن فيرغب في مثله، والثناء الرديء فينفر منه، فعلى هذه المقدمات يجب أن يكون للعلم حصة في كل فضيلة، وللجهل حصة في كل رذيلة، ولا يأتي الفضائل ممن لم يتعلم العلم إلا صافي الطبع جداً، فاضل التركيب، وهذه منزلة خص بها النبيون عليهم الصلاة والسلام لأن الله تعالى علمهم الخير كله، دون أن يتعلموه من الناس.

Dengan ilmu, dia mengetahui baiknya kemuliaan, kemudian mendatanginya, meski kemuliaan itu sangat langka. Dia mengetahui buruknya kehinaan, kemudian menjauhinya, meski itu sangat langka. Dia mendengar pujian baik, kemudian menginginkan pujian sepertinya, juga celaan yang buruk, kemudian menjauhinya. Berdasarkan proposisi di atas, maka ilmu seharusnya mempunyai kontribusi dalam setiap kemuliaan, sementara kebodohan mempunyai kontribusi dalam setiap kehinaan. Tentu tidak mungkin orang mendatangi kemuliaan, sementara dia tidak mempelajari ilmu, kecuali orang yang tabiaatnya sangat bersih, dengan konstruksi kemuliaan. Ini merupakan kedudukan yang dikhususkan untuk para Nabi 'alaihissalam, karena Allah telah mengajarkan seluruh kebaikan kepada mereka, dan mereka pun tidak perlu mempelajarinya dari manusia. (Ibn Hazm, al-Akhlaq wa as-Siyar, al-Marja' al-Akbar, juz I, hal. 4.)

Dengan demikian, para ulama' dengan keilmuannya yang mumpuni itu merupakan hamba Allah yang memiliki martabat dan kemuliaan. Martabat dan kemuliaan yang pada akhirnya dikenang dan diabadikan dalam sejarah karena sikap dan pendirian mereka. Bukan semata-mata karena kedalaman dan kemumpunian ilmu mereka. Para ulama' terdahulu benar-benar telah memposisikan dirinya sebagai bukan hanya orang yang berilmu, tetapi bagaimana ilmu mereka bisa digunakan untuk mewujudkan kemaslahatan umat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here